Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Strategi Baru Stellantis: Rela Rugi Ratusan Triliun demi Konsumen

Strategi Baru Stellantis: Rela Rugi Ratusan Triliun demi Konsumen
Ilustrasi mobil listrik (stellantis.com)
Intinya Sih
  • Stellantis mencatat kerugian bersih 22,3 miliar Euro pada 2025 akibat perubahan strategi besar yang menyeimbangkan fokus antara kendaraan listrik, hibrida, dan mesin pembakaran internal.
  • Meski rugi besar, saham Stellantis naik enam persen karena pengiriman kendaraan meningkat hingga 2,8 juta unit, terutama didorong pertumbuhan kuat di pasar Amerika Utara.
  • Pada 2026, Stellantis berencana menghidupkan kembali model ikonik seperti Jeep Cherokee dan Dodge Charger dengan opsi teknologi fleksibel untuk menarik kembali minat konsumen global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Raksasa otomotif multinasional, Stellantis, baru saja merilis laporan keuangan tahun penuh 2025 yang mengejutkan pasar global. Perusahaan hasil merger FCA dan PSA ini terpaksa mencatatkan rapor merah akibat pergeseran strategi besar-besaran yang menjauh dari pengembangan produk listrik murni secara eksklusif.

Langkah berani ini diambil untuk menempatkan kembali preferensi pelanggan dan kebebasan memilih teknologi sebagai inti dari rencana masa depan perusahaan. Meskipun harus menelan kerugian hingga ratusan triliun rupiah, Stellantis meyakini bahwa penyesuaian strategi elektrifikasi ini adalah fondasi penting untuk pertumbuhan yang lebih sehat.

1. Dampak finansial akibat pergeseran visi elektrifikasi

Ilustrasi mobil jeep listrik (stellantis.com)
Ilustrasi mobil jeep listrik (stellantis.com)

Sepanjang tahun kalender 2025, Stellantis melaporkan pendapatan bersih sebesar 153,5 miliar Euro atau setara dengan Rp3 kuadriliun. Angka ini menunjukkan penurunan tipis sebesar dua persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya. Namun, sorotan utama tertuju pada kerugian bersih sebesar 22,3 miliar Euro (sekitar Rp442,1 triliun) yang harus ditanggung perusahaan sebagai dampak dari biaya tidak biasa.

Kerugian fantastis tersebut muncul dari penghapusan nilai aset atau writedown sebesar 25,4 miliar Euro saat perusahaan melakukan pengaturan ulang strategi produk listriknya. CEO Stellantis, Antonio Filosa, mengakui bahwa hasil ini merupakan konsekuensi dari perkiraan yang terlalu berlebihan terhadap laju transisi energi global. Stellantis kini lebih memilih untuk mengakomodasi berbagai teknologi, mulai dari mesin pembakaran internal (ICE), hibrida, hingga listrik, sesuai dengan permintaan riil di pasar.

2. Tren global dan respons pasar terhadap portofolio baru

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)

Fenomena yang dialami Stellantis ternyata tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan cerminan dari melunaknya target emisi di Amerika Serikat dan menurunnya permintaan mobil listrik (EV) di berbagai pasar internasional. Kondisi ini memaksa merek besar lainnya seperti Ford, Mercedes-Benz, dan Volkswagen untuk turut merombak portofolio kendaraan masa depan mereka agar tetap relevan dengan daya beli dan kebutuhan fungsional masyarakat.

Menariknya, meskipun mencatat kerugian besar, saham Stellantis justru melonjak enam persen di Bursa Saham New York. Hal ini dipicu oleh kinerja pengiriman kendaraan yang menguat pada paruh kedua tahun 2025 dengan total 2,8 juta unit yang dikirim ke pelanggan. Amerika Utara menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan pengiriman mencapai 39 persen, membuktikan bahwa strategi penyesuaian produk mulai membuahkan hasil positif di mata investor dan konsumen.

3. Optimisme pertumbuhan dan kembalinya model ikonik di 2026

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/HRK Gallery)
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/HRK Gallery)

Memasuki tahun 2026, Stellantis memfokuskan kekuatannya untuk menutup celah eksekusi masa lalu dan kembali ke jalur pertumbuhan yang menguntungkan. Salah satu strategi utamanya adalah menghidupkan kembali model-model ikonik yang sempat hilang atau mengubah spesifikasinya demi memenuhi keinginan pasar. Contoh nyata adalah kembalinya Jeep Cherokee generasi terbaru dengan sistem hibrida penuh setelah sempat hiatus selama tiga tahun.

Selain itu, Dodge Charger yang awalnya diluncurkan sebagai kendaraan listrik kini akan mendapatkan versi bensin "Six-Pack". Di segmen komersial, kembalinya mesin V8 pada RAM 1500 dan peluncuran pikap Dodge Dakota diharapkan menjadi pendongkrak pendapatan di wilayah Amerika. Dengan menawarkan fleksibilitas teknologi—termasuk versi mild-hybrid untuk Fiat 500 yang sebelumnya hanya tersedia dalam varian listrik—Stellantis optimistis dapat memenangkan kembali hati pelanggan secara menyeluruh pada tahun mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More