Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal yang Bisa Membuat Sistem ADAS Kurang Optimal saat Berkendara
ilustrasi mengemudi mobil (pexels.com/Esmihel Muhammed)
  • Kinerja ADAS dapat menurun saat kamera atau sensor tertutup debu, lumpur, hujan, maupun kotoran, sehingga pengenalan kendaraan, objek, dan marka jalan kurang akurat.
  • Cuaca ekstrem, genangan, pantulan cahaya, serta marka jalan pudar atau tidak tersedia menyulitkan ADAS membaca lingkungan dan menentukan posisi lajur kendaraan.
  • Lalu lintas kompleks dan sensor yang belum dikalibrasi tepat dapat mengurangi akurasi respons ADAS; pengemudi tetap perlu waspada karena teknologi ini bersifat pendukung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sistem Advanced Driver Assistance System (ADAS) hadir untuk membantu pengemudi menghadapi berbagai situasi di jalan, mulai dari menjaga jarak dengan kendaraan lain hingga memberi peringatan ketika ada potensi bahaya. Teknologi ini mengandalkan kombinasi kamera, radar, sensor, serta perangkat lunak untuk membaca kondisi di sekitar kendaraan. Meski semakin canggih, ADAS tetap memiliki batas kemampuan dan gak selalu dapat bekerja secara optimal dalam setiap kondisi berkendara.

Kinerja ADAS sangat bergantung pada kondisi sensor, lingkungan sekitar, sampai cara pengemudi menggunakan fitur tersebut. Gangguan kecil seperti kaca depan yang kotor atau marka jalan yang kurang terlihat dapat memengaruhi kemampuan sistem dalam mengenali situasi. Supaya fitur keselamatan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal dan tetap aman, yuk pahami beberapa hal yang dapat membuat kinerja ADAS kurang optimal saat berkendara.

1. Sensor dan kamera tertutup kotoran

ilustrasi kamera mobil (unsplash.com/wei)

Sensor dan kamera merupakan bagian penting yang membantu ADAS membaca kondisi di sekitar kendaraan. Debu, lumpur, air hujan, atau kotoran yang menempel pada kaca depan dan area sensor dapat menghalangi sistem memperoleh informasi secara akurat. Ketika pandangan perangkat terganggu, kemampuan ADAS dalam mengenali kendaraan, marka jalan, maupun objek di sekitar juga dapat ikut menurun.

Kondisi tersebut mungkin terasa sepele, terutama setelah kendaraan melewati jalan yang berdebu atau hujan deras. Padahal, kamera yang kotor dapat membuat sistem kesulitan membedakan objek dengan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, menjaga kebersihan kaca depan, kamera, dan area sensor menjadi langkah sederhana yang penting agar fitur ADAS tetap bekerja sesuai kemampuannya.

2. Cuaca ekstrem mengganggu pembacaan sistem

ilustrasi mengemudi mobil saat kabut (pexels.com/Vlad R)

Cuaca merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi kemampuan ADAS dalam membaca lingkungan sekitar kendaraan. Hujan sangat deras, kabut tebal, salju, atau cahaya matahari yang terlalu menyilaukan dapat membuat kamera dan sensor mengalami kesulitan. Situasi tersebut dapat mengurangi kualitas informasi yang diterima sistem ketika kendaraan sedang melaju.

Kondisi jalan setelah hujan juga dapat menghadirkan tantangan tambahan karena genangan air dan pantulan cahaya dapat mengubah tampilan lingkungan yang terbaca kamera. Pada situasi tertentu, marka jalan bahkan dapat terlihat kurang jelas sehingga sistem kesulitan menentukan posisi kendaraan. Karena itu, pengemudi tetap perlu memperhatikan kondisi jalan secara langsung dan gak boleh sepenuhnya bergantung pada bantuan ADAS.

3. Marka jalan kurang jelas atau terhapus

ilustrasi marka jalan (pexels.com/Jan van der Wolf)

Sebagian fitur ADAS membutuhkan marka jalan yang terlihat jelas untuk membantu kendaraan mempertahankan posisi di lajurnya. Marka yang sudah pudar, tertutup kotoran, terhalang kendaraan lain, atau gak tersedia sama sekali dapat membuat sistem kesulitan menentukan batas lajur. Kondisi tersebut menjadi semakin menantang ketika kendaraan melewati jalan yang memiliki banyak percabangan atau perubahan arah.

Situasi jalan yang gak teratur juga dapat membuat sistem membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami posisi kendaraan. Pengemudi mungkin merasakan bahwa fitur bantuan lajur bekerja kurang konsisten ketika melewati area dengan marka yang samar. Oleh sebab itu, kemampuan pengemudi untuk membaca jalan secara mandiri tetap menjadi bagian penting meskipun kendaraan sudah dilengkapi teknologi ADAS.

4. Kondisi jalan terlalu kompleks

ilustrasi jalan tol macet (pexels.com/mathijs vc)

Jalan raya gak selalu memiliki pola lalu lintas yang mudah diprediksi oleh sistem bantuan pengemudi. Persimpangan padat, kendaraan yang berpindah lajur secara tiba-tiba, pengendara sepeda motor yang bergerak di sela kendaraan, hingga pejalan kaki yang muncul dari area tertentu dapat menciptakan situasi kompleks. Dalam kondisi seperti ini, ADAS mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses berbagai objek dan menentukan respons yang sesuai.

Kompleksitas lingkungan juga semakin tinggi ketika banyak objek bergerak dalam waktu bersamaan. Sistem harus membedakan kendaraan, pejalan kaki, marka, rambu, dan objek lain berdasarkan data dari berbagai sensor. Karena itu, fitur ADAS sebaiknya dipandang sebagai teknologi pendukung yang membantu pengemudi, bukan sebagai pengganti perhatian dan keputusan manusia saat menghadapi situasi lalu lintas yang rumit.

5. Sensor belum dikalibrasi dengan tepat

ilustrasi dashboard mobil modern (pexels.com/I'm Zion)

Kalibrasi sensor memiliki peran penting agar sistem ADAS dapat membaca lingkungan sesuai dengan posisi dan kondisi kendaraan. Perubahan posisi kamera atau sensor setelah perbaikan kaca depan, benturan, maupun pekerjaan pada bagian kendaraan tertentu dapat memengaruhi akurasi sistem. Jika kalibrasi gak dilakukan dengan tepat, fitur bantuan pengemudi berpotensi memberikan pembacaan yang kurang sesuai.

Masalah kalibrasi terkadang gak langsung terlihat dalam penggunaan sehari-hari sehingga mudah diabaikan. Padahal, perubahan kecil pada posisi sensor dapat memengaruhi cara sistem menentukan jarak, posisi lajur, atau keberadaan objek di depan kendaraan. Karena itu, pemeriksaan dan kalibrasi sesuai prosedur pabrikan penting dilakukan setelah pekerjaan tertentu pada kendaraan, terutama jika berkaitan dengan komponen yang terhubung dengan sensor ADAS.

ADAS memang menawarkan berbagai bantuan yang dapat membuat pengalaman berkendara terasa lebih aman dan nyaman. Namun, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan karena kinerjanya dipengaruhi kondisi sensor, cuaca, marka jalan, lingkungan, serta kalibrasi perangkat. Dengan memahami batas tersebut, pengemudi dapat menggunakan ADAS secara lebih bijak tanpa kehilangan kewaspadaan selama berkendara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAgsa Tian

Related Article