Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Aset Keuangan Syariah per Desember 2025 Tembus Rp3.100 triliun
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (IDN Times/Triyan).
  • Total aset keuangan syariah nasional tembus Rp3.100 triliun per Desember 2025, tumbuh 8,61 persen yoy dengan dukungan stabilitas sektor jasa keuangan yang tetap terjaga.
  • Perbankan syariah mencatat pembiayaan naik 9,58 persen dan DPK meningkat 10,14 persen yoy, sementara kapitalisasi pasar modal syariah melonjak hingga Rp8.900 triliun.
  • Indeks literasi keuangan syariah mencapai 43,4 persen, namun tingkat inklusi masih rendah sehingga kolaborasi lintas pihak dinilai penting untuk memperluas partisipasi masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan industri keuangan syariah nasional terus mencatatkan pertumbuhan positif. Nilai total aset keuangan syariah mencapai Rp3.100 triliun per Desember 2025 atau tumbuh 8,61 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan kinerja tersebut ditopang oleh stabilitas sektor jasa keuangan syariah yang tetap terjaga.

“Stabilitas sektor jasa keuangan syariah tangguh dan resilient, tercermin dari kinerja intermediasi yang terus tumbuh,” ujarnya dalam penutupan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah 2026, Kamis (2/4/2026).

1. Pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,58 persen

ilustrasi uang kertas (unsplash.com/@moneyphotos)

Secara rinci, aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp1.067 triliun. Sementara itu, pasar modal syariah mencapai Rp1.800 triliun, dan industri keuangan nonbank (IKNB) syariah sebesar Rp188 triliun.

"Dari sisi intermediasi, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,58 persen yoy menjadi Rp705 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat 10,14 persen yoy," ungkapnya.

Friderica yang akrab disapai Kiki menjelaskan saat ini nilai kapitalisasi pasar modal syariah melonjak 31,4 persen yoy menjadi Rp8.900 triliun. Di saat yang sama, nilai asset under management (AUM) syariah, aset asuransi syariah, serta piutang pembiayaan syariah turut mencatatkan tren peningkatan.

2. Fondasi dan peluang ekonomi syariah besar

ilustrasi uang (pexels.com/Pixabay)

Friderica menilai, fondasi yang kuat ini menjadi modal penting bagi pengembangan industri keuangan syariah ke depan. Apalagi, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi demografi.

Dengan populasi Muslim mencapai 244,7 juta jiwa, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup halal, permintaan terhadap produk dan layanan keuangan syariah diproyeksikan terus tumbuh.

"Fondasi ekonomi dan keuangan syariah yang sudah baik tersebut Juga tentunya menjadi fondasi kuat bagi perekonomian Indonesia," tuturnya.

Selain itu, dukungan pemerintah dan percepatan digitalisasi dinilai akan mempercepat inklusi keuangan syariah di berbagai daerah.

“Potensi ini harus terus kita dorong agar keuangan syariah dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional,” kata Friderica.

3. Indeks literasi keuangan syariah capai 43,4 persen

Kepala Eksekutif PEPK OJK Dicky Kartikoyono. (Dok/Istimewa).

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Dicky Kartikowiyono, mengatakan penguatan literasi keuangan, khususnya keuangan syariah, dinilai masih memiliki ruang besar untuk dioptimalkan. Hal ini seiring dengan masih rendahnya tingkat inklusi, meskipun pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah tergolong cukup baik.

Menurutnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan syariah secara lebih luas.

“Penguatan literasi keuangan termasuk keuangan syariah ini masih bisa kita optimalkan. Menteri Agama dan Menteri Koperasi juga sangat konsen bagaimana kita bisa bersama-sama melakukan penguatan,” ujarnya.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan, indeks literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,4 persen. Namun, tingkat inklusinya masih relatif rendah. Menurut Dicky, kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya umat Islam, sebenarnya sudah memahami konsep ekonomi syariah. Namun, tantangan utama adalah mendorong mereka untuk masuk dan aktif dalam ekosistem keuangan syariah.

“Artinya pemahaman umat Islam cukup baik, tapi tugas kita mengajak mereka masuk ke dalam sistem ini masih menjadi tantangan,” jelasnya.

Editorial Team