Kapan Harus Dua Tangan, Kapan Satu Tangan Saat Menyetir?

Dua tangan pada setir dianjurkan saat jalan berkelok, padat, hujan, atau tidak rata agar pengemudi dapat melakukan koreksi arah cepat dan menjaga kendali.
Posisi tangan sekitar pukul sembilan dan tiga memberi kontrol manuver lebih leluasa; satu tangan hanya boleh dilepas sesaat untuk memindahkan transmisi atau mengoperasikan kontrol kendaraan.
Pengemudi perlu mengatur posisi duduk dan jarak setir dengan tepat, menjaga jarak aman, menyesuaikan kecepatan, serta menghindari ponsel, makan, atau aktivitas lain saat mobil bergerak.
Memegang setir menjadi salah satu keterampilan dasar yang harus dikuasai setiap pengemudi mobil. Meski terlihat sederhana, posisi tangan berpengaruh terhadap kemampuan mengendalikan kendaraan, terutama ketika menghadapi tikungan, jalan berlubang, atau situasi darurat di tengah lalu lintas.
Sebagian pengemudi terbiasa menggunakan satu tangan karena merasa lebih santai saat berkendara. Padahal, ada kondisi ketika kedua tangan perlu berada pada setir agar mobil lebih mudah dikendalikan. Memahami kapan tangan harus tetap pada kemudi dan kapan boleh dilepaskan sesaat dapat membantu meningkatkan keselamatan selama perjalanan.
1. Dua tangan wajib siap saat menghadapi situasi sulit

ilustrasi setir mobil (pexels.com/JESHOOTS.com) Menggunakan kedua tangan pada setir sangat dianjurkan ketika melewati jalan berkelok, menghadapi lalu lintas padat, berkendara dalam hujan, atau melaju di jalan yang permukaannya tidak rata. Dalam kondisi tersebut, pengemudi mungkin perlu melakukan koreksi arah dengan cepat dan terukur. Kedua tangan membantu menjaga kendali ketika kendaraan harus menghindari lubang atau menyesuaikan arah secara mendadak.
Posisi tangan sekitar pukul sembilan dan tiga pada setir umumnya memberikan kendali yang baik. Posisi ini memungkinkan pengemudi melakukan manuver dengan leluasa tanpa harus menyilangkan tangan secara berlebihan. Selain itu, kedua tangan yang siap di kemudi membantu pengemudi mempertahankan kontrol ketika terjadi perubahan arah kendaraan akibat permukaan jalan atau gerakan kendaraan lain.
2. Satu tangan hanya digunakan untuk kebutuhan sesaat

ilustrasi setir mobil (unsplash.com/Stephan Mahlke) Dalam situasi tertentu, satu tangan mungkin perlu dilepaskan dari setir, misalnya ketika memindahkan tuas transmisi manual atau mengoperasikan kontrol kendaraan yang memang dirancang untuk digunakan saat berkendara. Meski demikian, tangan yang dilepaskan sebaiknya segera kembali ke kemudi setelah aktivitas tersebut selesai. Pengemudi perlu memastikan bahwa tindakan itu tidak mengganggu kendali kendaraan.
Namun, menggunakan satu tangan dalam waktu lama hanya karena jalan terlihat lengang bukan kebiasaan yang ideal. Kondisi lalu lintas dapat berubah dalam hitungan detik, termasuk ketika kendaraan di depan mengerem mendadak atau pengguna jalan lain masuk ke jalur. Hindari menggunakan tangan untuk memegang ponsel, mengambil barang, makan, atau melakukan aktivitas lain ketika mobil masih bergerak. Jika perlu melakukan kegiatan tersebut, berhentilah di lokasi yang aman.
3. Sesuaikan posisi tangan dengan kondisi berkendara

ilustrasi setir mobil (pexels.com/Valeriia Miller) Selain memperhatikan jumlah tangan yang digunakan, pengemudi perlu memastikan posisi duduk dan jarak terhadap setir sudah tepat. Kursi sebaiknya diatur agar punggung tetap tersangga, pandangan ke jalan jelas, dan siku sedikit menekuk ketika tangan memegang kemudi. Posisi tersebut membantu pengemudi menggerakkan setir tanpa harus meregangkan lengan secara berlebihan.
Pada jalan tol, jalan perkotaan, maupun jalur pegunungan, prinsipnya tetap sama: kedua tangan sebaiknya siap mengendalikan setir, terutama ketika kondisi jalan menuntut konsentrasi tinggi. Pengemudi juga perlu menjaga jarak aman, menyesuaikan kecepatan, dan menghindari gerakan kemudi yang mendadak. Teknik memegang setir yang benar harus disertai perhatian penuh terhadap lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, satu tangan bukanlah pilihan utama untuk mengendalikan mobil. Kedua tangan memberikan kesiapan lebih baik saat menghadapi situasi tak terduga, sedangkan pelepasan satu tangan sebaiknya hanya dilakukan sesaat untuk kebutuhan yang diperlukan. Kebiasaan sederhana ini membantu pengemudi menjaga kendali dan mengurangi risiko selama perjalanan.



















