Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Airlangga Akui Pelemahan Rupiah-IHSG Gegara Pengumuman MSCI

3 min read
Airlangga Akui Pelemahan Rupiah-IHSG Gegara Pengumuman MSCI
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Dok/Istimewa).
  • Airlangga menyebut pengumuman MSCI soal usulan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi standalone market ikut menekan rupiah dan IHSG, dengan rupiah melemah ke Rp18.017 per dolar AS.
  • MSCI menyampaikan usulan reklasifikasi pada Oktober 2026, lebih cepat dari perkiraan November, namun memberi tenggat hingga April dan Juni 2027 untuk reformasi pasar modal Indonesia.
  • Pemerintah menyoroti perlunya reformasi pasar modal yang konkret, regulasi dan linimasa jelas, serta mempertanyakan komunikasi MSCI sebelum pengumuman setelah pertemuan di Bangkok.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut dipengaruhi oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) Inc yang mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Bila mengacu data Bloomberg, rupiah hingga pukul 14.50 WIB berada di level Rp18.017, melemah 79 poin atau 0,44 persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, pengumuman tersebut menjadi salah satu sentimen yang menekan rupiah. Terlebih, MSCI menyampaikan usulan reklasifikasi itu lebih cepat dari perkiraan semula, yakni pada Oktober 2026, bukan November 2026.

"Ya, pertama (rupiah melemah dan IHSG), tentu ada akibat dari pengumuman MSCI. Tapi, pengumuman MSCI itu lebih cepat daripada ekspektasi. Sebetulnya mereka menjanjikannya pada November, tetapi ini sudah Oktober," ujar Airlangga saat ditemui di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Meski demikian, MSCI memberikan tenggat waktu hingga tahun depan, yakni April dan Juni 2027. Airlangga mengatakan, perhatian kini tertuju pada implementasi reformasi pasar modal yang telah dijanjikan kepada penyedia indeks global tersebut.

Menurutnya, pelaksanaan reformasi membutuhkan waktu, terutama untuk menyusun regulasi yang menjadi landasan penerapan berbagai kebijakan. Namun, otoritas terkait perlu menjelaskan alasan di balik lamanya proses tersebut.

"Ini yang harus dijelaskan, mengapa prosesnya membutuhkan waktu. Karena sebelum proses itu, kita harus mengalihkannya menjadi hukum dan yang lain," ujarnya.

Airlangga menilai, otoritas pasar modal perlu memastikan reformasi berjalan konsisten dan memiliki target penyelesaian yang jelas. Langkah konkret beserta linimasa implementasi dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.

"Kemudian juga terkait dengan beberapa hal lain yang terkait dengan teknis, nanti tentu kami akan bicara dengan bursa. Kami berharap langkahnya konkret beserta timeline-nya," kata Airlangga.

Di sisi lain, Airlangga mempertanyakan komunikasi antara MSCI dan otoritas Indonesia sebelum pengumuman tersebut disampaikan karena sebelumnya telah berlangsung pertemuan antara MSCI, Gubernur Bank Indonesia (BI), dan Menteri Keuangan (Menkeu) di Bangkok, Thailand. Ia menyayangkan isu reklasifikasi tersebut tidak dibahas dalam pertemuan itu, meski jarak waktunya berdekatan dengan pengumuman MSCI.

"Apalagi, kenapa sudah ketemu di Thailand kemarin tidak membicarakan persoalan ini? Ini kan ada tanda tanya besar. Kemarin di Thailand kok tidak membicarakan hal ini, padahal pertemuan itu baru seminggu sebelumnya. Ya, tentu kita lihat saja, tetapi kita tidak boleh suuzan," ungkapnya.

Terkait dampaknya terhadap nilai tukar rupiah, Airlangga mengatakan, pemerintah akan kembali membahas perkembangan tersebut. Menurutnya, tekanan di pasar keuangan perlu dicermati dengan tetap mempertimbangkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Ia juga mengingatkan investor agar membedakan tekanan yang dipicu sentimen pasar dengan kondisi fundamental ekonomi. Airlangga turut mempertanyakan penilaian MSCI karena lembaga pemeringkat internasional lainnya dinilai tidak mempermasalahkan aspek serupa.

"Kita berharap para investor paham mana yang sentimen, mana yang fundamental, dan mana yang diberikan oleh rating agency lain. Kenapa rating agency yang lain tidak mempersoalkan hal ini, dan kenapa MSCI secara sistematis selalu membuka atau membuat deadline? Apalagi, kemarin yang bertemu di Bangkok pimpinannya, bukan analisnya," ujar Airlangga.

    Share Article
    Editorial Team

    Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

    Related Articles

    See More