Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI: Pembiayaan Berkualitas Jadi Kunci Dongkrak Produktivitas Ekonomi
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti di Peking University pada Jumat (8/3/2024) (Dok. ANTARA FOTO)

Jakarta, IDN TimesBank Indonesia (BI) menegaskan pembiayaan harus lebih diarahkan untuk mendorong sektor produktif, bukan sekadar mengejar pertumbuhan kredit. Transformasi pembiayaan dinilai penting agar mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing dunia usaha.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan untuk memastikan pembiayaan memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian, diperlukan transformasi dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menuju pembiayaan yang berkualitas, dari pembiayaan individual menuju pembiayaan berbasis ekosistem, serta dari berbagai program yang berjalan sendiri-sendiri menuju orkestrasi nasional melalui sinergi antarpemangku kepentingan.

"Dampak kebijakan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar hingga pedagang, petani, pengrajin, dan wirausaha muda di berbagai daerah," ujar Destry dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).

'

1. Pembiayaan UMKM jadi bagian penting memperkuat sektor produktif dan transformasi ekonomi nasional

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Menurutnya, dalam konteks tersebut, penguatan pembiayaan UMKM menjadi salah satu bagian penting dari upaya memperkuat sektor produktif dan transformasi ekonomi nasional.

Sejalan dengan itu, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan untuk mendorong pembiayaan sektor-sektor prioritas melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).

"Dari sisi sistem pembayaran, Bank Indonesia juga terus memperkuat digitalisasi melalui QRIS, BI-FAST, dan SNAP guna memperluas integrasi pelaku usaha ke dalam ekosistem keuangan digital. Berbagai bauran kebijakan tersebut saling melengkapi dalam mendukung pembiayaan yang lebih inklusif, produktif, dan berdampak bagi perekonomian," jelasnya.

2. UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Sekretaris Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Loto Srinaita Ginting, menyampaikan bahwa UMKM berperan strategis sebagai penggerak perekonomian nasional.

Dengan demikian, pemerintah akan terus memperkuat berbagai kebijakan dan program untuk memperluas akses pembiayaan serta meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM, antara lain melalui penguatan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dukungan UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pembentukan holding UMKM.

Sementara itu, ekonom perbankan, Josua Pardede menilai bahwa di tengah pertumbuhan kredit menunjukkan tren yang positif dan didukung oleh akselerasi digitalisasi UMKM, masih terdapat ruang untuk memperluas pembiayaan pada sektor-sektor yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, khususnya industri pengolahan.

"Kredit UMKM diharapkan dapat terus didorong melalui sinergi implementasi POJK Kredit UMKM, insentif likuiditas kebijakan Bank Indonesia, serta program prioritas Pemerintah yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar oleh perbankan. Terjaganya stabilitas indikator perbankan sehingga turut mendukung pembiayaan produktif UMKM, khususnya modal kerja, menjadi prasyarat pertumbuhan inklusif ke depan," ujar Josua.

3. Pertumbuhan kredit capai 12,67 persen yang cerminkan kuatnya dukungan pada sektor keuangan

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Josua menjelaskan berbagai kebijakan tersebut terus mendukung penguatan pembiayaan perbankan. Pertumbuhan kredit pada Juni 2026 mencapai 12,67 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 11,51 persen (yoy). Perkembangan ini menunjukkan semakin kuatnya dukungan sektor keuangan terhadap aktivitas ekonomi serta menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan. Pertumbuhan kredit yang tinggi terutama didukung oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi mencapai 24,90 persen (yoy).

Bahkan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen, didukung potensi permintaan sejalan masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.490 triliun atau 21,52 persen dari plafon kredit yang tersedia.

"Dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit (lending appetite) juga masih longgar serta didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tinggi yaitu mencapai 10,21 persen (yoy)," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article