Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Berapa Lama Waktu Istirahat yang Ideal Saat Mudik Naik Motor?

Berapa Lama Waktu Istirahat yang Ideal Saat Mudik Naik Motor?
ilustrasi pengendara motor yang sedang touring (pexels.com/Nishant Aneja)
Intinya Sih
  • Pengemudi disarankan beristirahat 15–30 menit setiap dua jam berkendara untuk menjaga konsentrasi dan mencegah kelelahan yang bisa memicu microsleep.
  • Selama jeda, lakukan peregangan, berjalan ringan, serta konsumsi air dan camilan sehat; hindari makanan berat agar tidak mengantuk di perjalanan.
  • Berkendara malam antara pukul 00.00–05.00 sangat berisiko; pengemudi perlu istirahat total minimal enam jam demi keselamatan dan kebugaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Keinginan untuk segera sampai di kampung halaman sering kali membuat pengemudi memaksakan diri berkendara selama berjam-jam tanpa henti. Padahal, kelelahan yang terakumulasi secara perlahan dapat menurunkan ketajaman refleks dan kemampuan otak dalam merespons situasi darurat di jalan raya secara drastis.

Menentukan jeda waktu istirahat yang ideal bukan sekadar tentang menghilangkan rasa kantuk, melainkan strategi pemulihan fisik dan mental yang sistematis. Kedisiplinan dalam mengatur waktu berhenti akan menjadi faktor penentu apakah perjalanan panjang tersebut berlangsung aman atau justru berakhir dengan risiko kecelakaan yang fatal.

1. Durasi maksimal berkendara dan durasi istirahat minimal

ilustrasi touring naik motor (pexels.com/Zaur Takhgiriev)
ilustrasi touring naik motor (pexels.com/Zaur Takhgiriev)

Berdasarkan tinjauan medis dan keselamatan berkendara, durasi maksimal bagi seseorang untuk berada di balik kemudi secara terus-menerus adalah dua jam. Setelah melewati ambang waktu tersebut, tingkat konsentrasi akan menurun dan otot-otot tubuh mulai mengalami ketegangan yang signifikan. Oleh karena itu, jeda waktu ideal yang disarankan adalah minimal 15 hingga 30 menit setiap dua jam sekali untuk memulihkan stamina secara efektif.

Jika perjalanan sudah berlangsung lebih dari delapan jam dalam satu hari, durasi istirahat harus diperpanjang menjadi satu hingga dua jam pada pemberhentian berikutnya. Jeda yang lebih lama ini berfungsi untuk memberikan kesempatan bagi sistem saraf agar benar-benar rileks dan sirkulasi darah kembali lancar. Mengabaikan jadwal berhenti ini dengan alasan efisiensi waktu adalah tindakan berisiko tinggi yang dapat memicu fenomena microsleep atau tertidur sejenak tanpa disadari saat kendaraan sedang melaju.

2. Aktivitas pemulihan selama waktu jeda berlangsung

Ilustrasi Touring (Pexels.com/Ene Marius)
Ilustrasi Touring (Pexels.com/Ene Marius)

Kualitas istirahat jauh lebih penting daripada sekadar durasi waktu berhenti di tempat peristirahatan. Selama jeda 15 hingga 30 menit tersebut, pengemudi sangat disarankan untuk keluar dari kabin mobil, melakukan peregangan otot ringan, dan berjalan kaki sejenak guna melancarkan aliran oksigen ke seluruh tubuh. Menghirup udara segar di luar kendaraan membantu menyegarkan pikiran dan mengurangi kebosanan visual setelah terus-menerus menatap aspal jalan tol.

Selain peregangan, mengonsumsi air mineral dan camilan ringan yang sehat sangat membantu menjaga stabilitas energi. Namun, hindari mengonsumsi makanan berat yang mengandung karbohidrat tinggi secara berlebihan karena dapat memicu rasa kantuk yang lebih berat akibat proses pencernaan. Jika rasa kantuk sudah tidak tertahankan, metode power nap atau tidur singkat selama 15 menit adalah solusi paling mujarab sebelum melanjutkan perjalanan kembali, karena tidur singkat tersebut mampu menyegarkan otak jauh lebih baik daripada sekadar meminum kopi.

3. Pentingnya berhenti total saat memasuki waktu malam

ilustrasi touring motor (pexels.com/Yogendra Singh)
ilustrasi touring motor (pexels.com/Yogendra Singh)

Meskipun jadwal dua jam sekali sudah ditaati, tubuh manusia tetap memiliki jam biologis atau ritme sirkadian yang mengharuskan istirahat total saat malam hari. Berkendara di antara pukul 00.00 hingga 05.00 pagi memiliki risiko kecelakaan berkali-kali lipat lebih tinggi karena pada waktu tersebut suhu tubuh menurun dan kewaspadaan berada di titik terendah. Manajemen waktu yang baik mengharuskan pengemudi untuk berhenti total dan tidur secara berkualitas minimal selama enam jam jika perjalanan masih harus dilanjutkan keesokan harinya.

Memaksakan diri berkendara di waktu malam hanya karena jalanan lebih sepi merupakan kompromi keselamatan yang sangat berbahaya. Kelelahan yang menumpuk dari perjalanan siang hari tidak akan bisa hilang hanya dengan istirahat singkat di pom bensin. Berhenti di penginapan atau tempat peristirahatan yang layak untuk tidur nyenyak adalah investasi terbaik agar perjalanan mudik tetap menyenangkan hingga tiba di depan pintu rumah keluarga dalam keadaan bugar dan selamat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More