Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Pengendara Cenderung Menginjak Gas Lebih Dalam Saat Kesal?
Ilustrasi setir mobil yang kurang responsif (freepik.com/diana.grytsku)
  • Saat kesal, respons stres meningkatkan detak jantung dan ketegangan otot, sehingga pengendara lebih reaktif, membuka gas agresif, dan kurang mempertimbangkan konsekuensi.
  • Emosi dapat mengganggu persepsi kecepatan, jarak kendaraan, serta kondisi lalu lintas; jalan lengang pun bisa mendorong laju meningkat tanpa disadari.
  • Akselerasi kerap menjadi pelampiasan frustrasi sesaat, tetapi meningkatkan risiko manuver mendadak dan menyalip paksa; pengendara disarankan mengurangi kecepatan serta menjaga jarak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kalau orang sedang kesal saat mengemudi, tubuhnya jadi tegang dan ingin cepat-cepat pergi. Jadi ia bisa menekan gas lebih dalam atau menyalip. Ia juga mungkin tidak sadar mobilnya sudah cepat. Ini bisa bahaya karena perlu jarak untuk berhenti. Sekarang, kalau kesal, pengendara disuruh pelan-pelan, jaga jarak, dan tenang dulu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Emosi ternyata bisa memengaruhi cara seseorang mengendalikan kendaraan. Saat sedang kesal, pengendara bisa tanpa sadar mengubah gaya berkendara, mulai dari lebih sering menyalip hingga menginjak pedal gas lebih dalam.

Perubahan tersebut bukan sekadar soal ingin tiba lebih cepat. Kondisi emosional dapat memengaruhi konsentrasi, cara mengambil keputusan, sampai kemampuan mengendalikan dorongan sesaat ketika berada di jalan.

1. Emosi membuat tubuh masuk mode reaktif

ilustrasi setir mobil (unsplash.com/Reed Geiger)

Ketika sedang kesal, tubuh dapat mengalami peningkatan respons terhadap stres. Detak jantung dan ketegangan otot bisa meningkat, sementara perhatian lebih mudah tertuju pada hal yang dianggap mengganggu. Dalam kondisi seperti ini, pengendara cenderung bereaksi lebih cepat tanpa banyak mempertimbangkan konsekuensinya.

Pada kendaraan, respons tersebut bisa terlihat dari cara membuka gas yang lebih agresif atau menginjak pedal akselerator lebih dalam. Keinginan untuk segera meninggalkan situasi yang membuat kesal juga dapat membuat kecepatan meningkat tanpa benar-benar disadari. Masalahnya, jalan raya membutuhkan keputusan yang tenang karena perubahan kecil pada kecepatan bisa memengaruhi jarak pengereman.

2. Rasa kesal membuat kecepatan terasa berbeda

Ilustrasi pengemudi sedang mempersiapkan posisi duduk dan setir (freepik.com/freepik)

Emosi juga dapat mengubah persepsi seseorang terhadap lingkungan sekitar. Ketika perhatian tersita oleh rasa kesal, pengendara bisa kurang memperhatikan detail seperti kecepatan kendaraan, jarak dengan kendaraan di depan, atau kondisi lalu lintas di sekitar. Akibatnya, kendaraan dapat melaju lebih cepat dari yang dirasakan.

Situasi ini menjadi semakin berisiko ketika jalan sedang lengang. Ruang yang kosong sering membuat pengendara merasa lebih bebas menambah kecepatan. Padahal, kendaraan tetap membutuhkan jarak untuk berhenti ketika muncul sesuatu secara tiba-tiba, seperti kendaraan berpindah jalur, pejalan kaki menyeberang, atau pengendara lain melakukan pengereman mendadak.

3. Akselerasi bisa menjadi pelampiasan emosi

ilustrasi ngebut (unsplash.com/Gabriella Clare Marino )

Menginjak gas lebih dalam terkadang memberikan sensasi seolah-olah pengendara sedang melepaskan rasa frustrasi. Akselerasi membuat kendaraan bergerak lebih cepat sehingga perhatian sesaat dapat beralih dari sumber kekesalan. Sensasi tersebut bisa membuat tindakan agresif terasa memuaskan dalam waktu singkat.

Namun, melampiaskan emosi melalui gaya berkendara justru dapat memperbesar risiko. Pengendara yang sedang kesal mungkin lebih mudah melakukan manuver mendadak, memaksakan diri menyalip, atau mengambil keputusan tanpa perhitungan matang. Karena itu, ketika emosi mulai naik, langkah paling aman adalah mengurangi kecepatan, menjaga jarak, dan memberi waktu bagi pikiran untuk kembali tenang sebelum melanjutkan perjalanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article