Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Alasan DEFA ASEAN Penting bagi Ekonomi Digital Indonesia

3 min read
4 Alasan DEFA ASEAN Penting bagi Ekonomi Digital Indonesia
ASEAN Digital Economy Framework Agreement (asean.org)
  • DEFA ASEAN, yang negosiasinya selesai Mei 2026 dan ditargetkan ditandatangani November 2026, dirancang memperkuat integrasi ekonomi digital kawasan.

  • Kesepakatan ini berpotensi memudahkan pelaku usaha dan UMKM Indonesia menjangkau pasar ASEAN melalui perdagangan digital, e-commerce, pembayaran elektronik, serta arus data lintas negara.

  • DEFA juga membuka peluang investasi teknologi, termasuk pusat data dan fintech, sekaligus mencakup kerja sama AI yang meningkatkan kebutuhan talenta digital Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ekonomi digital membuat aktivitas bisnis dan transaksi semakin mudah dilakukan tanpa terhalang batas negara. Namun, perbedaan aturan mengenai pembayaran digital, data, keamanan siber, hingga perdagangan daring masih dapat menjadi tantangan ketika pelaku usaha ingin memperluas pasar ke negara lain. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan ASEAN mendorong terbentuknya ASEAN Digital Economy Framework Agreement atau DEFA.

DEFA merupakan kesepakatan yang dirancang untuk memperkuat integrasi ekonomi digital negara-negara ASEAN. Negosiasinya telah diselesaikan pada Mei 2026 dan kesepakatan ini ditargetkan untuk ditandatangani pada November 2026. Lantas, mengapa perkembangan DEFA penting bagi ekonomi digital Indonesia?

  1. 1. Pelaku usaha Indonesia bisa menjangkau pasar ASEAN

    Ilustrasi belanja online dengan tangan memegang kartu kredit di depan laptop yang menampilkan laman toko digital.
    ilustrasi belanja online (pexels.com/Atlantic Ambience)

    DEFA bertujuan memperkuat perdagangan digital lintas negara di kawasan ASEAN. Kesepakatan ini mencakup beberapa bidang, seperti perdagangan digital, e-commerce, pembayaran elektronik, dan arus data lintas negara. Kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk menawarkan produk dan layanan ke konsumen di negara ASEAN lainnya.

    Peluang tersebut juga dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi UMKM Indonesia untuk memasuki pasar regional. Pelaku UMKM dapat memanfaatkan platform digital untuk menawarkan produk tanpa harus membuka toko fisik di negara tujuan. Jika aturan antarnegara semakin terhubung, proses ekspansi bisnis digital juga berpotensi menjadi lebih sederhana.

  2. 2. Aturan ekonomi digital antarnegara jadi lebih terhubung

    Ilustrasi negara-negara anggota ASEAN yang melambangkan kerja sama dan persatuan di kawasan Asia Tenggara.
    ilustrasi negara ASEAN (pixabay.com/nguyenthuantien)

    Aktivitas bisnis digital lintas negara membutuhkan aturan yang jelas mengenai berbagai hal. Beberapa di antaranya mencakup perlindungan data, identitas digital, pembayaran elektronik, keamanan siber, dan arus data. DEFA berupaya membangun kerangka yang membuat ekonomi digital negara-negara ASEAN menjadi lebih terintegrasi dan saling terhubung.

    Bagi perusahaan Indonesia, aturan yang lebih selaras dapat membantu mengurangi hambatan ketika menjalankan aktivitas di negara ASEAN lainnya. Pelaku usaha tetap harus mengikuti aturan nasional di masing-masing negara karena DEFA tidak berarti semua negara memiliki hukum yang sama. Namun, kerja sama regional dapat membantu menciptakan aturan dan mekanisme yang lebih kompatibel antarnegara.

  3. 3. Investasi di sektor digital Indonesia berpotensi bertambah

    Ilustrasi bertema investasi yang digunakan untuk menggambarkan perencanaan keuangan dan pengelolaan aset.
    ilustrasi investasi (pexels.com/Markus Winkler)

    Integrasi ekonomi digital ASEAN juga dapat menciptakan peluang bagi investasi di sektor teknologi. Perusahaan dapat melihat kawasan ASEAN sebagai pasar yang semakin terhubung untuk mengembangkan layanan dan infrastruktur digital. Kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi pada bidang seperti pusat data, teknologi finansial, dan layanan digital.

    Indonesia memiliki pasar digital yang besar sehingga perkembangan tersebut menjadi relevan bagi perekonomian nasional. Pemerintah Indonesia juga melihat DEFA sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem digital dan menarik investasi di sektor teknologi tinggi. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada bagaimana negara-negara ASEAN menerapkan kesepakatan setelah DEFA berlaku.

  4. 4. Perkembangan AI ikut menjadi bagian dari ekonomi digital ASEAN

    Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence sebagai representasi teknologi digital modern.
    ilustrasi artificial intelligence (freepik.com/DC Studio)

    Perkembangan ekonomi digital ASEAN tidak hanya berkaitan dengan e-commerce dan pembayaran digital. DEFA juga mencakup kerja sama mengenai teknologi baru, termasuk kecerdasan artifisial atau AI. Hal tersebut membuat perkembangan DEFA relevan dengan perubahan kebutuhan bisnis dan tenaga kerja di Indonesia.

    AI semakin digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari layanan pelanggan hingga pengolahan data dan pembuatan konten. Integrasi ekonomi digital dapat mendorong perusahaan di kawasan ASEAN untuk mengembangkan layanan berbasis teknologi secara lebih luas. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut dapat menciptakan peluang baru sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap talenta yang memiliki keterampilan digital.

    DEFA menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN mulai membangun aturan yang lebih terhubung untuk menghadapi perkembangan ekonomi digital. Bagi Indonesia, kesepakatan ini berkaitan dengan peluang pasar, investasi, teknologi, serta perkembangan bisnis digital di kawasan. Perkembangan implementasinya menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan karena dampaknya akan bergantung pada bagaimana kesepakatan tersebut diterapkan di masing-masing negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More