Airlangga Optimistis Kredit Menguat usai BI Tahan Suku Bunga Acuan

- Airlangga Hartarto mengapresiasi keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan 5,75 persen karena dinilai mampu mendorong pertumbuhan kredit dan pergerakan sektor riil di tengah kondisi ekonomi saat ini.
- Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan kebijakan menahan BI rate bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta memastikan inflasi tetap dalam kisaran target 2,5 persen ±1 persen.
- BI juga memperluas kebijakan insentif dan instrumen moneter untuk menarik investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas rupiah, memperdalam pasar uang dan valas, serta meningkatkan likuiditas domestik.
Jakarta, IDN Times - Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 5,75 persen pada Juli 2026.
Menurutnya, keputusan tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan kredit di tengah kondisi ekonomi saat ini.
"Dalam situasi seperti sekarang, tingkat suku bunga yang dipertahankan itu bisa mendorong pertumbuhan sektor kredit," ujar Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (23/7/2026).
1. Suku bunga yang terjaga bisa dorong pergerakan sektor rill

Ia menambahkan, suku bunga yang tetap terjaga juga penting untuk mendukung pergerakan sektor riil.
"Jadi kita mengapresiasi BI yang mempertahankan tingkat suku bunga karena tingkat suku bunga ini penting agar sektor riil bisa bergerak," katanya.
Keputusan mempertahankan BI rate di level 5,75 persen tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026. Selain menahan BI rate, BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di level 4,75 persen dan suku bunga lending facility sebesar 6,5 persen.
2. Alasan BI tahan BI rate

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan merupakan langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Kebijakan moneter tersebut juga diarahkan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen ±1 persen," ujarnya.
3. BI memperluas insentif untuk dorong aliran modal asing masuk

Perry menambahkan, BI akan memperluas kebijakan insentif dan sejumlah instrumen lainnya guna meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas), serta meningkatkan likuiditas.
"Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan valas, serta meningkatkan likuiditas," ujar Perry.















![[QUIZ] Di Umur Berapa Kamu Akan Punya Uang Rp100 Juta? Cari Tahu di Quiz Ini!](https://image.idntimes.com/post/20241011/vitaly-taranov-ocrpjce6gpk-unsplash-2d56ee26a574eaf2b00cefe4e3b89b72.jpg)


