Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Alasan Jaket Terlalu Tebal Justru Memicu Kantuk Saat Touring Motor

Alasan Jaket Terlalu Tebal Justru Memicu Kantuk Saat Touring Motor
ilustrasi touring motor (pexels.com/Efrem Efrem)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Jaket terlalu tebal dapat memerangkap panas tubuh, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi pasokan oksigen ke otak sehingga memicu rasa kantuk saat berkendara.
  • Kenyamanan berlebih dari jaket tebal membuat otak melepaskan hormon melatonin yang menyebabkan kantuk dan menurunkan fokus pengendara di jalan.
  • Solusi aman adalah memakai sistem pakaian berlapis dengan jaket luar berventilasi agar suhu tubuh tetap stabil dan sirkulasi udara terjaga selama perjalanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Memakai jaket yang tebal sering kali menjadi pilihan utama saat harus berkendara menembus udara dingin malam hari atau wilayah pegunungan. Harapannya, pakaian penahan angin tersebut dapat melindungi tubuh secara maksimal dari risiko masuk angin dan menjaga suhu badan tetap hangat. Namun, banyak pengendara yang tidak menyadari bahwa pemilihan jenis pakaian ini memiliki efek samping yang tidak terduga.

Alih-alih menjaga tubuh tetap bugar dan fokus, penggunaan jaket yang terlalu tebal justru bisa menjadi pemicu utama datangnya rasa kantuk yang luar biasa. Fenomena ini berkaitan erat dengan cara tubuh manusia merespons perubahan suhu ekstrem yang terjadi di balik lapisan kain. Memahami dampak fisiologis ini sangat penting demi menjaga keselamatan dan kewaspadaan selama menempuh perjalanan jauh.

1. Efek kantuk akibat peningkatan suhu tubuh yang ekstrem

ilustrasi touring motor
ilustrasi touring motor (freepik.com/bublikhaus)

Saat tubuh dibungkus oleh jaket yang sangat tebal, sirkulasi udara di dalam pakaian akan terhenti dan menciptakan perangkap panas bumi mikro. Suhu tubuh yang meningkat secara drastis ini akan merangsang otak untuk mengaktifkan mekanisme pendinginan alami. Salah satu cara yang dilakukan oleh tubuh adalah dengan memperlebar pembuluh darah di seluruh permukaan kulit agar panas bisa keluar.

Pelebaran pembuluh darah ini menyebabkan tekanan darah mengalami penurunan secara perlahan namun pasti. Akibatnya, aliran darah dan pasokan oksigen yang menuju ke otak menjadi berkurang karena sebagian besar dialihkan ke area kulit. Penurunan pasokan oksigen ke otak inilah yang secara langsung memicu timbulnya rasa lelah, hilangnya konsentrasi, serta rasa kantuk yang berat.

2. Pelepasan hormon tidur akibat kenyamanan yang berlebihan

ilustrasi touring motor (pexels.com/Yogendra Singh)
ilustrasi touring motor (pexels.com/Yogendra Singh)

Pakaian yang terlalu tebal dan empuk memberikan sensasi kenyamanan fisik yang sangat mirip dengan kondisi saat berada di dalam tempat tidur. Otak manusia sangat sensitif terhadap stimulus kenyamanan lingkungan yang stabil dan hangat seperti ini. Ketika tubuh merasa sangat nyaman, otak secara otomatis akan menghentikan produksi hormon kortisol yang berfungsi menjaga manusia tetap terjaga.

Sebagai gantinya, sistem saraf pusat akan memicu pelepasan hormon melatonin yang bertanggung jawab untuk mengatur siklus tidur. Kehadiran hormon tidur ini di tengah aktivitas berkendara tentu sangat berbahaya karena menurunkan tingkat kewaspadaan secara drastis. Pengendara akan kesulitan mempertahankan fokus mata dan rentan mengalami fenomena tidur sesaat atau microsleep di atas kendaraan.

3. Solusi memilih jaket yang ideal untuk perjalanan jauh

ilustrasi touring motor (pexels.com/Blaz Erzetic)
ilustrasi touring motor (pexels.com/Blaz Erzetic)

Demi menghindari bahaya kantuk akibat salah kostum, pemilihan jenis jaket harus dilakukan dengan lebih bijak dan terencana. Dibandingkan menggunakan satu jaket yang sangat tebal, metode berpakaian berlapis atau layering system jauh lebih direkomendasikan. Metode ini memadukan kaus dalam yang menyerap keringat, pakaian hangat tipis, dan jaket luar yang memiliki fitur tahan angin.

Keunggulan dari sistem berlapis ini adalah kemudahan dalam mengatur regulasi suhu tubuh sesuai dengan kondisi cuaca di jalanan. Jika udara mulai terasa terlalu gerah di dalam pakaian, lapisan tengah bisa dilepas untuk mengembalikan kesegaran tubuh. Memilih jaket luar yang dilengkapi dengan ventilasi udara yang bisa dibuka tutup juga sangat membantu menjaga sirkulasi oksigen tetap lancar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More