3 Kecerobohan Orang Tua Saat Bonceng Anak yang Berisiko Fatal

- Membiarkan anak berdiri di jok motor saat melaju meningkatkan risiko terjatuh atau terlempar ketika pengereman mendadak, jalan berlubang, dan manuver terjadi.
- Anak harus memakai helm berukuran pas, terpasang benar, dan memenuhi standar keselamatan; helm dewasa yang longgar tidak dapat menggantikan perlindungan yang sesuai.
- Pastikan anak duduk menghadap depan, stabil, dan berpegangan tanpa mengganggu pengendara; bila belum mampu, orang tua perlu memilih transportasi lain.
Membonceng anak menggunakan sepeda motor sudah menjadi pemandangan sehari-hari di jalanan Indonesia. Mulai dari mengantar sekolah hingga pergi ke pasar, motor sering dipilih karena praktis untuk perjalanan jarak dekat. Namun, kebiasaan yang terlihat biasa ini bisa berubah menjadi berbahaya ketika orang tua mengabaikan keselamatan anak.
Salah satu pemandangan yang patut diwaspadai adalah anak dibiarkan berdiri di atas jok ketika motor sedang melaju. Selain berisiko terjatuh, ada beberapa kecerobohan lain yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Orang tua perlu memahami bahwa anak membutuhkan perlindungan dan pengawasan lebih ketat selama perjalanan.
1. Membiarkan anak berdiri di atas jok saat motor melaju

ilustrasi naik motor (pexels.com/Son Hoa Nguyen) Membiarkan anak berdiri di atas jok merupakan tindakan berbahaya karena keseimbangan tubuh anak belum tentu mampu mengikuti gerakan motor. Ketika pengendara mengerem mendadak, melewati jalan berlubang, atau berbelok, tubuh anak bisa kehilangan keseimbangan dan terlempar. Risiko tersebut semakin besar jika anak tidak berpegangan dengan benar atau pengendara harus melakukan manuver mendadak untuk menghindari kendaraan lain.
Posisi berdiri juga membuat anak lebih mudah kehilangan pijakan ketika motor melewati permukaan jalan yang tidak rata. Orang tua sebaiknya memastikan anak duduk dengan stabil dan tidak mengubah posisi selama perjalanan. Jika anak belum mampu duduk aman, mengikuti instruksi, atau mempertahankan posisi tubuh, perjalanan dengan motor sebaiknya dihindari. Jangan menganggap perjalanan singkat di lingkungan rumah bebas dari risiko kecelakaan.
2. Membiarkan anak naik motor tanpa helm yang sesuai

ilustrasi naik motor (pexels.com/Khải Nguyễn Thanh) Kecerobohan berikutnya adalah membonceng anak tanpa helm atau menggunakan helm yang terlalu besar. Sebagian orang tua mungkin menganggap perjalanan dekat tidak membutuhkan perlindungan lengkap. Padahal, kecelakaan bisa terjadi kapan saja, termasuk di jalan lingkungan dengan kecepatan rendah. Benturan kepala dapat menimbulkan cedera serius meskipun motor tidak melaju kencang.
Anak perlu menggunakan helm yang sesuai ukuran kepala, terpasang pas, dan memenuhi standar keselamatan. Tali pengikat harus dikunci dengan benar agar helm tidak mudah terlepas saat terjadi benturan. Helm dewasa yang longgar bukan pengganti helm anak yang sesuai. Selain itu, orang tua juga wajib menggunakan helm sendiri karena keselamatan pengendara berpengaruh langsung terhadap kemampuan mengendalikan motor.
3. Membiarkan anak duduk tanpa pegangan dan posisi aman

ilustrasi naik motor (pexels.com/Nam Phong Bùi Follow Donate) Anak yang duduk menyamping, terlalu dekat dengan setang, atau berada dalam posisi yang mengganggu pengendalian motor menghadapi risiko lebih besar. Ketika pengendara mengerem atau berbelok, posisi tersebut dapat membuat anak kehilangan keseimbangan. Membiarkan anak memegang barang, bermain, atau menggerakkan tubuh secara berlebihan juga dapat mengganggu konsentrasi pengendara.
Sebelum berangkat, pastikan anak duduk menghadap ke depan dengan posisi stabil, menggunakan perlengkapan keselamatan yang sesuai, dan tidak mengganggu ruang gerak pengendara. Jangan membonceng anak lebih banyak daripada kapasitas yang diizinkan. Jika anak masih terlalu kecil untuk duduk dan berpegangan dengan aman, pilih transportasi lain yang lebih sesuai.
Keselamatan anak tidak boleh dikalahkan oleh alasan praktis atau jarak perjalanan yang dekat. Kebiasaan kecil yang tampak sepele dapat berakibat fatal ketika terjadi situasi darurat. Orang tua perlu memberi contoh disiplin berlalu lintas agar anak terbiasa memahami bahwa keselamatan selalu menjadi prioritas.


















