Lebih Hemat BBM Mana, Dekat tapi Macet atau Jauh tapi Lancar?

Rute lebih jauh tetapi lancar cenderung lebih hemat BBM karena kecepatan mobil stabil dan minim berhenti.
Jalan dekat yang macet meningkatkan konsumsi BBM akibat pola stop-and-go, mesin tetap menyala saat berhenti, serta akselerasi berulang.
Efisiensi BBM juga dipengaruhi jenis dan kapasitas mesin, teknik berkendara, kondisi komponen, kualitas BBM, serta penggunaan oli yang tepat.
Berkendara tak hanya mengatur rem, gas, atau menyalakan lampu sein. Namun, kamu juga harus aware terhadap konsumsi BBM. Tiap orang memiliki cara tersendiri agar BBM lebih hemat. Beberapa orang memilih bepergian lewat jalan yang jauh tapi lancar. Di sisi lain, ada yang memilih melewati jalan dekat meski macet.
Lantas, sebenarnya lebih hemat BBM mana, dekat tapi macet atau jauh tapi lancar? Selain itu, apa saja hal yang berpengaruh terhadap konsumsi BBM ketika berada di jalanan? Cari tahu jawaban dan penjelasannya di pembahasan berikut.
Table of Content
1. Kondisi mobil di jalan jauh tapi lancar
Kondisi jalan yang lancar bisa membuat BBM menjadi lebih irit. Meski terdengar tak masuk akal tapi hal ini benar adanya karena jalan yang lancar meski jauh membuat mobil berjalan dengan lebih stabil.
Kecepatannya konstan, tidak sering berhenti, dan akhirnya BBM menjadi semakin irit. Rute jauh yang minim lampu merah juga bisa menjadi pilihan. Sebab, mobil akan jarang berhenti, kecepatan stabil, dan akhirnya BBM menjadi semakin hemat.
Sebagai contoh, jarak 5 kilometer di jalan macet bisa menghabiskan BBM sekitar 0,63 liter. Sementara itu, jarak 8 kilometer di jalan lancar hanya menghabiskan 0,57 liter. Selisih penggunaan BBM-nya memang terlihat tak besar, tapi jika kamu melewati jalan dengan jarak lebih jauh, perbedannya akan terasa.
2. Kondisi mobil saat berkendara di jalan dekat, tapi macet

ilustrasi macet (unsplash.com/Kathy) Kebalikan dari rute jauh, jalan yang dekat, tapi macet justru bisa membuat BBM semakin boros. Hal tersebut dapat terjadi karena mobil akan sering berhenti dan kemudian berjalan lagi. Bisa dibilang mobil sering mengalami stop-and-go. Ketika ada kemacetan mobil dipaksa untuk berhenti. Saat mulai lancar mobil akan berjalan kembali.
Kondisi tersebut membuat mobil tak bisa berjalan di kecepatan yang stabil dan konstan. Kerja mesin juga menjadi kurang efisien karena ketika mobil mulai berjalan dari kondisi berhenti mesin akan menguras BBM dalam jumlah yang cukup banyak. Ketika mobil berhenti dengan kondisi mesin menyala BBM juga akan tetap terkuras. Perpaduan semua hal tersebut akhirnya meningkatkan konsumsi BBM.
Jika mobil hanya terjebak macet sesekali, konsumsi BBM tak akan berbeda jauh dengan jalanan yang lancar. Nah, jika macetnya panjang, terjadi dalam waktu yang lama, dan kamu sering berhenti, selisih konsumsi BBM bisa cukup jauh.
Hal yang sama juga bisa terjadi jika kamu melewati area dengan banyak lampu lalu lintas. Saat melewati lampu lintas (lampu merah) mobil akan berhenti dan terpaksa masuk ke kondisi stop-and-go secara berulang.
3. Faktor lain yang memengaruhi konsumsi BBM
Pemilihan jalan bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi BBM. Jenis mobil, teknik berkendara, dan kondisi mesin juga menjadi faktor yang krusial.
Jika membahas jenis mobil, ada model yang lebih efisien, hemat, dan secara khusus dirancang untuk penggunaan spesifik. Kapasitas mesin juga berpengaruh karena semakin besar kapasitasnya secara umum konsumsi BBM makin boros.
Teknik berkendara juga sangat berpengaruh. Jika kamu berkendara dengan santai dan memacu mobil pada kecepatan yang stabil, BBM bisa makin awet. Sebaliknya, berkendara terlalu cepat, sering berhenti, dan kerap mengerem bisa membuat BBM semakin boros. Penggunaan oli mesin yang salah, pakai BBM berkualitas buruk, dan komponen tak terawat juga menjadi faktor yang membuat bahan bakar semakin boros.
Terjawab sudah pertanyaan lebih hemat BBM mana, dekat tapi macet atau jauh tapi lancar. Nah, setelah mengetahui jawabannya kamu harus berkendara dengan lebih cermat. Jadi, mana pilihanmu?






















