Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BI Pede Rupiah Bisa Menguat ke Rp16.800 Tahun Depan

BI Pede Rupiah Bisa Menguat ke Rp16.800 Tahun Depan
Kantor pusat Bank Indonesia (BI). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • Bank Indonesia memproyeksikan rupiah akan menguat ke kisaran Rp16.800–17.500 per dolar AS pada 2027, dari posisi saat ini sekitar Rp18 ribu.
  • Perry Warjiyo menjelaskan lima faktor utama penguatan rupiah, termasuk perbaikan ekonomi global, fundamental domestik yang kuat, dan optimalisasi devisa hasil ekspor melalui PT DSI.
  • BI juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar lewat intervensi pasar serta koordinasi erat dengan kebijakan fiskal pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memprediksi nilai tukar atau kurs rupiah bisa menguat ke Rp16.800-17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2027. Sementara itu, saat ini kurs rupiah masih bergerak di kisaran Rp18 ribu per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp18.058 per dolar AS sore ini.

"Mengenai nilai tukar, kami memandang 2027 nilai tukar akan menguat. Rupiah kisarannya sama dengan pemerintah Rp16.800 sampai Rp17.500," kata Perry dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, ada lima hal yang melatarbelakangi prediksi BI tersebut. Pertama, perekonomian dunia diprediksi membaik, tak seburuk tahun ini. Kondisi itu diperkirakan bakal memicu aliran modal asing masuk (inflow) ke negara berkembang, salah satunya Indonesia.

"Tentu saja kondisi ekonomi tidak akan seburuk tahun ini. Pertumbuhan ekonomi dunia itu akan naik ke 3,1 persen. Tentu saja kondisi-kondisi yang sekarang geopolitik kita harapkan akan meredam dan harapannya akan mendorong inflow ke negara emerging market termasuk Indonesia," tutur Perry.

Faktor kedua adalah perekonomian Indonesia yang diklaim masih dalam kondisi kuat dari sisi fundamental.

"Pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasinya rendah, defisit transaksi berjalan juga rendah, imbal hasilnya menarik, kemudian cadangan devisa juga lebih dari cukup. Jadi fundamental kita akan mendukung penguatan nilai tukar," tutur Perry.

Faktor ketiga adalah kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI. Kehadiran DSI dipercaya akan mengoptimalkan devisa hasil ekspor (DHE) dari ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis.

"Sehingga ini akan mendukung tidak hanya pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung kenaikan cadangan devisa dan penguatan nilai tukar rupiah," ucap Perry.

Selain itu, faktor keempat adalah BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai kebijakan, termasuk intervensi pasar. Dan, faktor kelima ialah koordinasi yang erat antara kebijakan moneter BI dengan kebijakan fiskal pemerintah.

"Jadi lima faktor itu rupiah insya Allah tahun depan akan menguat kisarannya Rp 16.800-17.500," ujar Perry.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More