Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengukur Degup Jantung Pembalap MotoGP di Lintasan, Se-Dag-Dig-Dug Apa?

ilustrasi balapan MotoGP (pixabay.com/ Lesbains39)
ilustrasi balapan MotoGP (pixabay.com/ Lesbains39)

Dunia balap motor kelas dunia sering kali dinilai hanya dari kecanggihan mesin dan kecepatan mekanis di atas lintasan. Namun, di balik kemudi motor monster tersebut, terdapat seorang atlet yang sedang berjuang melawan batasan fisik manusia yang sangat luar biasa, terutama pada sistem kardiovaskular.

Selama balapan berlangsung, detak jantung seorang pebalap rata-rata bertahan di angka 160 hingga 190 denyut per menit (BPM). Angka ini hampir menyentuh batas maksimal detak jantung manusia sehat dan harus dipertahankan secara stabil selama 45 menit penuh di tengah tekanan kompetisi yang sangat tinggi.

Berikut fakta menarik di balik degup jantung para pembalap MotoGP seperti dikutip dari berbagai sumber, antara lain motogp.com dan Red Bull Athlete Performance Data.

1. Ketahanan kardiovaskular setara pelari maraton

ilustrasi balapan motogp (unsplash.com/@alimahmoodi)
ilustrasi balapan motogp (unsplash.com/@alimahmoodi)

Beban kerja jantung pebalap MotoGP sering kali dibandingkan dengan atlet lari jarak jauh atau pemain sepak bola profesional. Namun, perbedaannya terletak pada intensitas yang tidak pernah turun selama balapan berlangsung. Jika seorang pelari maraton memiliki fase di mana mereka bisa mengatur napas, pebalap MotoGP harus menghadapi lonjakan adrenalin konstan yang memaksa jantung berdetak sangat kencang tanpa henti.

Kondisi ini setara dengan berlari maraton dalam kecepatan sprint penuh namun dilakukan sambil mengenakan pakaian pelindung kulit yang berat, helm, serta menahan suhu panas mesin yang menyengat. Jantung harus memompa darah dengan sangat cepat untuk menyuplai oksigen ke otot-otot tangan dan kaki agar pebalap tetap mampu mengendalikan motor seberat 157 kilogram dalam kecepatan 350 km/jam. Tanpa kondisi fisik yang prima, detak jantung setinggi ini dapat menyebabkan kelelahan mendadak yang sangat berbahaya di lintasan.

2. Tekanan mental dan respons sistem saraf otonom

ilustrasi balap MotoGP (pexels.com/Wayne Lee)
ilustrasi balap MotoGP (pexels.com/Wayne Lee)

Lonjakan detak jantung hingga 190 BPM tidak hanya disebabkan oleh aktivitas fisik, tetapi juga oleh beban mental yang sangat masif. Fokus tingkat tinggi yang dibutuhkan untuk menentukan titik pengereman sedetik sebelum tikungan memicu sistem saraf otonom untuk melepaskan hormon adrenalin dan noradrenalin secara terus-menerus. Respon "lawan atau lari" (fight or flight) ini membuat jantung berdegup kencang sebagai mekanisme perlindungan diri agar pebalap tetap waspada.

Setiap kali terjadi insiden kecil atau manuver menyalip yang berisiko, detak jantung bisa melonjak lebih tinggi lagi. Kemampuan untuk tetap tenang dan membuat keputusan logis di saat jantung berdegup hampir di batas maksimal adalah pembeda antara pebalap juara dan pebalap biasa. Konsentrasi yang stabil di tengah pacuan jantung yang liar menunjukkan bahwa pebalap MotoGP adalah manusia super yang telah melatih otaknya untuk bekerja di bawah tekanan fisik yang paling ekstrem.

3. Pentingnya pemulihan dan latihan fisik intensif

ilustrasi balap MotoGP (unsplash.com/Olav Tvedt)
ilustrasi balap MotoGP (unsplash.com/Olav Tvedt)

Mengingat betapa beratnya beban jantung selama balapan, para pebalap menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan latihan kardio seperti bersepeda jarak jauh atau berenang. Tujuan utama dari latihan ini bukan hanya untuk menguatkan otot, tetapi untuk memperbesar kapasitas jantung agar mampu memompa darah lebih efisien. Dengan jantung yang lebih kuat, pebalap dapat mempertahankan fokus meskipun tubuh mereka sedang mengalami dehidrasi dan kelelahan masif di putaran terakhir.

Setelah balapan selesai, proses pemulihan menjadi sangat krusial agar detak jantung dapat kembali ke angka normal secara perlahan. Kehilangan berat badan hingga 4 kilogram dalam satu balapan menunjukkan betapa banyak energi yang terbakar saat jantung bekerja di level maksimal tersebut. Ketangguhan jantung para pebalap ini membuktikan bahwa MotoGP bukan sekadar adu cepat mesin, melainkan pembuktian ketahanan organ vital manusia dalam menghadapi tuntutan fisik paling kejam di dunia olahraga otomotif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

4 Penyebab Tarikan Motor Terasa Tidak Halus, Segera Cek!

07 Feb 2026, 22:12 WIBAutomotive