Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pangkalan Militer AS di Jepang Larang Mobil BYD Masuk ke Wilayahnya
ilustrasi BYD ATTO 1 (byd.com)
  • Pangkalan Udara Kadena di Okinawa melarang seluruh kendaraan BYD masuk mulai Senin, termasuk mobil pribadi, taksi, kendaraan kontraktor, dan pengiriman.
  • Pihak pangkalan menilai kamera serta sensor kendaraan modern berisiko merekam atau mengirim data sensitif, meski alasan teknis dan ancaman spesifik BYD tidak dirinci.
  • Kekhawatiran data kendaraan pintar juga pernah memicu pembatasan Tesla di China; larangan tersebut dicabut pada 2024 setelah pemenuhan persyaratan keamanan data.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pangkalan Udara Kadena di Okinawa, Jepang, sekarang melarang semua mobil BYD masuk. Tentara Amerika khawatir kamera dan sensor di mobil bisa merekam tempat penting. Mobil pribadi, taksi, dan mobil pengantar juga ditolak. Mereka belum bilang bahaya apa yang benar-benar terjadi. Sampai sekarang, mobil BYD tetap tidak boleh masuk pangkalan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kendaraan listrik BYD menghadapi pembatasan baru di Jepang setelah militer Amerika Serikat melarang mobil merek China tersebut memasuki Pangkalan Udara Kadena di Okinawa. Kebijakan ini diterapkan karena kendaraan modern dilengkapi kamera dan sensor yang dikhawatirkan dapat menimbulkan risiko keamanan di lingkungan militer.

Mengutip laporan Carscoops, larangan tersebut mencakup berbagai jenis kendaraan BYD, mulai dari mobil pribadi hingga taksi dan kendaraan pengiriman. Kebijakan ini menambah daftar tantangan yang dihadapi produsen mobil China di tengah meningkatnya kekhawatiran sejumlah negara terhadap keamanan data kendaraan pintar.

1. Semua kendaraan BYD ditolak masuk pangkalan Kadena

BYD Atto 1 (byd.com)

Pangkalan Udara Kadena terletak di Okinawa, Jepang, sekitar 1.609 kilometer di barat daya Tokyo. Berdasarkan laporan tersebut, mulai Senin, kendaraan BYD tidak lagi diperbolehkan memasuki kawasan pangkalan. Petugas keamanan telah diperintahkan menolak kendaraan yang menggunakan merek tersebut, termasuk mobil milik kontraktor, taksi, dan kendaraan pengiriman barang.

Letnan kolonel Alli Stormer dari Pangkalan Udara Kadena menyatakan bahwa kendaraan tersebut menghadirkan risiko yang tidak dapat diterima oleh pihak pangkalan. Ia juga menilai risiko itu tidak dapat dimitigasi oleh personel maupun misi militer yang dijalankan. Meski demikian, Stormer tidak memerinci alasan teknis yang mendasari keputusan tersebut. Hingga laporan itu diterbitkan, belum ada penjelasan terperinci mengenai potensi ancaman dari masing-masing jenis kendaraan BYD.

2. Kamera dan sensor mobil pintar menjadi perhatian

BYD Atto 1 (byd.com)

Salah satu kekhawatiran yang muncul berkaitan dengan kamera dan sensor pada mobil modern. Perangkat tersebut berfungsi membantu pengemudi, merekam kondisi sekitar, serta mendukung berbagai fitur keselamatan dan bantuan berkendara. Namun, ketika kendaraan memasuki kawasan militer, kemampuan mengumpulkan data lingkungan berpotensi menimbulkan persoalan keamanan apabila informasi sensitif terekam atau dikirim ke pihak lain.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa BYD sebelumnya telah masuk dalam daftar perusahaan yang menurut Pentagon mendukung militer China. Di Amerika Serikat, produsen kendaraan asal China juga menghadapi tarif tinggi dan berbagai upaya pembatasan. Sejumlah anggota parlemen bahkan mendorong undang-undang untuk mempermanenkan larangan pemasaran kendaraan China. Meski demikian, kekhawatiran keamanan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kendaraan BYD telah digunakan untuk melakukan kegiatan mata-mata.

3. Pembatasan kendaraan pintar juga pernah terjadi di China

BYD Atto 1 Premium (byd.com)

Kekhawatiran terhadap pengumpulan data oleh kendaraan modern bukan hanya muncul di Amerika Serikat. China sebelumnya juga pernah membatasi akses mobil Tesla ke sejumlah lokasi pemerintahan dan fasilitas sensitif pada 2021. Kebijakan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran mengenai kemampuan kamera kendaraan merekam lingkungan sekitar dan potensi pengelolaan data.

Menurut laporan yang dikutip ANTARA, pembatasan terhadap Tesla itu dicabut pada 2024 setelah kendaraan yang diproduksi di China dinilai memenuhi persyaratan keamanan data setempat. Kasus tersebut memperlihatkan bahwa teknologi kendaraan pintar kini tidak hanya dinilai dari performa, keselamatan, dan efisiensi, tetapi juga dari cara data dikumpulkan serta dikelola.

Larangan terhadap BYD di Pangkalan Udara Kadena menunjukkan bahwa keamanan digital semakin berpengaruh terhadap industri otomotif global. Bagi produsen mobil listrik, tantangannya bukan sekadar menjual kendaraan dengan harga kompetitif, melainkan juga membangun kepercayaan pemerintah dan konsumen terhadap perlindungan data. Namun, kebijakan di setiap negara dapat berbeda sesuai penilaian risiko dan aturan keamanan yang berlaku.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article