Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bitcoin Masih di Bawah Rekor, Begini Strategi Investasinya
Ilustrasi Bitcoin. (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Harga Bitcoin pada 8 September 2026 berada 37,5 persen di bawah rekor yang tercatat pada 6 Oktober 2025.
  • Koreksi siklus 2025-2026 tercatat 54,25 persen, lebih kecil dibandingkan tiga siklus Bitcoin sebelumnya.
  • PINTU menekankan strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko, kemampuan finansial, dan volatilitas harga Bitcoin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2014-2015

Bitcoin turun 81,6 persen dari puncaknya dan mencapai titik terendah setelah 321 hari.

2018–2019

Bitcoin turun 83,6 persen dalam 385 hari.

2022-2023

Bitcoin terkoreksi 76,7 persen. Jarak dari puncak menuju titik terendah mencapai 381 hari.

November 2024

Kenaikan Bitcoin selama Agustus 2026 menjadi penguatan bulanan terbaik sejak bulan ini.

6 Oktober 2025

Bitcoin mencapai rekor 126.198,07 dolar AS.

25 Juni 2026

Riset CoinGecko terbit dan mencatat perbedaan penurunan Bitcoin pada sejumlah siklus.

1 Juli 2026

Harga Bitcoin sempat jatuh ke sekitar 57.735 dolar AS.

Agustus

Bitcoin kembali menguat sekitar 25 persen selama bulan ini.

1 September 2026

Arus dana masuk bersih ETF Bitcoin spot tercatat sekitar 216,70 juta dolar AS. Pasar juga memperkirakan peluang sekitar 66 persen untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve 25 basis poin.

sehari kemudian

Terjadi arus dana keluar bersih ETF Bitcoin spot sekitar 236,46 juta dolar AS.

8 September 2026

Harga Bitcoin tercatat 78.937 dolar AS, sekitar 37,5 persen di bawah rekor.

16 September 2026

Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan yang diperkirakan pasar berpeluang menaikkan suku bunga 25 basis poin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Harga Bitcoin masih berada di bawah rekor tertingginya setelah terkoreksi sepanjang 2026.
  • Who?
    Bitcoin, PINTU, Tim Pintu Academy, investor, CoinGecko, CoinDesk, dan Federal Reserve.
  • Where?
    Jakarta; data harga dicatat Pintu.co.id dan pembelian tersedia melalui aplikasi PINTU.
  • When?
    Per 8 September 2026, harga Bitcoin tercatat 78.937 dolar AS.
  • Why?
    Volatilitas harga serta kebijakan suku bunga, likuiditas, inflasi, dan sentimen aset berisiko dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin.
  • How?
    Investor dapat menggunakan DCA dengan pembelian nominal relatif sama secara rutin, sambil menyesuaikan alokasi dengan kondisi keuangan dan risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bitcoin belum kembali setinggi dulu. Harganya pernah turun, lalu naik lagi selama Agustus. PINTU bilang orang yang mau membeli Bitcoin perlu melihat uang yang dimiliki dan risiko harga yang bisa berubah. Ada cara membeli sedikit-sedikit secara rutin, namanya DCA. Tetapi cara itu tidak membuat orang pasti untung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Strategi DCA memberi kerangka pembelian Bitcoin yang teratur karena nominal yang sama dapat digunakan secara rutin tanpa mengandalkan perkiraan harga tertinggi atau terendah. Pencatatan transaksi dan evaluasi berkala juga membuat investor memiliki acuan atas harga beli, jumlah Bitcoin, dana yang dikeluarkan, serta biaya transaksi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Harga Bitcoin belum kembali ke level tertingginya setelah terkoreksi sepanjang 2026. Data Pintu.co.id per 8 September 2026 mencatat harga Bitcoin di 78.937 dolar AS, atau sekitar 37,5 persen lebih rendah dari rekor 126.198,07 dolar AS pada 6 Oktober 2025.

Harga Bitcoin sempat jatuh ke sekitar 57.735 dolar AS pada 1 Juli 2026. Setelah itu, aset crypto tersebut kembali menguat dengan kenaikan sekitar 25 persen selama Agustus. Kinerja tersebut menjadi penguatan bulanan terbaik Bitcoin sejak November 2024.

Meski harga telah pulih dari titik terendah siklusnya, pergerakan Bitcoin masih cukup fluktuatif. PINTU menilai kondisi tersebut perlu dihadapi dengan strategi investasi yang disesuaikan dengan profil risiko dan kemampuan finansial, bukan dengan upaya menebak harga terendah.

Platform investasi aset keuangan digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu menilai volatilitas menjadi bagian yang perlu diperhitungkan ketika berinvestasi di Bitcoin.

Karena itu, saat harga terkoreksi, investor tidak harus terburu-buru masuk hanya karena menganggap harga sudah murah. Alokasi dana dan risiko yang sanggup ditanggung perlu menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

1. Koreksi Bitcoin belum sedalam siklus sebelumnya

Ilustrasi aplikasi kripto (IDN Times/Aditya Pratama)

Penurunan Bitcoin pada siklus 2025-2026 sejauh ini tercatat lebih kecil dibandingkan tiga siklus sebelumnya. Riset CoinGecko yang terbit pada 25 Juni 2026 mencatat perbedaan tersebut berdasarkan penurunan dari level tertinggi hingga titik terendah setiap siklus.

Pada siklus 2014-2015, Bitcoin turun 81,6 persen dari puncaknya dan mencapai titik terendah setelah 321 hari. Penurunan pada siklus 2018–2019 lebih besar, yakni 83,6 persen dalam 385 hari.

Sementara itu, Bitcoin terkoreksi 76,7 persen pada siklus 2022-2023. Jarak dari puncak menuju titik terendah pada periode tersebut mencapai 381 hari. Kemudian, siklus 2025-2026 mencatat penurunan terdalam sebesar 54,25 persen.

Perhitungan itu menggunakan level tertinggi 126.198 dolar AS dan titik terendah 57.735 dolar AS, dengan durasi 268 hari. Meski secara historis, koreksi kali ini belum sedalam siklus sebelumnya, data tersebut tidak dapat memastikan pola serupa akan terulang.

Dinamika permintaan juga terlihat dari pergerakan dana ETF Bitcoin spot. Pada 1 September 2026, arus dana masuk bersih tercatat sekitar 216,70 juta dolar AS. Namun, sehari kemudian terjadi arus dana keluar bersih sekitar 236,46 juta dolar AS.

2. DCA jadi opsi investasi berkala

Ilustrasi aset kripto. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Tim Pintu Academy menyebut dollar cost averaging (DCA) sebagai salah satu strategi yang bisa dipakai investor dengan target jangka panjang. Cara kerjanya dengan membeli Bitcoin menggunakan nominal yang relatif sama secara rutin. Dengan metode ini, investor tidak perlu menentukan waktu pembelian berdasarkan perkiraan harga tertinggi atau terendah.

Pada harga Bitcoin yang lebih rendah, nominal pembelian yang sama akan menghasilkan jumlah Bitcoin lebih banyak. Sebaliknya, ketika harga lebih tinggi, jumlah Bitcoin yang didapat lebih sedikit.

Namun, DCA bukan cara untuk memastikan investor mendapat keuntungan. Strategi tersebut juga tidak menghapus risiko dari perubahan harga Bitcoin. DCA lebih berfokus pada konsistensi investasi dibandingkan upaya menentukan waktu terbaik untuk membeli.

Nominal pembelian perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan setelah kebutuhan rutin dan dana darurat diperhitungkan. Investor juga dapat menentukan jadwal pembelian, misalnya setiap bulan setelah menerima penghasilan.

Setiap transaksi dapat dicatat, mulai dari harga beli, jumlah rupiah yang dikeluarkan, Bitcoin yang didapat hingga biaya transaksi. Evaluasi juga perlu dilakukan secara berkala dan tidak semata-mata berdasarkan pergerakan harga dalam waktu singkat.

Jika kondisi keuangan berubah, investor dapat menghentikan atau menyesuaikan alokasi investasinya.

3. Risiko Bitcoin perlu dipahami

ilustrasi kripto (IDN Times/Aditya Pratama)

Investor juga perlu memperhitungkan risiko sebelum membeli Bitcoin. Pergerakan harga yang tinggi dapat membuat nilai aset turun cukup besar dalam waktu singkat.

Harga Bitcoin tidak hanya bergerak mengikuti kondisi pasar crypto. Kebijakan suku bunga, likuiditas, inflasi, dan sentimen terhadap aset berisiko juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi pergerakannya.

Per 1 September 2026, pasar memperkirakan peluang sekitar 66 persen untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16 September 2026. Data tersebut dikutip CoinDesk.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter dapat berdampak pada minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Secara historis, September juga termasuk bulan dengan kinerja yang relatif lemah bagi Bitcoin.

Namun, catatan historis tersebut tidak dapat menjadi patokan tunggal untuk memperkirakan harga Bitcoin ke depan. Investor tetap perlu memperhitungkan jangka waktu investasi, toleransi terhadap volatilitas, kondisi keuangan, dan tujuan investasi.

Bitcoin juga tidak harus dibeli satu koin penuh. Aset tersebut dapat dibagi hingga delapan angka desimal sehingga nominal pembelian dapat disesuaikan dengan kemampuan investor.

Di PINTU, pembelian Bitcoin tersedia mulai Rp11.000. Transaksi dapat dilakukan melalui aplikasi setelah investor menyelesaikan pendaftaran dan verifikasi identitas sesuai ketentuan yang berlaku.

Jumlah Bitcoin yang diperoleh dari nominal tersebut dapat berubah karena harga kripto bergerak setiap saat. Dengan demikian, Rp11.000 tidak selalu menghasilkan jumlah Bitcoin yang sama.

Informasi mengenai pembelian Bitcoin, strategi DCA, dan siklus pasar tersedia melalui Pintu Academy di platform PINTU.

Curated For You

Editorial Team

Related Article