BI Soroti Tekanan Global yang Bikin Rupiah Melemah

- Rupiah dibuka melemah 48 poin ke Rp17.951 per dolar AS, tertekan penguatan dolar akibat inflasi AS di atas perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Ketidakpastian konflik Timur Tengah menjaga harga minyak di atas 105 dolar AS per barel, sementara sentimen risk-off meningkatkan risiko arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
- Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar offshore dan domestik serta membeli SBN; analis memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.850-Rp18.000 per dolar AS hari ini.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan ketidakpastian konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 48 poin atau 0,27 persen ke level Rp17.951 per dolar AS pada perdagangan Kamis (15/10/2026) pagi.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin G. Hutapea mengatakan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kenaikan inflasi AS yang melampaui perkiraan pasar. Kondisi ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed.
Selain itu, ada faktor ketidakpastian dari penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 105 dolar AS per barel, kondisi ini meningkatkan risiko fiskal ke depan.
"Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen," kata Erwin dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).
1. Sentimen eksternal mendominasi pelemahan rupiah

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp) Memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus meningkatkan risiko arus keluar modal dari portofolio investasi di negara-negara berkembang (emerging markets). Tekanan ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.
Meski demikian, Erwin menegaskan bahwa pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,17 persen. Dari sisi eksternal, posisi cadangan devisa Indonesia juga masih terjaga. Erwin menyebut, cadangan devisa tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
Sementara itu, data cadangan devisa sepanjang Januari–Agustus 2026 menunjukkan tren penurunan pada awal tahun, sebelum berfluktuasi pada bulan-bulan berikutnya. Pada Januari, cadangan devisa tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS, kemudian turun menjadi 151,9 miliar dolar AS pada Februari dan 148,2 miliar dolar AS pada Maret.
Penurunan berlanjut pada April menjadi 146,2 miliar dolar AS dan Mei sebesar 144,9 miliar dolar AS. Cadangan devisa kemudian meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada Juni, turun tipis menjadi 145,3 miliar dolar AS pada Juli, sebelum kembali naik menjadi 146,5 miliar dolar AS pada Agustus.
2. BI hadir di pasar pastikan mekanisme pasar berjalan baik

Ilustrasi Bank indonesia (bi.go.id) Bank Indonesia memastikan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Selain itu, Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," ujarnya.
3. Rupiah masih akan melemah seharian

ilustrasi lembaran uang kertas rupiah Indonesia (pexels.com/Robert Lens) Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksikan nilai tukar rupiah bakal melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Pelemahan rupiah dipicu kenaikan inflasi konsumen AS yang lebih tinggi dari perkiraan sehingga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga seiring meningkatnya ekspektasi suku bunga The Fed setelah rilis data inflasi konsumen AS. Investor juga masih mencermati rilis data inflasi produsen AS yang dijadwalkan keluar malam ini. Data tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed dan pergerakan dolar AS.
"Hari ini rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.850-Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini," ujar dia.





















