Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apple Salip Nvidia, Kembali Jadi Perusahaan Paling Berharga di Dunia
ilustrasi logo Apple (pexels.com/Armand Velandez)
  • Apple kembali menjadi perusahaan paling berharga di dunia dengan valuasi 4,88 triliun dolar AS, menggeser Nvidia yang turun setelah koreksi pasar sebesar 3,5 persen.
  • Lompatan valuasi Apple dipicu pembaruan Siri yang meningkatkan kepercayaan investor terhadap strategi AI perusahaan tanpa ketergantungan besar pada infrastruktur cloud.
  • Kenaikan Apple terjadi menjelang pergantian CEO dari Tim Cook ke John Ternus, sementara fokus investor mulai bergeser ke pemain baru di industri semikonduktor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Persaingan perusahaan teknologi global kembali memanas. Apple berhasil merebut kembali posisi sebagai perusahaan dengan valuasi pasar terbesar di dunia, menggeser posisi chipmaker Nvidia. Berdasarkan laporan The Guardian pada Jumat (17/7/2026), pergeseran peringkat ini terjadi seiring langkah para investor yang tengah menilai kembali prospek industri akal imitasi (AI).

Apple kini memimpin dengan kapitalisasi pasar mencapai 4,88 triliun dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp87,7 kuadriliun. Sebaliknya, Nvidia turun ke peringkat kedua dengan valuasi 4,86 triliun dolar AS (sekitar Rp87,3 kuadriliun) setelah nilai pasarnya terkoreksi sebesar 3,5 persen.

Pencapaian tersebut menandai pertama kalinya produsen iPhone asal Cupertino, California ini kembali ke posisi puncak sejak April tahun lalu. Sebelumnya, Nvidia sempat memuncaki pasar setelah berhasil menembus angka valuasi fantastis 5 triliun dolar AS (sekitar Rp89,9 kuadriliun) pada Oktober 2025.

1. Pembaruan Siri mengangkat kepercayaan pasar

ilustrasi Iphone (pexels.com/Matt Ho)

Melansir laporan Al Jazeera, lonjakan valuasi Apple dipicu oleh sentimen positif pasar pascapeluncuran versi terbaru asisten suara mereka, Siri, bulan lalu. Siri kini dibekali kemampuan untuk memahami konteks pribadi pengguna dengan lebih baik, mengakses informasi real-time dari web, serta menjalankan perintah yang lebih kompleks.

Strategi Apple ini mengubah pandangan investor. Apple yang sebelumnya dianggap tertinggal karena minimnya investasi dalam pengembangan model AI, kini justru dinilai memiliki keunggulan besar. Perusahaan dapat memanfaatkan data personal yang tersimpan di ekosistem iPhone tanpa harus menghabiskan anggaran besar untuk infrastruktur awan (cloud).

Pendiri Founder ETFs, Michael Monaghan memaparkan pergeseran fokus investor tersebut.

“Sentimen pasar telah bergeser dari memberi penghargaan kepada pembuat model, kemudian ke semikonduktor, dan sekarang kepada perusahaan-perusahaan yang dapat mengubah komputasi menjadi pengalaman dan hasil yang akan dibayar pelanggan, sehingga mendorong pendapatan perusahaan,” ujarnya, dikutip Al Jazeera.

2. Suksesi kepemimpinan di tengah ketatnya persaingan

CEO Apple, Tim Cook (Austin Community College, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Kembalinya Apple ke posisi teratas terjadi menjelang transisi kepemimpinan penting. Direktur Utama (CEO) Tim Cook dijadwalkan akan menyerahkan jabatannya kepada John Ternus pada September mendatang. Ternus sendiri bukan orang baru, ia telah memimpin divisi teknik perangkat keras (hardware engineering) Apple sejak 2021.

Di sisi lain, tekanan yang dialami Nvidia tidak lepas dari meningkatnya kompetisi di industri semikonduktor. Produsen memori chip seperti Micron berhasil menembus valuasi 1 triliun dolar AS (sekitar Rp18 kuadriliun) pada Mei lalu. Selain itu, perusahaan asal Korea Selatan, SK Hynix, juga semakin memperketat persaingan setelah resmi mencatatkan sahamnya di bursa Nasdaq awal bulan ini.

3. Fokus investor mulai terpecah

ilustrasi portofolio investasi (pexels.com/Artem Podrez)

Wakil presiden penelitian alpha di Segal Marco Advisors, Benjamin Hall menyampaikan kepada kantor berita Reuters bahwa kehadiran para pemain baru ini berpotensi memecah perhatian pasar. Investor yang awalnya hanya berfokus pada kelompok tujuh saham teknologi raksasa (Magnificent Seven) kini mulai melirik emiten-emiten lain. Kendati demikian, Hall menilai pergeseran posisi ini tidak mengurangi peran penting Nvidia sebagai pemain utama dalam ekosistem AI di masa depan.

Koreksi pada saham Nvidia juga sejalan dengan tren pasar semikonduktor yang lebih luas. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE tercatat merosot hampir 19 persen dari level tertinggi sepanjang masa karena kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan tren investasi AI.

Kini, perhatian pelaku pasar tertuju pada tanggal 30 Juli 2026 saat Apple dijadwalkan merilis laporan pendapatan kuartal ketiganya, di mana manajemen sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan penjualan berkisar antara 14-17 persen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article