3 Alasan Seseorang Sering Impulsive Buying, Ada Promo Menggoda!

- Pembelian impulsif adalah keputusan belanja mendadak yang tidak direncanakan, dipicu emosi, produk menarik, serta kemudahan transaksi di era belanja online.
- Diskon, flash sale, gratis ongkir, bundling, dan batas waktu promo dapat menciptakan rasa takut kehilangan kesempatan, sehingga konsumen checkout tanpa mempertimbangkan kebutuhan.
- Marketplace menghadirkan rekomendasi personal, notifikasi promo, visual produk, dan checkout cepat yang memperpendek jarak antara keinginan melihat barang hingga keputusan membeli.
Pernah membuka marketplace hanya untuk melihat-lihat, tetapi akhirnya checkout barang yang sebenarnya tidak ada dalam daftar belanja? Awalnya cuma ingin membeli skincare. Namun, setelah beberapa menit scrolling, keranjang belanja sudah berisi beragam barang yang sebelumnya tidak terpikir untuk dibeli.
Kebiasaan membeli sesuatu secara spontan seperti ini dikenal sebagai impulsive buying atau pembelian impulsif. Dilansir Shopify, impulsivee buying merupakan keputusan membeli yang muncul secara tiba-tiba dan tidak direncanakan sebelumnya. Pembelian semacam ini dapat dipicu oleh emosi, sesuatu yang baru atau menarik, serta kemudahan saat berbelanja. Di era belanja online, keputusan tersebut semakin mudah terjadi. Produk bisa muncul melalui rekomendasi, media sosial, atau promosi, lalu dibeli hanya dengan beberapa kali klik. Lantas, kenapa seseorang bisa membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan?
1. Promo membuat seseorang takut kehilangan kesempatan

ilustrasi impulse buying (Pexels.com/Sora Shimazaki) Saat tanggal kembar, banyak toko online yang berlomba-lomba menarik perhatian konsumen dengan promo diskon 50 persen, gratis ongkir, atau flash sale. Promo memang bisa membuat sebuah produk terlihat lebih menarik. Bahkan, kita terkadang merasa sedang menghemat uang, padahal sebenarnya baru saja mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak direncanakan.
Misalnya, ada sebuah tas yang awalnya seharga Rp300 ribu dan sedang diskon menjadi Rp150 ribu. Konsumen akan berpikir telah menghemat Rp150 ribu. Padahal, kalau sejak awal tidak berencana membeli tas tersebut, sebenarnya tidak ada uang Rp150 ribu yang berhasil dihemat.
Promosi seperti diskon terbatas, ambang batas gratis ongkir, dan bundling dapat menjadi pemicu keputusan pembelian spontan. Dalam pengalaman belanja digital, elemen seperti rekomendasi produk dan proses pembayaran yang cepat juga dapat memperpendek jarak antara munculnya keinginan dan keputusan membeli. Situasi tersebut bisa semakin kuat ketika promo menggunakan batas waktu atau menciptakan kesan bahwa kesempatan membeli tidak akan berlangsung lama.
Dilansir Federal Trade Commission (FTC), konsumen dapat terperangkap dark patterns, yaitu desain digital yang dapat mendorong atau memengaruhi keputusan konsumen dengan cara yang menyesatkan atau terlalu menekan. Salah satu contohnya adalah penggunaan countdown timer atau desain yang menciptakan kesan urgensi tertentu. Alhasil, konsumen yang bisa cepat-cepat checkout tanpa berpikir dulu apakah sedang membutuhkan barang tersebut.
2. Belanja memberikan rasa senang secara instan

ilustrasi impulse buying (Pexels.com/Angela Roma ) Impulsive buying juga tidak selalu terjadi karena diskon. Kadang-kadang, seseorang membeli sesuatu karena ingin mendapatkan rasa senang saat itu juga. Misalnya, setelah menjalani hari yang melelahkan, seseorang membuka marketplace dan menemukan pakaian, makeup, buku, atau aksesoris yang menarik.
Sebenarnya barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan. Namun, melihat produk yang disukai dan membayangkan memilikinya dapat membuat proses belanja terasa menyenangkan. Akhirnya, tanpa banyak pertimbangan, barang tersebut masuk ke keranjang dan dibayar.
Impulsive buying dapat dipicu oleh emosi, rasa penasaran terhadap sesuatu yang baru, dan kemudahan dalam proses pembelian. Dalam e-commerce, visual produk, rekomendasi, serta proses checkout yang minim hambatan dapat membuat keputusan “ingin” berubah menjadi “beli” dalam waktu singkat. Itulah mengapa seseorang terkadang membeli barang yang sebenarnya sudah dimiliki.
3. Marketplace membuat barang datang mencari calon konsumen

ilustrasi belanja online (Pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Dulu, kalau ingin membeli sesuatu, biasanya konsumen harus tahu terlebih dahulu apa yang sedang dicari. Sekarang, konsumen bisa membuka marketplace tanpa tujuan yang jelas dan langsung disuguhi berbagai produk. Bahkan, barang yang muncul di layar bisa berkaitan dengan produk yang sebelumnya pernah dilihat, dicari, atau dimasukkan ke keranjang.
Aplikasi belanja dapat mengirimkan pemberitahuan mengenai promosi, kupon, dan diskon. Selain itu, juga dapat mengumpulkan informasi mengenai aktivitas pembelian dan penggunaan aplikasi untuk berbagai tujuan. Sementara itu, rekomendasi yang dipersonalisasi, fitur seperti “You might also like”, bundling, serta pembayaran satu kali klik dapat membuat proses menemukan produk dan membelinya terjadi hampir tanpa jeda.
Artinya, konsumen tidak selalu harus mencari barang terlebih dahulu. Barang juga bisa datang mencari konsumen. Akhirnya, barang yang awalnya tidak dicari malah masuk ke keranjang. Bukan berarti setiap rekomendasi produk dirancang untuk membuat konsumen membeli secara impulsif. Namun, kemudahan menemukan produk dan melakukan transaksi telah membuat jarak antara “ingin” dan “beli” semakin pendek. Jadi, apakah kamu pernah mengalami impulsive buying?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





![[QUIZ] Mail vs Tuan Krab, Mana Gaya Pengusaha yang Cocok dengan Kepribadianmu?](https://image.idntimes.com/post/20250802/krab33_0397588c-643d-4f3f-9a0f-b058af64ff91.jpeg)

















