Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mobil Kehilangan Traksi, Ini 3 Risiko Yang Bisa Terjadi di Jalan

3 min read
Mobil Kehilangan Traksi, Ini 3 Risiko Yang Bisa Terjadi di Jalan
ilustrasi mobil di jalan tikungan (pexels.com/Jaxon Matthew Willis)
  • Traksi ban menentukan kemampuan mobil berakselerasi, mengerem, dan berbelok; cengkeraman dapat berkurang di jalan basah, berlumpur, berpasir, atau saat manuver mendadak.
  • Saat ban selip, tenaga mesin tidak tersalurkan efektif sehingga mobil sulit maju. Kehilangan cengkeraman saat menikung dapat memicu understeer atau oversteer dan membuat kendaraan menyimpang.
  • Jalan licin memperpanjang jarak pengereman serta meningkatkan risiko kecelakaan. Pengemudi perlu mengurangi gas bertahap, mengarahkan setir halus, memakai rem stabil, dan menjaga ban, kecepatan, serta jarak aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Traksi merupakan kemampuan ban mencengkeram permukaan jalan saat mobil berakselerasi, mengerem, atau berbelok. Ketika traksi berkurang, ban tidak lagi mampu menyalurkan gaya secara optimal sehingga mobil berisiko kehilangan kendali. Kondisi ini bisa terjadi di jalan basah, berlumpur, berpasir, atau ketika pengemudi melakukan manuver secara mendadak.

Kehilangan traksi bukan sekadar membuat ban berputar tanpa menghasilkan dorongan. Dalam situasi tertentu, mobil bisa meluncur, sulit berbelok, bahkan bergerak ke arah yang tidak diinginkan pengemudi. Memahami apa yang terjadi ketika traksi hilang penting agar pengemudi bisa mengenali risikonya dan mengambil tindakan yang tepat.

  1. 1. Ban selip dan mobil kehilangan kemampuan berakselerasi

    ilustrasi menyetir mobil di tikungan (freepik.com/azerbaijan_stockers)
    ilustrasi menyetir mobil di tikungan (freepik.com/azerbaijan_stockers)

    Salah satu tanda kehilangan traksi adalah ban berputar lebih cepat daripada kemampuan mobil untuk bergerak maju. Kondisi ini sering terjadi ketika pengemudi menginjak pedal gas terlalu dalam di permukaan licin. Putaran roda meningkat, tetapi tenaga mesin tidak tersalurkan secara efektif ke jalan. Akibatnya, mobil justru sulit bergerak meskipun mesin terdengar bekerja keras.

    Kejadian serupa dapat dialami mobil saat melewati tanjakan berpasir atau jalan berlumpur. Jika roda penggerak terus berputar, ban bisa menggali permukaan tanah dan membuat kendaraan semakin sulit keluar. Sistem kontrol traksi atau traction control dapat membantu mengurangi putaran roda yang berlebihan dengan membatasi tenaga mesin atau mengerem roda tertentu. Namun, sistem ini tetap memiliki batas kemampuan dan tidak dapat menggantikan cengkeraman ban yang memadai.

  2. 2. Mobil sulit berbelok atau bergerak ke arah lain

    Ilustrasi setir mobil yang kurang responsif
    Ilustrasi setir mobil yang kurang responsif (freepik.com/diana.grytsku)

    Kehilangan traksi juga bisa terjadi ketika mobil sedang berbelok. Jika ban depan kehilangan cengkeraman, mobil dapat mengalami understeer, yaitu kendaraan cenderung bergerak lebih lurus daripada arah belokan yang diinginkan. Pengemudi mungkin sudah memutar setir, tetapi mobil tidak mengikuti jalur tikungan sebagaimana mestinya. Kondisi ini berisiko membuat kendaraan melebar ke jalur lain atau keluar dari jalan.

    Sebaliknya, jika ban belakang kehilangan cengkeraman, mobil dapat mengalami oversteer. Bagian belakang kendaraan bergerak menyamping sehingga mobil berpotensi berputar. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh pengereman mendadak, akselerasi berlebihan, atau perubahan arah secara agresif di jalan licin. Sistem kontrol stabilitas elektronik atau electronic stability control (ESC) membantu mengoreksi arah kendaraan melalui pengereman roda tertentu dan pengaturan tenaga mesin, selama batas fisik ban belum terlampaui.

  3. 3. Jarak pengereman bertambah dan risiko kecelakaan meningkat

    ilustrasi pengendara ngebut (Pexels.com/Kaique Rocha)
    ilustrasi pengendara ngebut (Pexels.com/Kaique Rocha)

    Traksi juga berperan penting ketika mobil mengerem. Ban membutuhkan cengkeraman agar gaya pengereman dapat memperlambat kendaraan. Ketika permukaan jalan licin, kemampuan ban menyalurkan gaya pengereman berkurang sehingga jarak berhenti bisa menjadi lebih panjang. Risiko meningkat jika pengemudi melaju terlalu cepat atau menjaga jarak terlalu dekat dengan kendaraan di depan.

    Jika mobil mulai kehilangan traksi, pengemudi sebaiknya tidak panik atau melakukan gerakan setir secara kasar. Kurangi tekanan pedal gas secara bertahap dan arahkan setir dengan halus ke jalur yang aman. Jika mobil dilengkapi ABS, tekan pedal rem dengan kuat dan stabil ketika diperlukan pengereman darurat. Jangan mengandalkan teknologi semata. Ban yang layak, kecepatan sesuai kondisi jalan, serta jarak aman tetap menjadi kunci untuk mengurangi risiko kehilangan kendali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More