Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Awas! Bonceng Anak di Depan Motor Menyimpan Bahaya Tersembunyi
ilustrasi membonceng anak naik motor (pexels.com/Shiva Kumar Reddy)
  • Anak di depan motor dapat mengganggu setang, rem, dan gas karena bergerak tiba-tiba, sekaligus memecah konsentrasi pengendara saat menghadapi lalu lintas.
  • Pengereman mendadak membuat anak berisiko terbentur setang atau panel motor dan kehilangan keseimbangan; memegang anak dengan satu tangan mengurangi kendali pengendara.
  • Anak sebaiknya duduk di belakang bila mampu stabil dan berpegangan, memakai helm sesuai standar; jika belum siap, gunakan transportasi lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Anak duduk di depan motor bisa bahaya. Anak mungkin bergerak-gerak dan membuat tangan orang tua susah mengatur motor. Kalau motor rem tiba-tiba, anak bisa terbentur setang. Anak lebih baik duduk di belakang jika sudah bisa duduk dan berpegangan dengan aman. Anak juga harus pakai helm yang pas. Jika masih kecil, naik kendaraan lain lebih aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membonceng anak di bagian depan sepeda motor masih sering terlihat di jalanan Indonesia. Posisi ini dianggap praktis karena orang tua bisa mengawasi anak secara langsung selama perjalanan. Bahkan, sebagian orang merasa anak lebih aman karena berada dalam jangkauan tangan pengendara.

Namun, kebiasaan tersebut menyimpan sejumlah risiko yang kerap luput dari perhatian. Anak yang duduk di depan pengendara bisa mengganggu pergerakan tangan, sulit terlindungi saat pengereman mendadak, dan berisiko mengalami benturan dengan bagian motor. Lantas, apa saja bahaya membonceng anak di depan motor?

1. Gerakan anak bisa mengganggu pengendalian motor

ilustrasi naik motor (pexels.com/Khải Nguyễn Thanh)

Anak kecil belum tentu mampu duduk diam dan mempertahankan posisi tubuh selama perjalanan. Mereka bisa bergerak tiba-tiba, menoleh, meraih benda, atau mengubah posisi karena merasa bosan. Ketika anak berada di depan, gerakan tersebut berpotensi mengganggu ruang gerak tangan pengendara, terutama saat mengoperasikan setang, tuas rem, dan gas.

Gangguan kecil sekalipun dapat menjadi masalah ketika pengendara harus bereaksi cepat menghadapi kendaraan yang berhenti mendadak atau pejalan kaki yang menyeberang. Konsentrasi juga bisa terpecah karena orang tua harus memperhatikan gerakan anak sekaligus situasi lalu lintas. Oleh sebab itu, posisi yang membuat pengendara kesulitan mengendalikan motor sebaiknya dihindari.

2. Anak berisiko terbentur saat pengereman mendadak

ilustrasi naik motor (unsplash.com/Alexey Demidov)

Ketika motor mengerem secara mendadak, tubuh penumpang cenderung bergerak ke depan akibat kelembaman. Anak yang duduk di depan berisiko terbentur setang, panel instrumen, atau bagian lain pada motor. Jika anak tidak memiliki posisi duduk yang stabil, risiko kehilangan keseimbangan juga meningkat.

Risiko tersebut tetap ada meskipun pengendara melaju pelan. Jalan berlubang, kendaraan yang tiba-tiba memotong jalur, atau situasi darurat dapat memaksa pengendara mengerem lebih keras daripada perkiraan. Memegang anak dengan satu tangan juga bukan solusi yang aman karena pengendara membutuhkan kendali penuh atas motor. Helm yang sesuai ukuran penting untuk mengurangi risiko cedera kepala, tetapi tidak menghilangkan bahaya benturan pada bagian tubuh lainnya.

3. Posisi duduk yang aman tetap menjadi prioritas

ilustrasi Membonceng Anak Naik Motor (Dok. AHM)

Membonceng anak seharusnya mempertimbangkan kemampuan anak duduk stabil, menjangkau posisi penumpang dengan benar, dan mengikuti instruksi keselamatan. Posisi di belakang pengendara umumnya lebih sesuai dibandingkan duduk di depan, selama anak mampu duduk dengan aman dan motor memang dirancang untuk membawa penumpang. Anak juga perlu menggunakan helm yang pas dan memenuhi standar keselamatan.

Jika anak masih terlalu kecil untuk duduk stabil, belum mampu berpegangan dengan baik, atau mudah bergerak tanpa kendali, pilihan paling aman adalah menggunakan transportasi lain. Jangan mengandalkan jarak dekat atau kecepatan rendah sebagai jaminan keselamatan. Kondisi lalu lintas bisa berubah dalam hitungan detik, bahkan di jalan lingkungan yang terlihat sepi.

Membonceng anak di depan motor memang terasa praktis, tetapi risikonya tidak boleh dianggap sepele. Keselamatan seharusnya menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar kemudahan mengawasi anak. Sebelum berangkat, pastikan posisi penumpang tidak mengganggu pengendalian dan perlengkapan keselamatan digunakan dengan benar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article