Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kenaikan Harga Minyak Bisa Menekan Harga Saham dan Bitcoin?

Kenapa Kenaikan Harga Minyak Bisa Menekan Harga Saham dan Bitcoin?
ilustrasi sumur minyak (magnific.com/ArtPhoto_studio)
  • Konflik Timur Tengah mendorong Brent mendekati 95 dolar AS per barel dan minyak AS menembus 90 dolar AS, memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali meningkat.

  • Minyak mahal menaikkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi; laba perusahaan intensif energi dapat tertekan, sementara perusahaan energi berpotensi diuntungkan.

  • Ekspektasi inflasi dan suku bunga tinggi dapat menaikkan yield obligasi, menekan saham pertumbuhan serta Bitcoin ketika investor mengurangi kepemilikan aset berisiko.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Harga minyak kembali menjadi perhatian investor setelah konflik di Timur Tengah mendorong Brent mendekati US$95 per barel. Minyak AS juga sempat menembus US$90 untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran publik terhadap inflasi.

Kenaikan harga minyak tidak otomatis membuat semua aset mengalami penurunan. Namun, jika harga bertahan tinggi dalam waktu lama, dampaknya dapat merambat ke biaya perusahaan, inflasi, dan pasar obligasi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi keputusan investor dalam memegang aset berisiko.

  1. 1. Minyak mahal dapat membuat inflasi kembali naik

    Kenapa Kenaikan Harga Minyak Bisa Menekan Harga Saham dan Bitcoin?
    ilustrasi inflasi (freepik.com/freepik)

    Minyak digunakan dalam berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari transportasi hingga proses produksi dan distribusi barang. Ketika harga minyak naik, biaya bahan bakar dan pengiriman juga dapat meningkat sehingga perusahaan menghadapi pengeluaran yang lebih besar. Perusahaan kemudian dapat menaikkan harga produk untuk menutupi biaya tersebut, sehingga harga barang dan jasa di tingkat konsumen ikut terdorong naik.

    Dampaknya akan semakin terasa jika harga minyak tetap tinggi dalam waktu yang cukup lama. Kenaikan harga energi yang bertahan lama dapat membuat inflasi lebih sulit turun karena biaya transportasi dan produksi masih berada pada tingkat tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena inflasi yang kembali meningkat dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.

  2. 2. Kenaikan harga minyak bisa mengurangi keuntungan perusahaan

    Kenapa Kenaikan Harga Minyak Bisa Menekan Harga Saham dan Bitcoin?
    ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Zifeng Xiong)

    Harga minyak yang lebih tinggi juga dapat langsung memengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Maskapai penerbangan, perusahaan logistik, transportasi, dan industri yang menggunakan banyak energi harus mengeluarkan biaya lebih besar ketika harga bahan bakar meningkat. Jika perusahaan tidak dapat menaikkan harga produknya secara sebanding, keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan dapat berkurang.

    Penurunan keuntungan dapat memengaruhi penilaian investor terhadap saham perusahaan tersebut. Investor biasanya memperkirakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba sebelum menentukan berapa harga yang layak untuk sebuah saham. Karena itu, perusahaan yang sangat bergantung pada bahan bakar dapat menghadapi tekanan lebih besar, sedangkan perusahaan energi justru berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga minyak.

  3. 3. Yield obligasi yang naik bisa menekan saham

    Kenapa Kenaikan Harga Minyak Bisa Menekan Harga Saham dan Bitcoin?
    ilustrasi uang (pexels.com/Саша Алалыкин)

    Kenaikan harga minyak juga dapat memengaruhi pasar saham melalui pasar obligasi. Jika investor memperkirakan minyak mahal akan membuat inflasi bertahan lebih lama, mereka dapat memperkirakan suku bunga akan berada pada tingkat tinggi lebih lama. Ekspektasi tersebut dapat mendorong yield obligasi pemerintah naik karena investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

    Perubahan yield menjadi perhatian khusus bagi saham teknologi dan perusahaan dengan valuasi tinggi. Saham tersebut biasanya dihargai berdasarkan harapan terhadap keuntungan besar yang baru diperoleh pada masa depan. Ketika yield obligasi meningkat, keuntungan dari obligasi menjadi lebih menarik dan nilai keuntungan perusahaan di masa depan menjadi relatif lebih rendah, sehingga tekanan terhadap saham pertumbuhan dapat meningkat.

  4. 4. Bitcoin ikut tertekan saat investor mengurangi risiko

    Kenapa Kenaikan Harga Minyak Bisa Menekan Harga Saham dan Bitcoin?
    ilustrasi Bitcoin (unsplash.com/Amjith S)

    Bitcoin tidak memiliki hubungan langsung dengan harga minyak seperti perusahaan yang membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan bisnisnya. Pengaruh minyak terhadap Bitcoin lebih banyak terjadi melalui perubahan kondisi ekonomi dan perilaku investor. Ketika minyak mahal meningkatkan kekhawatiran inflasi, yield obligasi, dan ketidakpastian pasar, investor dapat mulai mengurangi kepemilikan aset yang dianggap lebih berisiko.

    Dalam kondisi tersebut, Bitcoin dapat ikut mengalami tekanan bersama saham teknologi dan aset berisiko lainnya. Bitcoin sempat bergerak di bawah 77 ribu dolar AS ketika pasar saham AS melemah setelah harga minyak dan yield Treasury meningkat. Namun, kenaikan harga minyak tidak selalu membuat Bitcoin turun karena pergerakannya juga dipengaruhi likuiditas, arus dana, sentimen pasar, dan berbagai faktor khusus dari pasar kripto.

    Harga minyak yang tinggi dapat memberikan tekanan kepada pasar melalui beberapa hal yang saling berkaitan. Biaya perusahaan dapat meningkat, inflasi dapat kembali terdorong, yield obligasi bisa naik, dan investor dapat menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Karena itu, pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika kita ingin memahami tekanan terhadap saham dan Bitcoin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More