Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Barang Giffen? Saat Harga Naik, Permintaannya Justru Bertambah
ilustrasi belanja ke pasar tradisional (pexels.com/Lucas Tran)
  • Barang Giffen adalah fenomena ekonomi langka ketika permintaan meningkat saat harga naik, berlawanan dengan hukum permintaan umum, terutama pada kebutuhan pokok nonmewah bagi kelompok berpendapatan rendah.
  • Pada barang Giffen, efek pendapatan lebih kuat daripada efek substitusi. Kenaikan harga menekan daya beli, sehingga konsumen dengan pilihan pengganti terbatas justru membeli lebih banyak barang tersebut.
  • Penelitian Robert Jensen dan Nolan Miller di China pada 2007 menemukan bukti kuat perilaku Giffen pada beras di Hunan, sementara temuan pada gandum di Gansu tidak sekuat itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1947

George J. Stigler menerbitkan artikel Notes on the History of the Giffen Paradox yang memperdebatkan contoh pengamatan Sir Robert Giffen tentang harga roti.

2007

Robert Jensen dan Nolan Miller meneliti fenomena barang Giffen pada beras di Hunan dan gandum di Gansu, China. Penelitian menemukan bukti kuat perilaku barang Giffen pada konsumsi beras di Hunan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Barang Giffen adalah fenomena ekonomi ketika permintaan terhadap suatu barang meningkat saat harganya naik, berlawanan dengan pola permintaan pada umumnya.
  • Who?
    Sir Robert Giffen dikaitkan dengan konsep ini; Alfred Marshall, George J. Stigler, Robert Jensen, dan Nolan Miller turut mengkaji atau membahas fenomenanya.
  • Where?
    Penelitian pada 2007 dilakukan di Provinsi Hunan untuk beras dan Provinsi Gansu untuk gandum, China.
  • When?
    Pengujian penelitian terhadap beras dan gandum di China dilakukan pada 2007; tulisan George J. Stigler mengenai paradoks Giffen terbit pada 1947.
  • Why?
    Permintaan dapat naik karena efek pendapatan lebih kuat daripada efek substitusi, terutama ketika kebutuhan pokok sulit digantikan dan alternatif lebih mahal tidak terjangkau.
  • How?
    Rumah tangga terpilih secara acak menerima kupon subsidi. Di Hunan, permintaan beras turun saat harga turun akibat subsidi dan meningkat saat subsidi dicabut sehingga harga naik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Barang Giffen adalah barang seperti beras atau roti. Kadang saat harganya naik, orang malah membeli lebih banyak. Ini bisa terjadi pada orang yang uangnya sedikit dan tidak bisa membeli makanan lain yang lebih mahal. Sir Robert Giffen melihat hal ini. Penelitian di Hunan, China, juga menemukan orang membeli lebih banyak beras saat harganya naik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Fenomena barang Giffen memperkaya pemahaman ekonomi dengan menunjukkan bahwa keputusan konsumsi rumah tangga tidak selalu mengikuti pola sederhana. Penelitian pada beras di Hunan juga memberikan bukti empiris yang kuat bahwa pendapatan, keterbatasan pilihan pengganti, dan harga dapat berinteraksi secara nyata dalam membentuk perilaku konsumen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dalam teori ekonomi, kenaikan harga umumnya diikuti penurunan permintaan. Namun, kondisi itu tidak berlaku pada barang Giffen. Jenis barang ini justru menunjukkan pola sebaliknya, yakni permintaan meningkat ketika harga naik.

Konsep tersebut diambil dari nama ekonom Sir Robert Giffen. Contoh yang kerap dikaitkan dengan barang Giffen adalah kebutuhan pokok nonmewah, seperti roti dan beras, yang banyak dikonsumsi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.

Dilansir Investopedia, barang ini memiliki kurva permintaan yang menanjak ke atas, berbeda dari pola permintaan pada umumnya.

1. Barang Giffen merupakan fenomena yang jarang terjadi

Ilustrasi beras yang dijual di pasar tradisional. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Barang Giffen tergolong fenomena langka dalam ilmu ekonomi karena hubungan antara penawaran dan permintaannya tidak mengikuti pola yang lazim. Kemunculannya dipengaruhi sejumlah faktor pasar, seperti penawaran, permintaan, harga, pendapatan, dan substitusi.

Seluruh faktor tersebut menjadi dasar dalam teori penawaran dan permintaan. Fenomena ini banyak dikaji melalui barang kebutuhan nonmewah yang dikonsumsi masyarakat berpendapatan rendah. Dari kajian tersebut terlihat kombinasi berbagai faktor tadi dapat membentuk kurva permintaan yang menanjak.

2. Efek pendapatan lebih kuat daripada efek substitusi

ilustrasi kantong belanja (unsplash.com/Jacek Dylag)

Dalam teori ekonomi, kenaikan harga biasanya membuat permintaan turun, sedangkan penurunan harga mendorong permintaan naik. Pendapatan dapat memengaruhi pola tersebut, sementara keberadaan barang pengganti atau substitusi umumnya memperkuat hubungan antara harga dan permintaan.

Pada barang Giffen, kondisi yang terjadi berbeda. Efek pendapatan lebih dominan, sementara efek substitusi juga tetap berperan. Akibatnya, permintaan justru meningkat ketika harga naik.

Barang Giffen umumnya merupakan kebutuhan pokok dengan pilihan pengganti yang terbatas. Saat harganya naik, konsumen tetap membelinya karena barang tersebut sulit digantikan.

Di sisi lain, kenaikan harga mengurangi pendapatan yang dapat dibelanjakan sehingga alternatif yang lebih mahal menjadi semakin sulit dijangkau. Kondisi itu membuat konsumen membeli lebih banyak barang Giffen.

3. Pernah diteliti pada beras di China

Ilustrasi outlet pedagang beras di pasar tradisional Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dalam Principles of Economics, Alfred Marshall, mencatat pengamatan Sir Robert Giffen bahwa kenaikan harga roti terjadi ketika masyarakat tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk membeli daging. Contoh tersebut kemudian diperdebatkan oleh George J. Stigler melalui artikelnya Notes on the History of the Giffen Paradox yang terbit pada 1947.

Pada 2007, ekonom Harvard Robert Jensen dan Nolan Miller melakukan penelitian di China untuk menguji fenomena barang Giffen. Penelitian dilakukan terhadap beras di Provinsi Hunan dan gandum di Provinsi Gansu yang sama-sama menjadi makanan pokok di daerah masing-masing. Rumah tangga yang dipilih secara acak menerima kupon subsidi untuk membeli bahan pangan tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bukti kuat adanya perilaku barang Giffen pada konsumsi beras di Hunan. Ketika harga beras turun karena subsidi, permintaan rumah tangga terhadap beras ikut menurun. Sebaliknya, saat subsidi dicabut sehingga harga naik, permintaan meningkat. Sementara itu, bukti serupa pada gandum di Gansu dinilai tidak sekuat temuan pada beras di Hunan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article