Apa Itu Nilai Likuidasi? Cara Menghitung Aset Perusahaan Bangkrut

- Nilai likuidasi penting dalam penilaian aset perusahaan.
- Perbedaan nilai pasar, buku, likuidasi, dan sisa.
- Cara sederhana menghitung nilai likuidasi perusahaan.
Jakarta, IDN Times - Dalam dunia bisnis dan investasi, istilah nilai likuidasi kerap muncul saat membahas kondisi keuangan perusahaan, terutama ketika menghadapi tekanan berat hingga kebangkrutan.
Dilansir Investopedia, nilai ini merujuk pada nilai bersih aset fisik perusahaan, seperti tanah, bangunan, peralatan, hingga persediaan, yang dihitung pada saat perusahaan harus dilikuidasi.
Aset tidak berwujud, seperti merek dan goodwill, tidak masuk dalam perhitungan tersebut. Informasi ini kerap menjadi salah satu pertimbangan bagi investor sebelum mengambil keputusan.
1. Nilai likuidasi jadi acuan saat perusahaan tertekan

Dalam praktik penilaian bisnis, aset perusahaan umumnya diklasifikasikan ke dalam empat tingkatan nilai, yakni nilai pasar, nilai buku, nilai likuidasi, dan nilai sisa. Setiap tingkatan digunakan akuntan dan analis untuk membaca kondisi aset secara menyeluruh.
Nilai likuidasi disebut memiliki peran penting, khususnya dalam situasi kebangkrutan atau proses penyehatan ulang perusahaan. Dalam perhitungannya, nilai likuidasi tidak memasukkan aset tidak berwujud seperti hak kekayaan intelektual, goodwill, atau pengakuan merek.
Apabila perusahaan dijual sebagai entitas yang masih berjalan, nilai kelangsungan usaha akan mencakup nilai aset fisik sekaligus aset tidak berwujud. Pada kondisi tersebut, investor biasanya membandingkan kapitalisasi pasar dengan nilai kelangsungan usaha untuk menilai daya tarik suatu saham.
Namun, tidak semua aset bisa dilepas sesuai harga beli atau sisa kewajiban utangnya. Oleh karena itu, perusahaan menilai tingkat pemulihan setiap aset secara terpisah.
Kas dianggap memiliki tingkat pemulihan penuh, sementara piutang, persediaan, dan peralatan produksi cenderung memiliki tingkat pemulihan yang lebih rendah. Akumulasi dari seluruh tingkat pemulihan inilah yang menggambarkan estimasi nilai perusahaan jika dilikuidasi.
2. Perbedaan nilai pasar, buku, likuidasi, dan sisa

Nilai pasar umumnya mencerminkan valuasi aset tertinggi. Meski demikian, nilainya bisa saja berada di bawah nilai buku apabila terjadi penurunan permintaan pasar, bukan karena penurunan fungsi aset dalam kegiatan usaha.
Sementara itu, nilai buku merupakan nilai aset yang tercatat di neraca berdasarkan biaya historis. Karena dicatat dari harga perolehan, nilai buku bisa berbeda dengan harga pasar. Dalam kondisi ekonomi dengan tren harga meningkat, nilai buku aset biasanya berada di bawah nilai pasar.
Sementara itu nilai likuidasi menggambarkan nilai aset ketika dijual secara cepat, yang umumnya lebih rendah dari biaya historis.
Di bawahnya terdapat nilai sisa atau salvage value, yaitu nilai aset di akhir masa manfaatnya. Nilai ini sering kali disamakan dengan nilai rongsokan.
Secara umum, nilai likuidasi berada di bawah nilai buku, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan nilai sisa. Aset masih memiliki nilai ekonomi, meski harus dilepas dengan harga lebih rendah karena keterbatasan waktu penjualan.
3. Gambaran sederhana perhitungan nilai likuidasi

Nilai likuidasi pada dasarnya merupakan selisih antara nilai aset berwujud dengan kewajiban perusahaan. Berikut contohnya:
Sebagai ilustrasi, jika kewajiban sebuah perusahaan tercatat sebesar 550 ribu dolar AS, sementara nilai buku asetnya 1 juta dolar dan nilai sisanya 50 ribu dolar, estimasi nilai penjualan seluruh aset melalui lelang bisa mencapai 750 ribu dolar.
Dengan angka tersebut, nilai likuidasi diperoleh dengan mengurangkan total kewajiban dari nilai lelang aset. Hasilnya, nilai likuidasi perusahaan tersebut berada di kisaran 200 ribu dolar. Angka inilah yang biasanya menjadi salah satu rujukan dalam membaca kondisi keuangan perusahaan di situasi terburuknya.















