Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Banyak Orang Mabuk Saat Berkendara di Jalan Berliku-liku?

Kenapa Banyak Orang Mabuk Saat Berkendara di Jalan Berliku-liku?
Ilustrasi tanjakan (Pexels/Kalei Engleman)
Intinya Sih
  • Mabuk saat berkendara di jalan berliku terjadi karena konflik sensorik antara mata dan sistem vestibular telinga, membuat otak salah menafsirkan gerakan tubuh sebagai kondisi darurat.
  • Ketidakseimbangan sensorik memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol yang memperlambat pencernaan serta menimbulkan gejala mual, keringat dingin, dan perubahan detak jantung.
  • Kondisi kabin tertutup, bau menyengat, dan kurangnya udara segar memperparah rasa mual; menjaga pandangan ke arah jalan serta sirkulasi udara membantu mengurangi efek mabuk perjalanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Melintasi jalur pegunungan yang penuh dengan tikungan tajam sering kali menjadi ujian fisik yang berat bagi para penumpang kendaraan. Sensasi pening yang mendalam disertai rasa mual yang hebat muncul secara mendadak, mengubah perjalanan yang seharusnya menyenangkan menjadi pengalaman yang menyiksa.

Fenomena ini bukan disebabkan oleh kelemahan fisik semata, melainkan hasil dari mekanisme pertahanan tubuh yang kompleks dalam merespons ketidakseimbangan informasi sensorik. Memahami alasan medis di balik rasa mual saat berkendara di jalan berliku sangat penting guna menemukan solusi yang tepat agar kenyamanan selama perjalanan tetap terjaga.

1. Konflik sensorik antara mata dan sistem vestibular telinga

Screen Shot 2025-08-29 at 4.51.08 PM.png
ilustrasi tanjakan (unsplash.com/Stephen Cook)

Penyebab utama munculnya rasa mual saat melewati jalan berliku adalah terjadinya konflik informasi di dalam otak yang dikenal sebagai teori konflik sensorik. Di dalam telinga bagian dalam terdapat sistem vestibular yang berfungsi menjaga keseimbangan dan mendeteksi gerakan tubuh. Saat kendaraan menikung ke kiri atau ke kanan, cairan di dalam telinga akan bergerak dan mengirimkan sinyal kepada otak bahwa tubuh sedang berpindah posisi atau mengalami percepatan.

Masalah muncul ketika mata penumpang tidak melihat gerakan yang sama dengan yang dirasakan oleh telinga, misalnya saat sedang membaca buku atau menatap layar ponsel di dalam kabin. Mata mengirimkan sinyal statis bahwa tubuh sedang diam, sementara telinga mengirimkan sinyal dinamis bahwa tubuh sedang bergoyang mengikuti liukan jalan. Perbedaan data yang diterima oleh otak ini menciptakan kebingungan sistem saraf pusat, yang kemudian diinterpretasikan sebagai kondisi darurat atau halusinasi akibat keracunan, sehingga memicu reaksi mual sebagai bentuk detoksifikasi alami.

2. Pelepasan hormon stres dan aktivitas sistem saraf otonom

ilustrasi jendela mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi jendela mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ketidakseimbangan sensorik yang terjadi terus-menerus selama melintasi jalan berliku memicu otak untuk mengaktifkan sistem saraf simpatik. Tubuh menganggap konflik informasi tersebut sebagai ancaman, sehingga melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol ke dalam aliran darah. Hormon-hormon ini secara langsung memengaruhi sistem pencernaan dengan memperlambat gerakan lambung dan meningkatkan ketegangan otot-otot perut, yang akhirnya memperparah sensasi ingin muntah.

Selain itu, sistem saraf otonom juga bereaksi dengan meningkatkan produksi air liur, keringat dingin, dan perubahan detak jantung secara mendadak. Pada beberapa orang yang memiliki sensitivitas tinggi, guncangan lateral atau gaya sentrifugal saat mobil menikung dapat mengganggu saraf vagus yang menghubungkan otak dengan organ dalam. Tekanan fisik akibat tarikan gravitasi yang berubah-ubah arah di jalur berkelok membuat lambung terasa seperti diaduk-aduk, menciptakan ketidaknyamanan yang sulit dihilangkan tanpa menghentikan kendaraan sejenak.

3. Pengaruh fokus pandangan dan sirkulasi udara di dalam kabin

Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)
Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)

Kondisi kabin kendaraan yang tertutup rapat dan minim sirkulasi udara segar juga menjadi faktor pendukung yang memperburuk rasa mual di jalan berliku. Bau menyengat dari pengharum ruangan kimiawi atau sisa uap bensin dapat merangsang pusat muntah di otak saat tubuh sedang mengalami disorientasi sensorik. Kurangnya asupan oksigen yang bersih membuat otak lebih cepat merasa lelah dan sulit untuk menyelaraskan kembali sinyal-sinyal keseimbangan yang kacau akibat tikungan yang bertubi-tubi.

Untuk meminimalisir dampak ini, sangat disarankan bagi penumpang untuk selalu menatap ke arah cakrawala atau jalanan di depan agar mata mendapatkan informasi visual yang seirama dengan gerak kendaraan. Menghindari aktivitas yang memerlukan fokus jarak dekat dan memastikan aliran udara segar masuk ke dalam kabin dapat membantu otak untuk lebih tenang dalam memproses data gerakan. Dengan menjaga sinkronisasi antara pandangan mata dan sensasi tubuh, risiko terjadinya mabuk darat di jalur pegunungan dapat ditekan secara signifikan sehingga perjalanan tetap terasa nyaman hingga sampai ke tujuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More