Anak Pakai Helm Dewasa Saat Naik Motor, Apa Bahayanya?

- Helm dewasa yang kebesaran pada anak mudah bergeser, menutupi pandangan, atau terlepas saat benturan, sehingga kepala berisiko tidak terlindungi.
- Ukuran yang tidak sesuai membuat cangkang, lapisan penyerap benturan, dan pengikat tidak bekerja optimal; anak juga bisa tidak nyaman serta terganggu melihat sekitar.
- Orang tua perlu memilih helm anak sesuai lingkar kepala, stabil, bertali terkunci, memenuhi standar keselamatan, dan mempertimbangkan transportasi lain bila anak belum mampu duduk aman.
Membonceng anak menggunakan sepeda motor membutuhkan perhatian ekstra, termasuk dalam memilih helm. Sayangnya, masih ada orang tua yang memakaikan helm dewasa kepada anak karena lebih praktis atau belum memiliki helm khusus anak. Padahal, ukuran helm yang tidak sesuai bisa mengurangi perlindungan ketika terjadi kecelakaan.
Helm bukan sekadar aksesori untuk memenuhi aturan lalu lintas. Perlengkapan ini dirancang untuk membantu mengurangi risiko cedera kepala saat terjadi benturan. Jika ukurannya terlalu besar, helm bisa bergeser atau terlepas ketika dibutuhkan. Lantas, apa saja bahaya memakaikan helm dewasa kepada anak saat naik motor?
1. Helm mudah bergeser dan terlepas saat terjadi benturan

ilustrasi naik motor (pexels.com/Son Hoa Nguyen) Helm dewasa umumnya memiliki ukuran cangkang dan ruang bagian dalam yang tidak dirancang untuk kepala anak. Ketika dipaksakan, helm bisa terasa longgar, menutupi sebagian pandangan, atau bergoyang saat anak bergerak. Kondisi ini membuat posisi helm tidak stabil selama perjalanan, terutama ketika motor melewati jalan bergelombang atau melakukan pengereman mendadak.
Dalam kecelakaan, helm yang terlalu longgar berisiko bergeser atau terlepas dari kepala. Akibatnya, bagian kepala yang seharusnya terlindungi bisa terbuka saat terjadi benturan. Tali pengikat yang dikencangkan berlebihan juga bukan solusi karena belum tentu membuat helm terpasang dengan benar. Karena itu, jangan menjadikan helm dewasa sebagai pengganti helm anak hanya karena bentuknya terlihat menutupi kepala.
2. Perlindungan kepala tidak bekerja secara optimal

ilustrasi naik motor (pexels.com/Nimit N) Helm dirancang agar cangkang, lapisan penyerap benturan, dan sistem pengikat bekerja sebagai satu kesatuan. Ketika ukuran tidak sesuai, posisi lapisan pelindung bisa tidak berada pada tempat yang semestinya. Hal ini berpotensi mengurangi efektivitas perlindungan saat kepala mengalami benturan.
Selain itu, helm yang kebesaran dapat mengganggu kenyamanan anak. Anak mungkin terus membetulkan posisi helm, menundukkan kepala, atau merasa sulit melihat keadaan sekitar. Gangguan tersebut dapat membuat perjalanan kurang aman, terutama ketika anak dibonceng di tengah lalu lintas padat. Memilih helm yang pas bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan bagian penting dari perlindungan keselamatan.
3. Pilih helm anak yang pas dan memenuhi standar

ilustrasi Membonceng Anak Naik Motor (Dok. AHM) Orang tua sebaiknya memilih helm yang memang sesuai dengan ukuran kepala anak. Ukur lingkar kepala mengikuti petunjuk produsen, lalu coba helm untuk memastikan posisinya stabil dan tidak mudah bergeser. Helm yang pas terasa mantap tanpa menimbulkan tekanan berlebihan, sementara tali pengikat harus dapat dikunci dengan benar di bawah dagu.
Pastikan pula helm memenuhi standar keselamatan yang berlaku dan tidak memiliki retakan atau kerusakan. Jangan membeli helm hanya berdasarkan usia karena ukuran kepala setiap anak berbeda. Jika anak belum bisa duduk dengan stabil atau belum mampu mempertahankan posisi aman selama perjalanan, pertimbangkan transportasi lain yang lebih sesuai.
Memakaikan helm dewasa kepada anak bukan pilihan aman meskipun perjalanan hanya berlangsung beberapa menit. Helm yang tepat ukuran, terpasang benar, dan memenuhi standar keselamatan memberikan perlindungan yang lebih baik. Jangan sampai alasan praktis membuat keselamatan anak menjadi taruhan di jalan raya.


















