- Pembatasan atau larangan perdagangan barang dan jasa
- Pembatasan investasi asing langsung
- Larangan perusahaan asing dari negara terkait dalam tender publik Uni Eropa
Apa itu Trade Bazooka untuk Lawan AS? Ini Penjelasannya

- Trade bazooka adalah mekanisme perlindungan Uni Eropa dari tekanan ekonomi luar.
- Penerapan trade bazooka membutuhkan persetujuan 55% anggota Uni Eropa dan melalui serangkaian proses sebelum tindakan diambil.
- Uni Eropa mengembangkan trade bazooka setelah pengalaman dengan China, namun belum pernah menggunakannya selama ini.
Belakangan, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa kembali memanas. Kali ini, penyebabnya berkaitan dengan konflik atas Greenland. Presiden Donald Trump sempat mengancam bakal memberlakukan tarif dagang baru untuk delapan negara Eropa yang menentang AS dalam pencaplokan wilayah yang dikelola Denmark tersebut.
Amerika Serikat awalnya akan memberlakukan tarif sebesar 10 persen per 1 Februari 2026. Kemudian, tarif tersebut naik menjadi 25 persen pada 1 Juni 2026. Trump menambahkan, tarif baru itu bakal dikenakan di atas tarif impor AS yang telah berlaku sebelumnya terhadap produk-produk dari negara-negara terkait.
Menyikapi ancaman tak main-main dari Trump, Uni Eropa mulai mempertimbangkan sejumlah skenario balasan. Di antaranya yang muncul berupa penerapan trade bazooka. Lantas, apa itu trade bazooka? Simak ulasannya berikut ini.
1. Apa itu trade bazooka?

Apa itu trade bazooka? Istilah yang digunakan Uni Eropa tersebut merujuk pada Anti-Coercion Instrument (ACI) atau Instrumen Anti-Pemaksaan. Sesuai namanya, mekanisme ini diadopsi Uni Eropa untuk melindungi blok tersebut dari tekanan pemaksaan ekonomi dari pihak luar atau non-UE.
Melansir Associated Press, trade bazooka mencakup serangkaian langkah untuk memblokir atau membatasi aktivitas ekonomi dengan negara-negara yang dianggap memberikan tekanan berlebih kepada Uni Eropa. Langkah-langkahnya bisa berupa banyak hal. Sebut saja dari pembatasan ekspor dan impor barang atau jasa hingga pembatasan investasi asing secara langsung.
Pada skenario terburuk, kebijakan ini diklaim dapat menutup akses ke pasar pelanggan Uni Eropa yang berjumlah 450 juta jiwa. Mengingat potensi dampaknya yang cukup besar, penerapannya pun dilakukan dengan pertimbangan kuat.
2. Mekanisme penerapan trade bazooka

Mengingat potensi dampaknya yang tak main-main, penerapan trade bazooka umumnya dipertimbangkan dengan ketat. Saat ada negara anggota Uni Eropa yang meminta pengaktifannya, mereka tetap butuh persetujuan dari setidaknya 55% anggota lain yang memberikan suara mendukung. Bahkan, ketika blok tersebut sudah setuju, masih ada serangkaian proses yang dibutuhkan sebelum mengambil tindakan apa pun.
Sebagai awalan, Komisi Eropa dalam kurun waktu empat bulan bakal menyelidiki negara ketiga yang dituduh melakukan pemaksaan ekonomi. Dari situ, negara-negara anggota juga memiliki waktu delapan hingga sepuluh minggu untuk mendukung proposal tindakan apa pun.
Setelah mendapat lampu hijau, komisi terkait akan mempersiapkan langkah-langkah balasan dalam waktu enam bulan. Namun, perlu dicatat bahwa Uni Eropa mengatakan jangka waktu tersebut bersifat indikatif dan bisa berubah mengikuti ketentuan yang disepakati.
3. Apa Uni Eropa sudah pernah memberlakukan trade bazooka?

Melihat ke belakang, Anti-Coercion Instrument (ACI) dikembangkan Komisi Eropa berdasarkan pengalaman Uni Eropa menghadapi tindakan balasan perdagangan dari China terhadap Lithuania pada 2021. Dari pengalaman itu, Uni Eropa melihat perlunya sebuah alat yang bisa merespons tekanan dari luar sekaligus melindungi kedaulatan ekonomi dan politik para anggotanya.
Tujuan utama ACI bukan semata-mata untuk melakukan balasan, melainkan bertindak sebagai pencegah. Keberadaan instrumen ini diharapkan cukup kuat sehingga negara lain akan berpikir dua kali sebelum mengambil tindakan perdagangan yang memaksa Uni Eropa atau anggotanya.
Nah, meski sudah ada sejak beberapa tahun lalu, menariknya Uni Eropa sampai saat ini belum pernah menggunakannya. Hal tersebut bisa dipahami mengingat dampak yang ditimbulkan nantinya bisa sangat besar dan memicu eskalasi yang belum pernah terjadi.
4. Siapa saja anggota Uni Eropa yang diancam AS soal tarif baru?

Ancaman pemberlakukan tarif impor sebesar 10% hingga 25% diberikan Amerika Serikat terhadap delapan negara Eropa yang menentang usahanya terkait Greenland. Mereka adalah Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia.
Langkah AS ini membuat Uni Eropa mempertimbangkan berbagai opsi sebagai tanggapan. Salah satunya termasuk penggunaan alat yang dikenal sebagai trade bazooka yang bisa memunculkan sejumlah efek, di antaranya:
Itulah tadi ulasan mengenai apa itu trade bazooka yang bisa dijadikan langkah untuk melawan kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap Uni Eropa. Bagaimana menurutmu?
FAQ seputar trade bazooka
| Apa itu trade bazooka? | Istilah trade bazooka merujuk pada Anti-Coercion Instrument (ACI), sebuah mekanisme yang diadopsi Uni Eropa untuk melindungi blok tersebut dari tekanan pemaksaan ekonomi dari pihak luar atau non-UE. |
| Kenapa Uni Eropa mempertimbangkan trade bazooka? | Pertimbangan muncul setelah Presiden AS Donald Trump memberi ancaman tarif baru untuk delapan negara Uni Eropa yang menentang pencaplokan Greenland. |
| Apa dampak trade bazooka jika diterapkan? | Beberapa dampak yang muncul seperti pembatasan atau larangan perdagangan barang dan jasa, pembatasan investasi asing langsung hingga larangan perusahaan asing dari negara terkait dalam tender publik Uni Eropa. |

















