Kenapa September Sering Disebut Bulan Mimpi Buruk bagi Bitcoin?

- Data 2013–2025 mencatat Bitcoin turun pada delapan dari 13 September, dengan rata-rata penurunan sekitar 4 persen, meski September 2023–2025 justru berakhir naik.
- Tekanan September dapat muncul saat investor mengambil keuntungan setelah reli; pada 2026, Bitcoin memasuki bulan ini usai kenaikan kuat sepanjang Agustus.
- Arah Bitcoin pada September juga dipengaruhi inflasi, data tenaga kerja AS, kebijakan The Fed, permintaan, dan sentimen pasar; pola historis bukan kepastian harga turun.
Bitcoin memasuki September 2026 dengan satu pola historis yang sering menjadi perhatian investor. Selama bertahun-tahun, September tercatat sebagai salah satu bulan ketika harga Bitcoin lebih sering mengalami penurunan dibandingkan kenaikan. Meski demikian, catatan tersebut tidak berarti Bitcoin sudah pasti melemah setiap kali memasuki September.
Data historis memang menunjukkan adanya kecenderungan tersebut, tetapi harga Bitcoin tetap bergerak sesuai kondisi pasar pada saat itu. Faktor seperti kondisi ekonomi, sentimen investor, dan permintaan pasar dapat membuat hasil September berbeda setiap tahunnya. Jadi, mengapa September tetap sering disebut sebagai bulan mimpi buruk bagi Bitcoin?
Table of Content
1. Data historis menunjukkan September sering berakhir merah

ilustrasi market yang turun (unsplash.com/Behnam Norouzi) Alasan utama munculnya reputasi tersebut adalah catatan kinerja Bitcoin selama bertahun-tahun. Dalam periode 2013 hingga 2025, Bitcoin tercatat menutup delapan dari 13 bulan September dengan penurunan harga. Rata-rata penurunannya dalam periode tersebut juga sekitar 4 persen, sehingga September sering disebut sebagai salah satu bulan terlemah bagi Bitcoin.
Beberapa September bahkan mencatat penurunan yang cukup besar, seperti pada 2014 ketika Bitcoin turun sekitar 19 persen. Namun, data tersebut juga menunjukkan bahwa hasilnya tidak selalu negatif karena Bitcoin mencatat kenaikan pada September 2023, 2024, dan 2025. Artinya, istilah September Effect menggambarkan kecenderungan historis, bukan jaminan yang dapat memastikan arah harga pada tahun berikutnya.
2. Aksi take profit dapat menekan harga setelah reli

ilustrasi trading (pexels.com/kaboompics) Tekanan pada September terkadang muncul setelah Bitcoin mengalami kenaikan pada bulan sebelumnya. Ketika harga sudah naik cukup tinggi, sebagian investor memilih menjual sebagian aset untuk mengamankan keuntungan. Aksi take profit yang terjadi secara bersamaan dapat meningkatkan tekanan jual dan membuat kenaikan harga sebelumnya kehilangan momentum.
Situasi ini menjadi lebih menarik pada 2026 karena Bitcoin mencatat kenaikan kuat sepanjang Agustus sebelum memasuki September. Reli yang cepat dapat membuat sebagian pelaku pasar lebih berhati-hati, terutama jika harga mulai sulit melanjutkan kenaikan. Namun, aksi ambil untung sendiri tidak selalu berarti tren Bitcoin telah berbalik karena pasar dapat kembali menguat ketika permintaan tetap tinggi.
3. Banyak faktor ekonomi yang diperhatikan pasar di September

ilustrasi penurunan ekonomi (pixabay.com/Gerd Altmann) Bitcoin saat ini semakin terhubung dengan kondisi pasar keuangan global. Perubahan suku bunga, inflasi, nilai dolar AS, dan pergerakan imbal hasil obligasi dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Karena itu, data ekonomi penting yang dirilis pada September dapat menyebabkan harga bergerak lebih cepat.
Pada September 2026, perhatian pasar juga tertuju pada laporan inflasi dan data tenaga kerja AS serta keputusan kebijakan The Fed. Data yang membuat pasar memperkirakan suku bunga lebih tinggi dapat menekan aset berisiko, sedangkan kondisi yang mendukung kebijakan lebih longgar dapat memberikan sentimen positif. Ketidakpastian mengenai faktor-faktor tersebut membuat September menjadi bulan yang perlu diperhatikan oleh investor Bitcoin.
4. Pola September tidak selalu menentukan arah harga Bitcoin

ilustrasi chart bitcoin (unsplash.com/Kanchanara) Catatan masa lalu memang menunjukkan bahwa September sering menjadi bulan yang kurang baik bagi Bitcoin, tetapi pola tersebut tidak selalu terulang setiap tahun.
Harga Bitcoin tetap dapat bergerak naik pada September ketika kondisi pasar memberikan dukungan yang kuat. Karena itu, data historis sebaiknya digunakan untuk memahami kecenderungan pasar, bukan untuk memastikan bahwa harga Bitcoin akan turun.
Hal tersebut terlihat dari beberapa tahun terakhir ketika Bitcoin justru mencatat kenaikan pada September. Kondisi ekonomi, minat investor, arus dana, dan perkembangan pasar dapat memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan pola berdasarkan bulan. Investor perlu melihat kondisi pasar saat ini agar tidak mengambil keputusan hanya karena September pernah menjadi bulan yang buruk bagi Bitcoin.
Julukan September sebagai bulan mimpi buruk membuat periode ini lebih menarik untuk diperhatikan oleh investor. Namun, kita harus bijak dalam merespons perubahan harga yang terjadi di pasar. Sikap yang tidak terburu-buru dapat membantu kita menghindari keputusan yang didorong oleh ketakutan akan penurunan harga.














![[QUIZ] Cari Tahu di Umur Berapa Kamu akan Mencapai Financial Freedom](https://image.idntimes.com/post/20250809/pexels-pavel-danilyuk-7654621_fcdf0e58-11fe-4e36-b4ca-ee76f6e09991.jpg)







