Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Melaju Konstan 80 KPJ vs Terjebak Macet: Mana Lebih Irit Bensin?

Melaju Konstan 80 KPJ vs Terjebak Macet: Mana Lebih Irit Bensin?
ilustrasi pengendara ngebut (Pexels.com/Kaique Rocha)
  • Mobil yang melaju stabil sekitar 80 kpj di jalan lancar umumnya lebih hemat bensin daripada menghadapi kemacetan stop and go.
  • Kemacetan meningkatkan konsumsi BBM karena mobil berulang kali berhenti, berakselerasi dari diam, dan mesin tetap bekerja saat kendaraan tidak bergerak.
  • Kecepatan 80 kpj tidak selalu paling irit; efisiensi juga dipengaruhi rasio gigi, hambatan udara, kondisi ban, beban, AC, jalan, serta gaya berkendara halus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalau menggunakan mobil yang sama, mana yang lebih hemat bensin: melaju konstan 80 kilometer per jam atau terjebak macet? Jawabannya cukup jelas, perjalanan dengan kecepatan konstan umumnya jauh lebih irit dibandingkan kondisi stop and go.

Perbedaannya bukan hanya soal kecepatan. Saat macet, mesin harus berulang kali menggerakkan mobil dari kondisi diam, mempercepat, kemudian mengurangi kecepatan lagi. Siklus tersebut membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih tinggi.

  1. 1. Melaju konstan membuat mesin bekerja stabil

    ilustrasi ngebut (unsplash.com/Gabriella Clare Marino )
    ilustrasi ngebut (unsplash.com/Gabriella Clare Marino )

    Ketika mobil melaju konstan 80 kpj di jalan yang relatif datar dan lancar, mesin dapat bekerja dalam kondisi yang lebih stabil. Pengemudi tidak perlu terus menginjak pedal gas dalam-dalam untuk kembali mendapatkan kecepatan setelah kendaraan berhenti. Energi yang sudah digunakan untuk membuat mobil bergerak juga dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan momentum.

    Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga lebih mudah diprediksi. Selama kecepatan tidak terlalu tinggi dan mobil berada pada rasio gigi yang sesuai, mesin bisa bekerja dengan efisien. Inilah salah satu alasan perjalanan di jalan bebas hambatan sering menghasilkan konsumsi BBM yang lebih baik dibandingkan perjalanan dengan banyak berhenti dan berjalan kembali.

  2. 2. Macet membuat mobil berkali-kali berakselerasi

    ilustrasi macet
    ilustrasi macet (unsplash.com/Bamiwo Adeola)

    Dalam kondisi macet, mobil sering bergerak beberapa meter kemudian berhenti lagi. Ketika kendaraan berhenti, mesin tetap bekerja jika mobil menggunakan transmisi otomatis dan posisi masih dalam kondisi berkendara. Setelah itu, mesin membutuhkan tenaga lagi untuk menggerakkan mobil dari posisi diam.

    Akselerasi berulang menjadi salah satu penyebab konsumsi BBM meningkat. Semakin sering mobil berhenti dan kembali bergerak, semakin banyak energi yang harus dikeluarkan untuk mengatasi inersia kendaraan. Pada kondisi macet parah, konsumsi bahan bakar bahkan bisa menjadi jauh lebih buruk dibandingkan ketika mobil melaju lancar pada kecepatan sedang.

  3. 3. Kecepatan 80 KPJ belum tentu paling irit

    ilustrasi jalan tol (vecteezy.com/khoidir76)
    ilustrasi jalan tol (vecteezy.com/khoidir76)

    Meski melaju konstan lebih hemat daripada macet, bukan berarti 80 kpj selalu menjadi kecepatan paling irit untuk setiap mobil. Hambatan udara meningkat ketika kecepatan bertambah, sehingga mesin membutuhkan tenaga lebih besar untuk mempertahankan laju kendaraan. Karakter mesin, rasio transmisi, bobot mobil, kondisi ban, hingga kontur jalan juga ikut berpengaruh.

    Karena itu, kondisi paling efisien biasanya tercapai ketika mobil melaju dengan kecepatan yang relatif stabil, menggunakan rasio gigi yang sesuai, dan tidak melakukan akselerasi atau pengereman secara berlebihan. Jika jalan memungkinkan, mempertahankan kecepatan secara halus jauh lebih masuk akal daripada terus melakukan stop and go.

    Jadi, jika mobil yang digunakan sama, melaju konstan 80 kpj umumnya lebih irit bensin dibandingkan terjebak macet. Perbedaannya semakin terasa ketika kemacetan membuat mobil harus berhenti dan berakselerasi berulang kali.

    Namun, penghematan tidak hanya ditentukan oleh angka di speedometer. Cara menginjak pedal gas, kondisi lalu lintas, beban kendaraan, tekanan ban, penggunaan AC, serta kondisi jalan juga berpengaruh. Berkendara dengan halus dan menjaga momentum selama kondisi memungkinkan menjadi salah satu cara sederhana untuk mengurangi konsumsi BBM.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More