ilustrasi bisnis street food (pexels.com/Brett Stayles)
Memahami tiga istilah tersebut penting karena harga paket franchise belum tentu menggambarkan seluruh kebutuhan modal. Selain franchise fee, calon mitra mungkin masih perlu menyiapkan biaya sewa, renovasi, peralatan, stok awal, gaji karyawan, utilitas, dan biaya operasional lainnya. Setelah bisnis berjalan, royalty fee dan marketing fee juga perlu dimasukkan ke dalam proyeksi keuangan jika memang diwajibkan dalam perjanjian.
Sebelum mengambil keputusan, calon mitra sebaiknya meminta rincian biaya secara tertulis. Perhatikan besaran masing-masing biaya, dasar perhitungannya, jadwal pembayaran, fasilitas yang diperoleh, serta ketentuan ketika kontrak berakhir atau diperpanjang. Dengan memahami struktur biaya sejak awal, proyeksi modal, omzet, dan arus kas bisnis dapat dibuat dengan lebih realistis.
Franchise fee, royalty fee, dan marketing fee sama-sama berkaitan dengan biaya dalam bisnis franchise, tetapi memiliki fungsi yang berbeda. Franchise fee umumnya berhubungan dengan hak dan fasilitas awal dalam menjalankan konsep franchise, sedangkan royalty fee merupakan biaya berkala atas hubungan franchise dan marketing fee berkaitan dengan aktivitas pemasaran sesuai perjanjian. Detail penerapannya tetap dapat berbeda antara satu merek dan merek lainnya.
Karena itu, jangan hanya melihat nominal paket franchise ketika menghitung kebutuhan modal. Periksa seluruh biaya awal dan biaya berkala, kemudian masukkan semuanya ke dalam proyeksi penjualan serta arus kas. Dengan begitu, calon mitra bisa memahami berapa dana yang benar-benar dibutuhkan untuk membuka dan menjalankan bisnis tersebut.