Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Melaju di Jalan Beton Lebih Berisik Dibanding Aspal?

Mengapa Melaju di Jalan Beton Lebih Berisik Dibanding Aspal?
ilustrasi jalan tol (vecteezy.com/khoidir76)
Intinya Sih
  • Kebisingan di jalan beton terjadi karena materialnya padat dan tidak menyerap suara, berbeda dengan aspal yang berpori dan mampu meredam gesekan antara ban dan permukaan jalan.
  • Tekstur grooving pada beton dibuat untuk keamanan agar ban tidak licin, namun pola garis ini justru menimbulkan dengungan konstan akibat benturan berulang antara ban dan permukaan.
  • Sifat pantulan suara dari beton memperkuat kebisingan karena memantulkan kembali suara mesin, angin, serta getaran roda, ditambah efek sambungan antar lempengan yang menghasilkan bunyi ritmis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sensasi berkendara di atas jalan tol sering kali berubah drastis ketika roda kendaraan berpindah dari permukaan aspal menuju lapisan beton. Suara dengungan yang masuk ke dalam kabin tiba-tiba meningkat tajam, menciptakan frekuensi konstan yang terkadang mengganggu kenyamanan indra pendengaran selama perjalanan jarak jauh.

Fenomena ini bukan merupakan indikasi adanya kerusakan pada ban atau mesin, melainkan murni interaksi mekanis antara karet roda dengan tekstur permukaan jalan. Perbedaan material pembentuk jalan menciptakan karakteristik akustik yang unik, yang mana permukaan beton cenderung memantulkan suara daripada menyerapnya sebagaimana yang dilakukan oleh aspal.

1. Perbedaan porositas dan kemampuan penyerapan suara

Ilustrasi jalan tol di Tokyo, Jepang. (unsplash.com/Nopparuj Lamaikul)
Ilustrasi jalan tol di Tokyo, Jepang. (unsplash.com/Nopparuj Lamaikul)

Penyebab utama kebisingan pada jalan beton terletak pada tingkat kerapatan materialnya. Aspal merupakan material yang lebih porus dan memiliki rongga-rongga udara kecil di dalamnya, sehingga mampu bertindak sebagai peredam alami yang menyerap sebagian besar suara hasil gesekan ban. Sebaliknya, beton adalah material yang sangat padat dan kaku (rigid pavement), sehingga tidak memiliki kemampuan untuk meredam gelombang suara.

Saat roda berputar, udara yang terjepit di antara alur ban dan permukaan jalan akan terkompresi. Pada jalan aspal, udara tersebut dapat masuk ke dalam pori-pori jalan sehingga suaranya teredam. Namun pada permukaan beton yang kedap, udara tersebut terperangkap dan meledak keluar dengan cepat, menciptakan suara tepukan udara kecil yang terjadi ribuan kali per detik. Akibatnya, suara yang dihasilkan terpantul kembali ke arah kendaraan dan masuk ke dalam kabin sebagai kebisingan yang nyata.

2. Tekstur permukaan atau grooving untuk aspek keamanan

ilustrasi jalan tol (freepik.com/Asphalt road and forest)
ilustrasi jalan tol (freepik.com/Asphalt road and forest)

Beton pada jalan raya tidak dibuat halus sempurna seperti lantai gedung, melainkan diberi tekstur khusus berupa garis-garis yang disebut grooving atau tining. Tekstur ini sengaja dibuat demi aspek keselamatan guna meningkatkan daya cengkeram ban dan mengalirkan air hujan agar tidak terjadi aquaplaning. Sayangnya, tekstur yang menonjol ini menjadi pemicu utama timbulnya suara dengungan atau getaran frekuensi tinggi saat bersentuhan dengan ban.

Pola garis yang dibuat secara melintang (transverse tining) biasanya menghasilkan suara yang jauh lebih bising dan tajam dibandingkan pola garis searah jalan (longitudinal tining). Setiap kali ban melewati garis-garis tersebut, terjadi benturan kecil secara berulang yang menghasilkan nada suara tertentu. Jika jarak antar garis tekstur dibuat seragam, suara yang dihasilkan bisa menjadi sangat monoton dan melelahkan bagi telinga pengemudi serta penumpang dalam durasi waktu yang lama.

3. Sifat pantulan suara pada struktur perkerasan kaku

ilustrasi jalan tol (freepik.com/freepik)
ilustrasi jalan tol (freepik.com/freepik)

Sifat fisik beton yang keras tidak hanya menghasilkan suara dari gesekan ban, tetapi juga memantulkan suara mesin dan angin kembali ke arah bawah kendaraan. Pada permukaan aspal yang lebih lunak, sebagian energi suara akan terserap ke bawah, namun pada beton, energi tersebut dipantulkan kembali secara efisien. Hal ini menciptakan akumulasi kebisingan yang lebih kompleks karena suara ban bercampur dengan pantulan suara mekanis lainnya.

Selain itu, jalan beton sering kali dibangun dalam bentuk lempengan-lempengan besar yang dipisahkan oleh celah sambungan atau expansion joint. Setiap kali roda melewati sambungan tersebut, akan muncul suara ketukan "deg-deg" yang ritmis. Meskipun teknologi konstruksi modern telah berusaha meminimalisir celah ini, perbedaan ketinggian mikroskopis antar lempengan tetap memberikan kontribusi pada tingkat kebisingan total yang dirasakan di dalam kendaraan dibandingkan saat melaju di atas aspal yang tersambung secara mulus tan

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More