Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Asap Karhutla Ancam Pengendara, Amankah Perlindungan Helm Fullface?
Ilustrasi wanita memakai helm (freepik.com/freepik)
  • Helm full face melindungi kepala dan wajah dari benturan, tetapi tidak dirancang menyaring PM2,5 maupun gas berbahaya dalam asap karhutla.
  • Celah visor, ventilasi, dan bagian bawah helm tetap memungkinkan udara tercemar masuk; paparan lebih lama dapat memicu gangguan pernapasan serta memperburuk kondisi paru-paru atau jantung.
  • Pengendara disarankan menunda perjalanan tidak mendesak, memantau kualitas udara, memilih rute aman, dan memakai N95 rapat bila harus berkendara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Asap kebakaran hutan bisa masuk ke helm full face saat orang naik motor. Helm melindungi kepala dan wajah, tapi tidak bisa menyaring asap kecil yang masuk ke paru-paru. Asap bisa bikin batuk dan sesak. Kalau udara kotor, sebaiknya jangan pergi dulu. Kalau harus pergi, pakai masker N95 yang pas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa menyebar hingga ke wilayah yang jauh dari sumber kebakaran. Bagi pengendara motor, kondisi ini patut diwaspadai karena paparan asap selama perjalanan dapat mengganggu saluran pernapasan. Meski sudah memakai helm full face dengan visor tertutup, bukan berarti tubuh sepenuhnya terlindungi dari polusi udara.

Helm full face memang dirancang untuk melindungi kepala dan wajah dari benturan, tetapi bukan untuk menyaring partikel halus maupun gas berbahaya. Asap karhutla mengandung PM2,5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup. Lantas, mengapa helm full face tidak cukup melindungi biker dari paparan asap karhutla?

1. Desain helm bukan untuk menyaring partikel asap

ilustrasi helm (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Helm full face memiliki cangkang keras, busa pelindung, dan visor yang menutupi sebagian besar wajah. Desain ini bertujuan mengurangi risiko cedera akibat benturan, bukan menciptakan ruang kedap udara. Celah di sekitar visor, ventilasi, dan bagian bawah helm memungkinkan udara dari luar tetap masuk ke area wajah.

Sementara itu, asap karhutla mengandung campuran partikel halus dan gas, termasuk PM2,5 yang dapat menembus jauh ke dalam sistem pernapasan. Partikel ini tidak bisa disaring hanya dengan mengandalkan visor tertutup. Bahkan, ketika pengendara merasa wajahnya terlindungi dari debu, bukan berarti udara yang dihirup sudah bebas dari polutan.

2. Ventilasi helm memungkinkan udara luar masuk

ilustrasi helm (freepik.com/freepik)

Lubang ventilasi pada helm full face dirancang membantu sirkulasi udara agar kepala tidak terlalu panas dan pengendara tetap nyaman. Namun, jalur tersebut juga berarti udara dari lingkungan dapat masuk ke dalam helm. Menutup ventilasi belum tentu menjadi solusi karena bisa meningkatkan panas dan kelembapan, sementara helm tetap tidak dirancang sebagai alat pelindung pernapasan.

Risiko paparan juga dipengaruhi kondisi lingkungan dan lamanya perjalanan. Pengendara yang melintasi kawasan dengan konsentrasi asap tinggi berpotensi menghirup lebih banyak partikel dibandingkan mereka yang hanya sebentar berada di luar. Paparan asap dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, dan memperburuk kondisi orang yang memiliki gangguan paru-paru atau jantung.

3. Ini cara mengurangi paparan asap saat berkendara

ilustrasi seseorang membawa helm (freepik.com/wirestock)

Langkah paling efektif adalah mengurangi paparan sejak awal. Jika kualitas udara sedang tidak sehat akibat asap karhutla, tunda perjalanan yang tidak mendesak dan pilih rute yang tidak melewati kawasan terdampak apabila memungkinkan. Pantau informasi kualitas udara dari sumber resmi sebelum berangkat, bukan hanya mengandalkan kondisi langit atau bau asap.

Jika harus bepergian, respirator partikulat seperti N95 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Namun, respirator jenis ini tidak menyaring seluruh gas berbahaya dalam asap. Pastikan penggunaannya tidak mengganggu posisi helm, tali pengikat, atau kemampuan bernapas. Jika udara sangat tercemar, menghindari paparan tetap menjadi pilihan yang lebih baik daripada hanya mengandalkan masker.

Pada akhirnya, helm full face tetap penting untuk melindungi kepala dan wajah saat berkendara, tetapi bukan perlindungan maksimal terhadap asap karhutla. Kombinasikan penggunaan helm yang sesuai standar dengan langkah pengurangan paparan dan perlindungan pernapasan yang tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article