Xiaomi SU7 Ultra (mi.com)
Pengembangan chip sendiri juga berkaitan dengan strategi pengendalian biaya. Xiaomi berupaya menguasai rantai teknologi mulai dari chip, domain controller, hingga perangkat lunak Board Support Package atau BSP.
Dengan mengendalikan lebih banyak bagian dalam sistem, Xiaomi berpotensi mengurangi ketergantungan pada pemasok serta memangkas biaya tambahan dari pihak ketiga. Jika volume produksi terus meningkat, biaya komponen atau bill of materials juga berpeluang menjadi lebih rendah.
Namun, strategi membuat chip sendiri membutuhkan modal yang sangat besar. Pengembangan semikonduktor dapat menghabiskan investasi hingga miliaran yuan dan membutuhkan ribuan tenaga ahli. Karena itu, tidak semua produsen mobil mampu mengikuti langkah Xiaomi, BYD, Nio, Xpeng, atau Li Auto.
Banyak produsen lain kemungkinan masih akan mengandalkan chip komersial dan model AI sumber terbuka karena lebih masuk akal secara ekonomi. Di sisi lain, produsen dengan volume penjualan tinggi memiliki peluang lebih besar untuk menutup biaya investasi melalui produksi massal.
Saat ini Xiaomi belum mengumumkan model pertama yang akan menggunakan Xring D100. Ada kemungkinan chip tersebut baru diterapkan pada pembaruan YU7 generasi berikutnya. Namun, keputusan tersebut masih menunggu pengumuman resmi dari perusahaan.
Langkah Xiaomi ini memperlihatkan bahwa persaingan mobil listrik China kini tidak lagi hanya soal baterai, motor listrik, atau desain kendaraan. Penguasaan chip dan kecerdasan buatan mulai menjadi bagian penting dalam pertarungan teknologi otomotif masa depan.