Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pajak Avanza di Indonesia, Malaysia, dan Thailand: Kok Bisa Beda?
Toyota Avanza (toyota.astra.co.id)
  • Pajak tahunan Avanza di Indonesia dapat mencapai Rp5–6 juta karena dihitung dari NJKB, tarif progresif, opsen PKB dan BBNKB, serta SWDKLLJ.

  • Di Malaysia, pajak tahunan mobil sekelas Avanza sekitar RM500 atau Rp2,1 juta, tanpa pajak progresif bagi pemilik kendaraan kedua dan seterusnya.

  • Thailand menghitung pajak berdasarkan kapasitas mesin dan emisi; Avanza 1,3–1,5 liter sekitar Rp150 ribu per tahun, didukung pajak impor serta bea masuk lebih rendah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pajak Avanza di Indonesia, Malaysia, dan Thailand adalah topik yang sering bikin geleng-geleng kepala, apalagi buat kamu yang suka bandingin harga mobil dengan negara tetangga.

Pernah gak sih kamu mikir, kenapa punya mobil di Indonesia rasanya kok jauh lebih "berat" di ongkos tahunan dibanding di Malaysia atau Thailand? Padahal, mobilnya sama-sama Avanza, lho!

Faktanya, perbedaan beban pajak ini bisa mencapai 3 sampai 5 kali lipat. Gak heran kalau banyak yang bertanya-tanya, "Emangnya ada apa sih sama sistem pajak kita?" Tenang, kali ini kita bakal bahas tuntas perbandingannya! Yuk mari kita ulas!

1. Indonesia, pajaknya berlapis dan ada progresifnya!

Toyota New Avanza. (IDN Times/Dwi Agustiar)

Di Indonesia, pajak tahunan kendaraan dihitung berdasarkan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) dengan tarif dasar sekitar 2% sampai 2,5%. Tapi tunggu dulu, ini baru permulaan!

Kalau kamu punya mobil kedua, ketiga, dan seterusnya, siap-siap kena pajak progresif yang tarifnya naik terus. Ditambah lagi, mulai Januari 2025 ada kebijakan baru berupa opsen PKB dan BBNKB, yaitu tambahan pungutan untuk pemerintah daerah.

Belum lagi biaya wajib lain seperti SWDKLLJ (Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan) yang juga nambah beban. Makanya, gak heran kalau pajak tahunan Avanza di Indonesia bisa tembus Rp5–6 juta per tahun. Lumayan buat beli beras setahun, kan?

2. Malaysia, pajaknya lebih "ramah" di kantong

Penampakan Toyota All New Avanza yang resmi diluncurkan tahun 2021 ini. (dok. Toyota Astra Motor)

Nah, sekarang kita lirik tetangga kita, Malaysia. Di sana, sistem perpajakan kendaraan jauh lebih ringan dan bersahabat. Buat mobil sekelas Avanza, pajak tahunannya cuma sekitar RM500, atau kalau dirupiahkan kira-kira Rp 2,1 juta aja!

Yang bikin iri, di Malaysia gak ada pajak progresif yang bikin pemilik mobil kedua dan seterusnya harus bayar lebih mahal. Jadi, beban tahunan buat punya kendaraan di sana terasa jauh lebih masuk akal buat masyarakat kelas menengah.

3. Thailand, hitungannya berdasarkan emisi, bukan harga mobil!

Toyota Avanza Veloz (toyota.astra.co.id)

Thailand punya pendekatan yang unik. Pajak kendaraan di sana dihitung berdasarkan kapasitas mesin (cc) dan tingkat emisi, bukan berdasarkan harga jual mobil.

Hasilnya? Buat mobil sekelas sedan 1.500cc aja, pajak tahunannya cuma sekitar Rp1,2 juta. Untuk mobil 1,3–1,5 liter seperti Toyota Avanza, pajak tahunannya berada di kisaran Rp150 ribu. Bahkan, harga beli mobil di Thailand juga lebih murah karena pajak impor dan bea masuknya lebih rendah dibanding Indonesia. Wajar kalau jalanan Bangkok ramai banget sama mobil pribadi!

4. Kenapa bisa beda jauh? Ini akar masalahnya!

ilustrasi STNK motor (suzuki.co.id)

Perbedaan ini bukan kebetulan ya. Struktur pajak di Indonesia memang dirancang untuk jadi salah satu sumber pendapatan utama daerah. Ditambah lagi, industri otomotif kita punya banyak lapisan pajak: PPnBM, pajak progresif, pajak tahunan, sampai bea balik nama.

Di sisi lain, Malaysia dan Thailand punya strategi berbeda. Mereka lebih fokus pada industri otomotif sebagai motor pertumbuhan ekonomi, jadi pajak dibuat lebih ringan biar masyarakat makin mudah punya mobil. Dampaknya? Perputaran ekonomi di sektor otomotif mereka jauh lebih hidup.

5. Dampaknya buat kita sebagai masyarakat

Suasana pembayaran pajak kendaraan di Samsat III Semarang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Beban pajak yang tinggi ini akhirnya berdampak langsung ke kita. Banyak masyarakat yang akhirnya:

  • Menunda perpanjangan STNK karena gak sanggup bayar

  • Beralih ke kendaraan bekas yang pajaknya lebih murah

  • Atau malah memilih transportasi umum karena punya mobil terasa terlalu "mahal"

Padahal, kendaraan pribadi di banyak daerah masih jadi kebutuhan utama, bukan sekadar gaya hidup.

Nah, sekarang kamu sudah punya gambaran jelas kan soal pajak Avanza di Indonesia, Malaysia, dan Thailand? Fakta ini memang agak miris, tapi penting buat kita tahu biar makin melek soal kebijakan publik.

Struktur pajak kendaraan di Indonesia sebenarnya perlu terus dikaji ulang, supaya lebih berkeadilan dan gak terlalu membebani masyarakat. Pajak seharusnya gak cuma jadi alat pemasukan daerah, tapi juga mendukung mobilitas dan kesejahteraan rakyat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article