Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Naik Motor Pakai Jaket Basah Bisa Picu Paru-paru Basah?

2 min read
Benarkah Naik Motor Pakai Jaket Basah Bisa Picu Paru-paru Basah?
ilustrasi mengenakan jaket motor di tengah musim hujan (pexels.com/Duy Nod)
  • Jaket basah saat naik motor tidak langsung menyebabkan pneumonia; penyakit ini terjadi akibat infeksi virus, bakteri, atau organisme lain di saluran pernapasan.
  • Pakaian basah yang terkena angin membuat tubuh lebih cepat kehilangan panas, sehingga pengendara bisa menggigil dan tidak nyaman, terutama dalam perjalanan lama.
  • Setelah kehujanan, segera ganti pakaian kering; periksakan diri bila muncul batuk menetap, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi memburuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mengendarai motor menggunakan jaket basah saat hujan sering dianggap bisa membuat seseorang terkena paru-paru basah. Anggapan tersebut cukup populer karena tubuh terasa dingin, menggigil, dan tidak nyaman setelah terlalu lama berkendara dalam kondisi basah.

Namun, jaket basah bukan penyebab langsung penyakit yang sering disebut paru-paru basah. Istilah tersebut sebenarnya dapat merujuk pada pneumonia, yaitu infeksi pada paru-paru yang umumnya disebabkan oleh virus, bakteri, atau organisme lain.

  1. 1. Jaket basah tidak langsung menyebabkan pneumonia

    Ilustrasi jaket motor (unsplash/Eric Welch)
    Ilustrasi jaket motor (unsplash/Eric Welch)

    Pneumonia terjadi ketika jaringan paru-paru mengalami infeksi dan peradangan. Penyebabnya bukan karena air hujan atau jaket yang basah, melainkan mikroorganisme tertentu yang masuk dan berkembang di saluran pernapasan. Karena itu, memakai jaket basah selama perjalanan tidak serta-merta membuat paru-paru mengalami infeksi.

    Meski demikian, bukan berarti berkendara dengan pakaian basah tidak memiliki dampak. Tubuh dapat kehilangan panas lebih cepat ketika pakaian yang basah terkena angin saat motor melaju. Kondisi tersebut dapat membuat tubuh menggigil, merasa sangat dingin, dan mengalami penurunan kenyamanan selama perjalanan.

  2. 2. Tubuh tetap perlu dijaga agar tidak terlalu dingin

    .
    ilustrasi penggunaan jaket motor berwarna gelap yang efektif menyerap dan menangkal sinar UV (pexels.com/KUTLUER ERDAL Triumph rider)

    Jaket basah yang menempel pada tubuh membuat lapisan pakaian sulit mempertahankan panas. Ditambah terpaan angin ketika motor bergerak, tubuh bisa terasa jauh lebih dingin dibandingkan ketika berada dalam kondisi diam. Situasi ini semakin tidak nyaman jika perjalanan berlangsung lama.

    Karena itu, jaket yang sudah basah sebaiknya segera dilepas setelah sampai di tempat tujuan dan diganti dengan pakaian kering. Jika tubuh terasa dingin, menghangatkan diri secara bertahap juga lebih baik daripada terus membiarkan pakaian basah menempel. Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga kenyamanan tubuh setelah perjalanan.

  3. 3. Jangan abaikan gejala setelah kehujanan

    ilustrasi mengenakan jaket motor dengan ukuran yang sesuai
    ilustrasi mengenakan jaket motor dengan ukuran yang sesuai (pexels.com/AI25.Studio Studio)

    Kehujanan atau memakai jaket basah tidak otomatis menyebabkan pneumonia. Namun, jika setelah perjalanan muncul gejala seperti batuk yang menetap, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi tubuh semakin memburuk, sebaiknya jangan menganggapnya hanya sebagai akibat masuk angin.

    Pneumonia dapat disebabkan berbagai mikroorganisme dan tingkat keparahannya berbeda-beda. Karena itu, gejala yang mengkhawatirkan perlu diperiksa oleh tenaga medis, terutama jika gangguan pernapasan terasa berat. Jadi, mitos bahwa jaket basah langsung menyebabkan paru-paru basah tidak tepat. Yang lebih penting bagi pengendara adalah segera mengeringkan tubuh, mengganti pakaian basah, dan menggunakan perlengkapan hujan yang sesuai ketika berkendara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More