Mobil dual-mode (hybrid) BYD M6 DM di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Berbeda dengan mobil listrik, mobil hybrid menggabungkan mesin bensin dan motor listrik dalam satu sistem penggerak.
Pada hybrid konvensional atau hybrid electric vehicle (HEV), kedua sumber tenaga tersebut bekerja secara bergantian atau bersamaan sesuai kondisi berkendara.
Baterainya juga dapat diisi melalui sistem kendaraan, termasuk pengereman regeneratif, sehingga tidak perlu diisi menggunakan sumber listrik eksternal.
Keunggulan tersebut membuat mobil hybrid cocok bagi pengguna yang menginginkan efisiensi bahan bakar, tetapi belum ingin bergantung pada infrastruktur pengisian daya.
Pengendara tetap dapat mengisi bensin di SPBU dan melanjutkan perjalanan tanpa perlu merencanakan pemberhentian khusus untuk mengisi baterai.
Dalam penggunaan perkotaan, sistem hybrid dapat membantu mengurangi konsumsi bensin, terutama ketika kendaraan menghadapi kondisi lalu lintas yang sering berhenti dan berjalan kembali.
Namun, tingkat efisiensinya tetap bergantung pada model kendaraan, kondisi jalan, gaya berkendara, dan beban kendaraan.
Di sisi lain, mobil hybrid masih membutuhkan perawatan mesin pembakaran internal, termasuk penggantian oli dan pemeriksaan komponen terkait.
Artinya, meskipun konsumsi bensinnya bisa lebih hemat dibandingkan mobil konvensional, biaya operasionalnya tetap perlu dihitung secara menyeluruh.