Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Harga Mobil PHEV Lebih Mahal dari Mobil Listrik?

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)

Ada dua jenis mobil yang saat ini sedang banyak dilirik, yakni mobil listrik murni (EV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Mobil listrik sering dianggap lebih canggih dan lebih ramah lingkungan. Namun anehnnya harga mobil listrik justru sering kali lebih murah dibandingkan harga mobil PHEV.

Contohnya Wuling Darion yang baru dirilis beberapa waktu lalu. Mobil ini hadir dalam dua varian, yakni EV dan PHEV. Varian EV dibanderol Rp399 juta-Rp459 juta. Bandingkan dengan varian PHEV yang dijual dengan harga Rp449 juta-Rp499 juta. Harga mobil PHEV lebih mahal dibandingkan mobil listrik karena beberapa alasan, berikut beberapa di antaranya.

1. Sistem penggerak lebih kompleks

ilustrasi kecanggihan fitur mobil hybrid (unsplash.com/JonasLeupe)
ilustrasi kecanggihan fitur mobil hybrid (unsplash.com/JonasLeupe)

Alasan utama yang membuat harga PHEV melambung adalah fakta bahwa mobil jenis ini menggendong dua sistem penggerak sekaligus di bawah kap mesinnya. Sebuah PHEV memiliki mesin pembakaran internal (ICE) yang lengkap dengan tangki bahan bakar, sistem knalpot, dan transmisi, namun di sisi lain juga memiliki motor listrik serta paket baterai berkapasitas besar.

Biaya produksi otomatis membengkak karena pabrikan harus merancang ruang mesin yang mampu menampung kedua sistem tersebut secara presisi. Sebagai contoh, di pasar global, Mitsubishi Outlander PHEV sering kali memiliki harga yang bersaing ketat atau bahkan lebih mahal daripada mobil listrik murni di kelas yang sama seperti Hyundai IONIQ 5. Hal ini terjadi karena konsumen membayar untuk dua teknologi berbeda dalam satu sasis, yang memberikan fleksibilitas tanpa rasa khawatir akan kehabisan daya di tengah jalan (range anxiety).

2. Kebutuhan sistem manajemen energi dan pendinginan yang rumit

ilustrasi mesin mobil hybrid (auto2000.co.id)
ilustrasi mesin mobil hybrid (auto2000.co.id)

Selain perangkat keras mesin dan motor listrik, PHEV memerlukan sistem manajemen energi yang jauh lebih canggih dibandingkan EV. Komputer pada mobil PHEV harus mampu memutuskan kapan harus menggunakan mode elektrik sepenuhnya, kapan harus mengaktifkan mesin bensin, atau kapan keduanya harus bekerja bersamaan untuk mendapatkan performa maksimal. Integrasi ini membutuhkan pengembangan perangkat lunak dan modul kontrol yang sangat mahal.

Sistem pendinginan pada PHEV juga jauh lebih kompleks karena harus mendinginkan mesin bensin yang panas sekaligus menjaga suhu baterai dan motor listrik agar tetap optimal. Komponen pendinginan ganda ini menambah daftar panjang biaya material dan perakitan. Jika membandingkan Toyota Prius PHEV dengan Toyota bZ4X (EV murni), terlihat bahwa meskipun baterai bZ4X jauh lebih besar, kerumitan mekanis pada Prius PHEV membuat biaya per unitnya tetap berada di level premium karena banyaknya komponen bergerak yang harus dipelihara dan diintegrasikan.

3. Skala ekonomi baterai dan penyederhanaan komponen pada EV

Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)
Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Kendaraan listrik murni atau EV memiliki keuntungan dalam hal penyederhanaan komponen mekanis. EV tidak membutuhkan transmisi bertingkat yang rumit, sistem bahan bakar, atau radiator mesin yang besar, sehingga biaya dapat dialokasikan sepenuhnya untuk pengembangan sel baterai. Seiring dengan meningkatnya produksi baterai secara global, biaya per kilowatt-hour (kWh) terus menurun, yang membuat harga EV menjadi lebih kompetitif dari tahun ke tahun.

Sementara itu, PHEV tetap terjebak dengan biaya tetap dari mesin pembakaran internal yang harganya sudah relatif stabil dan sulit turun lagi. Sebagai gambaran, model mewah seperti Volvo XC90 Recharge (PHEV) dijual dengan harga yang sangat tinggi dibandingkan dengan Volvo EX90 (EV) jika dilihat dari sisi efisiensi komponen. EV murni bisa menawarkan ruang kabin yang lebih luas dan biaya perawatan lebih rendah karena menghilangkan ratusan suku cadang mesin, sedangkan PHEV tetap harus menanggung biaya produksi mesin konvensional ditambah biaya teknologi baterai yang canggih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

[QUIZ] Pilih Vespa Klasik Favoritmu, Kami Bisa Ungkap Karaktermu

26 Jan 2026, 19:15 WIBAutomotive