Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Perbedaan Franchise Fee, Royalty Fee, dan Marketing Fee?
ilustrasi bisnis fnb (pexels.com/Carlos Augusto Dias De Menezes)
  • Franchise fee merupakan biaya awal untuk memperoleh hak memakai merek, sistem, dan konsep bisnis, dengan fasilitas yang berbeda sesuai perjanjian.
  • Royalty fee dibayar berkala selama kemitraan, sering dihitung dari omzet atau penjualan, sehingga perlu masuk perhitungan biaya operasional dan arus kas.
  • Marketing fee dialokasikan untuk promosi; calon mitra perlu memeriksa rincian seluruh biaya awal maupun berkala, termasuk jadwal, dasar perhitungan, dan ketentuan kontrak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak orang yang tertarik membuka bisnis franchise biasanya langsung fokus pada harga paket kemitraan. Padahal, selain modal awal, ada beberapa jenis biaya yang perlu dipahami sebelum menandatangani perjanjian. Tiga istilah yang cukup sering muncul adalah franchise fee, royalty fee, dan marketing fee.

Ketiganya memiliki fungsi dan waktu pembayaran yang berbeda. Ada biaya yang umumnya dibayarkan di awal, ada yang dihitung secara berkala berdasarkan penjualan, dan ada pula yang digunakan untuk mendukung aktivitas pemasaran. Memahami perbedaannya penting agar calon mitra dapat menghitung kebutuhan modal dan biaya operasional secara lebih realistis.

1. Franchise fee dibayar untuk hak menggunakan sistem franchise

ilustrasi bisnis fnb (pexels.com/Andrea acosta)

Franchise fee merupakan biaya yang berkaitan dengan pemberian hak kepada mitra untuk menjalankan bisnis menggunakan merek, sistem, dan konsep yang ditawarkan pemilik franchise. Biaya ini umumnya menjadi bagian dari investasi awal ketika seseorang bergabung dengan sebuah jaringan franchise. Besarannya dapat berbeda-beda tergantung merek, jenis bisnis, durasi kerja sama, dan fasilitas yang diberikan.

Fasilitas yang termasuk dalam franchise fee juga tidak selalu sama antara satu bisnis dengan bisnis lainnya. Ada franchise yang memasukkan pelatihan, penggunaan merek, bantuan pembukaan gerai, atau sistem operasional tertentu dalam paket tersebut. Karena itu, calon mitra perlu membaca secara detail apa saja yang sebenarnya diperoleh dari pembayaran biaya awal tersebut.

2. Royalty fee berkaitan dengan penggunaan bisnis secara berkelanjutan

ilustrasi bisnis roti (pexels.com/Leonard Richards)

Royalty fee merupakan biaya yang biasanya dibayarkan secara berkala selama hubungan franchise berlangsung. Dalam sejumlah model bisnis, besaran biaya ini dihitung berdasarkan persentase omzet atau penjualan gerai. Namun, mekanisme perhitungannya dapat berbeda sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara pemilik merek dan mitra.

Karena dibayarkan secara berkala, royalty fee perlu dimasukkan ke dalam perhitungan biaya operasional. Calon mitra tidak cukup hanya menghitung modal untuk membuka gerai, tetapi juga perlu memperkirakan kemampuan bisnis membayar biaya tersebut setelah beroperasi. Struktur biaya yang terlihat kecil secara persentase tetap dapat menjadi nominal yang cukup besar ketika omzet meningkat.

3. Marketing fee digunakan untuk kegiatan pemasaran

ilustrasi bisnis coffe shop (pexels.com/Sanket Sawale)

Marketing fee berkaitan dengan biaya yang dialokasikan untuk aktivitas pemasaran dan promosi. Dana tersebut dapat digunakan untuk mendukung kampanye merek, iklan, promosi digital, pembuatan materi pemasaran, atau aktivitas promosi lain sesuai kebijakan jaringan franchise. Dalam beberapa sistem, biaya ini juga dapat dihitung berdasarkan persentase omzet.

Berbeda dengan franchise fee yang berkaitan dengan hak awal bergabung, marketing fee biasanya muncul sebagai biaya yang dibayarkan secara berkala. Namun, bentuk dan penggunaannya tetap bergantung pada perjanjian franchise masing-masing. Calon mitra sebaiknya memahami apakah dana tersebut dikelola secara terpusat oleh pemilik merek atau memiliki mekanisme penggunaan tertentu di tingkat gerai.

4. Waktu pembayaran ketiganya bisa berbeda

ilustrasi bisnis donat (pexels.com/Lando Dong)

Perbedaan penting lainnya terletak pada kapan biaya tersebut harus dibayarkan. Franchise fee umumnya berkaitan dengan awal kerja sama, sedangkan royalty fee dan marketing fee dapat muncul secara rutin selama bisnis berjalan. Struktur tersebut membuat kebutuhan dana sebelum membuka usaha berbeda dengan kebutuhan kas setelah gerai mulai beroperasi.

Misalnya, seseorang memiliki dana yang cukup untuk membayar paket awal franchise tetapi belum menghitung biaya bulanan. Kondisi tersebut dapat membuat arus kas menjadi lebih ketat ketika bisnis mulai berjalan. Karena itu, perhitungan modal sebaiknya memasukkan biaya awal sekaligus kewajiban berkala yang tercantum dalam perjanjian.

5. Semua biaya perlu dihitung sebelum membuka usaha

ilustrasi bisnis street food (pexels.com/Brett Stayles)

Memahami tiga istilah tersebut penting karena harga paket franchise belum tentu menggambarkan seluruh kebutuhan modal. Selain franchise fee, calon mitra mungkin masih perlu menyiapkan biaya sewa, renovasi, peralatan, stok awal, gaji karyawan, utilitas, dan biaya operasional lainnya. Setelah bisnis berjalan, royalty fee dan marketing fee juga perlu dimasukkan ke dalam proyeksi keuangan jika memang diwajibkan dalam perjanjian.

Sebelum mengambil keputusan, calon mitra sebaiknya meminta rincian biaya secara tertulis. Perhatikan besaran masing-masing biaya, dasar perhitungannya, jadwal pembayaran, fasilitas yang diperoleh, serta ketentuan ketika kontrak berakhir atau diperpanjang. Dengan memahami struktur biaya sejak awal, proyeksi modal, omzet, dan arus kas bisnis dapat dibuat dengan lebih realistis.

Franchise fee, royalty fee, dan marketing fee sama-sama berkaitan dengan biaya dalam bisnis franchise, tetapi memiliki fungsi yang berbeda. Franchise fee umumnya berhubungan dengan hak dan fasilitas awal dalam menjalankan konsep franchise, sedangkan royalty fee merupakan biaya berkala atas hubungan franchise dan marketing fee berkaitan dengan aktivitas pemasaran sesuai perjanjian. Detail penerapannya tetap dapat berbeda antara satu merek dan merek lainnya.

Karena itu, jangan hanya melihat nominal paket franchise ketika menghitung kebutuhan modal. Periksa seluruh biaya awal dan biaya berkala, kemudian masukkan semuanya ke dalam proyeksi penjualan serta arus kas. Dengan begitu, calon mitra bisa memahami berapa dana yang benar-benar dibutuhkan untuk membuka dan menjalankan bisnis tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article