Bahlil Buka Peluang Beli Minyak Diskon dari Arab Saudi

Bahlil membuka peluang pembelian minyak mentah dari Arab Saudi selama harga dan pengadaannya efisien serta tidak melanggar aturan.
Saudi Aramco memberikan diskon minyak Arab Light untuk pembeli Asia pada November, sementara harga untuk Eropa naik.
Biaya pengiriman melalui kawasan Selat Hormuz melonjak dan menambah sekitar 33 dolar AS per barel.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membuka peluang Indonesia membeli minyak mentah dari Arab Saudi yang saat ini memberikan potongan harga.
Bahlil mengatakan pemerintah tidak membatasi sumber minyak mentah yang akan dibeli. Selama harga dan pengadaannya efisien bagi negara serta tidak melanggar aturan, sumber minyak tersebut akan menjadi prioritas.
"Intinya begini, bagi kami, dari mana pun sumber minyaknya, selama itu efisien untuk kebaikan negara dan tidak melanggar aturan, maka akan menjadi prioritas negara," kata Bahlil di Djakarta Theater XXI, Senin (12/10/2026).
1. Arab Saudi pangkas harga minyak untuk Asia

Ilustrasi harga minyak turun (IDN Times/Arief Rahmat) Dilansir situs Oil Price, Saudi Aramco memangkas harga minyak mentah untuk pembeli di Asia pada November. Sebaliknya, perusahaan minyak Arab Saudi itu menaikkan harga untuk pengiriman ke Eropa.
Berdasarkan laporan, Aramco menawarkan minyak mentah jenis Arab Light dengan diskon lima dolar AS per barel dari patokan Dubai/Oman untuk pembeli Asia bulan depan. Besaran potongan itu bertambah tiga dolar AS per barel dari bulan sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak Juni 2020.
Sementara itu, harga minyak mentah untuk pembeli Eropa pada November naik tiga dolar AS per barel untuk seluruh jenis minyak dibandingkan dengan Oktober. Harga minyak untuk pembeli Amerika Serikat tetap sama seperti bulan sebelumnya.
2. Biaya pengiriman dari Teluk Persia melonjak

Ilustrasi harga minyak naik (IDN Times/Arief Rahmat) Pemangkasan harga untuk pembeli Asia terjadi ketika biaya pengiriman minyak melalui kawasan Selat Hormuz melonjak. Arab Saudi menggunakan skema pengiriman antar-kapal (ship-to-ship) di Teluk Oman untuk mengurangi risiko serangan Iran terhadap kapal pengangkut minyak mentah.
Dalam skema tersebut, kapal berukuran lebih kecil mengambil minyak dari Teluk Persia dan membawanya melewati Selat Hormuz. Minyak kemudian dipindahkan ke kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) yang menunggu di lepas pantai Oman.
Pola pengiriman tersebut membuat biaya transportasi minyak dari Teluk Persia ke berbagai tujuan, terutama Asia, meningkat. Tarif sewa VLCC bahkan mencapai rekor 1,3 juta dolar AS per hari akibat situasi di Selat Hormuz. Angka itu melonjak 43 kali lipat dibandingkan Januari 2026 yang berada di kisaran 30 ribu dolar AS per hari, berdasarkan data Poten & Partners yang dikutip Gulf News.
3. Ongkos kirim membengkak 33 dolar AS per barel

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat) Kenaikan biaya pengiriman turut meningkatkan biaya penerimaan minyak dari Teluk Persia. Data Poten & Partners menunjukkan biaya pengiriman kini meningkat sekitar 33 dolar AS per barel terhadap minyak yang dikirim dari kawasan tersebut. Pada Januari, biayanya hanya sekitar 1,73 dolar AS per barel.
Dengan kondisi tersebut, biaya pengiriman kini mencapai sekitar 27 persen dari total biaya penerimaan kargo VLCC. Pada Januari, porsinya hanya sekitar tiga persen.























