Bank Jakarta Siapkan 4 Strategi Dorong Jakarta Jadi Kota Inklusif

- Bank Jakarta menyiapkan empat strategi utama untuk menjadikan Jakarta kota inklusif, mencakup perluasan inklusi keuangan, penguatan UMKM, pembiayaan perumahan, dan peningkatan iklim investasi.
- Direktur Utama Agus H. Widodo menegaskan Bank Jakarta berperan sebagai financial operating system yang menghubungkan warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem ekonomi kota.
- Agus menekankan prinsip no one left behind dalam transformasi digital agar kemajuan teknologi menghadirkan peluang setara bagi seluruh lapisan masyarakat di Jakarta.
Jakarta, IDN Times - Bank Jakarta menyiapkan empat strategi utama untuk mendukung visi Jakarta sebagai kota yang inklusif, terkoneksi, dan berkelanjutan. Strategi tersebut mencakup perluasan inklusi keuangan, penguatan UMKM, akses pembiayaan perumahan, hingga peningkatan daya tarik investasi.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menegaskan peran perbankan daerah kini tidak lagi sebatas menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Bank Jakarta diarahkan menjadi penghubung berbagai elemen pembangunan kota melalui sistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, masa depan Jakarta tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur fisik dan kemajuan teknologi. Faktor utama justru terletak pada keterhubungan antar elemen ekonomi dan masyarakat.
"Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat," ujar Agus dalam acara Urban Talks BUMD: Katalisator Kota, Akselerator Pembangunan yang merupakan bagian dari rangkaian Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
1. Bank Jakarta jadi financial operating system kota

Agus menjelaskan, Bank Jakarta ingin mengambil peran sebagai financial operating system yang menghubungkan seluruh aktivitas ekonomi di ibu kota.
Ia membandingkan peran tersebut dengan moda layanan kota lain. MRT Jakarta sebagai mobility operating system, Transjakarta sebagai platform mobilitas publik, dan PAM Jaya sebagai pengelola layanan air.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Bank Jakarta menetapkan empat strategi utama. Pertama, memperluas inklusi keuangan dengan memastikan seluruh warga memiliki akses layanan keuangan yang mudah, aman, dan digital.
Menurut Agus, masih ada masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan formal sehingga menjadi tantangan utama.
Strategi kedua adalah penguatan UMKM. Menurut Agus, dukungan terhadap UMKM tidak cukup hanya dalam bentuk pembiayaan.
Diperlukan perluasan akses pasar, percepatan digitalisasi usaha, serta penguatan rantai pasok agar UMKM naik kelas dan lebih kompetitif.
“UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan,” katanya.
2. Ingin memperluas akses pembiayaan perumahan (housing inclusion)

Strategi ketiga adalah memperluas akses pembiayaan perumahan atau housing inclusion. Agus menilai kepemilikan rumah terjangkau masih menjadi tantangan serius, terutama bagi generasi muda di Jakarta.
"Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta," ujarnya.
Strategi keempat adalah penguatan iklim investasi melalui investment enablement. Agus menegaskan pembangunan Jakarta sebagai kota global tidak bisa hanya bergantung pada APBD, tetapi membutuhkan partisipasi investasi yang kuat dan berkelanjutan.
“Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit, tetapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota,” kata Agus.
3. Tekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam transformasi digital

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam transformasi digital dan pembangunan kota. Menurutnya, kemajuan teknologi harus menghadirkan peluang yang setara bagi semua lapisan masyarakat.
“Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal,” tuturnya.
Agus menutup dengan menegaskan keberhasilan Jakarta tidak hanya diukur dari megahnya pembangunan fisik, tetapi dari luasnya akses kesempatan ekonomi bagi warganya. Bank Jakarta, kata dia, ingin menjadi penghubung utama dalam ekosistem tersebut.
"Ukuran keberhasilan Jakarta bukan seberapa tinggi gedung yang berdiri, tetapi seberapa banyak mimpi yang dapat diwujudkan oleh warganya. Jika MRT menghubungkan titik-titik kota, maka Bank Jakarta akan menghubungkan peluang-peluang kehidupan," tegasnya.













![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Cek Kamu akan Terlahir Jadi CEO atau Karyawan Biasa](https://image.idntimes.com/post/20250411/1000080289-5b24f5a14d3cd8dcd6ed21352b3d81b1-8e79354d356775a53c1f354e2534f81e.jpg)



