Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BRI Konsisten Salurkan Kredit dengan Prinsip Kehati-hatian
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga momentum pertumbuhan kredit dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko yang disiplin. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memastikan ekspansi bisnis berjalan secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian. (Dok. BRI)
  • BRI menjaga pertumbuhan kredit secara sehat lewat asesmen risiko debitur, prospek usaha, kemampuan bayar, serta kondisi sektor yang dibiayai.
  • Pengelolaan risiko diperkuat dari underwriting, pemantauan portofolio berbasis data, hingga sistem peringatan dini, terutama untuk portofolio UMKM yang tersebar di Indonesia.
  • Kualitas aset membaik pada Maret 2026: NPL turun menjadi 3,01% dan LaR 9,67%, didukung NPL Coverage 179,45% serta LaR Coverage 55,75%.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BRI menjaga pertumbuhan penyaluran kredit dengan prinsip kehati-hatian, asesmen risiko, pemantauan portofolio, sistem peringatan dini, serta pencadangan risiko.
  • Who?
    PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menjalankan strategi tersebut. Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menyampaikan kebijakan pengelolaan risiko kredit perseroan.
  • Where?
    Strategi diterapkan dalam operasional BRI, termasuk pada portofolio kredit segmen UMKM yang nasabahnya tersebar di seluruh Indonesia.
  • When?
    BRI melaporkan rasio NPL membaik dari 3,07 persen pada akhir Desember 2025 menjadi 3,01 persen pada Maret 2026. Rasio LaR tercatat 9,67 persen pada Maret 2026.
  • Why?
    Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas kredit, mengendalikan risiko, memastikan ekspansi pembiayaan sehat dan berkelanjutan, serta mempertahankan fundamental dan permodalan perseroan.
  • How?
    BRI menerapkan underwriting disiplin, seleksi berdasarkan profil debitur dan sektor, monitoring on-site serta off-site, analisis data, early warning system, penanganan kredit khusus, dan kecukupan pencadangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times –  PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga momentum pertumbuhan kredit dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko yang disiplin. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memastikan ekspansi bisnis berjalan secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian.

Sebagai bank dengan fokus utama pada pemberdayaan segmen UMKM, BRI memandang pertumbuhan kredit tidak semata-mata diukur dari besarnya penyaluran pembiayaan, tetapi juga dari kualitas kredit yang dihasilkan. Oleh karena itu, setiap proses penyaluran kredit dilakukan dengan mempertimbangkan profil risiko debitur, prospek usaha, kemampuan membayar, serta kondisi sektor dan industri yang dibiayai. 

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengungkapkan bahwa prinsip kehati-hatian menjadi fondasi dalam setiap keputusan penyaluran kredit BRI. Penguatan kualitas aset dilakukan sejak tahap awal melalui proses underwriting yang disiplin, pemantauan kualitas kredit secara berkelanjutan, serta penerapan sistem early warning untuk mengidentifikasi potensi risiko sedini mungkin.

“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas. Kami memastikan setiap ekspansi kredit melalui proses asesmen risiko yang memadai sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Ety.

1. BRI menerapkan pendekatan yang selektif

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga momentum pertumbuhan kredit dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko yang disiplin. (Dok. BRI)

Dalam menjalankan strategi pertumbuhan, BRI menerapkan pendekatan yang selektif dengan mempertimbangkan karakteristik risiko pada setiap segmen dan sektor ekonomi. BRI juga terus menyempurnakan kebijakan perkreditan serta mekanisme monitoring portofolio agar tetap relevan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan profil risiko. Pendekatan tersebut memungkinkan BRI menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan tingkat risiko yang dapat diterima oleh bank.

Di sisi lain, pengelolaan risiko tidak berhenti setelah kredit disalurkan. BRI melakukan pemantauan portofolio secara berkala melalui pendekatan berbasis data untuk mendeteksi perubahan kualitas debitur maupun potensi tekanan pada sektor tertentu.

“Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” lanjut Ety.

2. Portofolio BRI didominasi segmen UMKM

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga momentum pertumbuhan kredit dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko yang disiplin. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memastikan ekspansi bisnis berjalan secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian. (Dok. BRI)

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting mengingat portofolio BRI yang didominasi segmen UMKM dengan karakteristik nasabah yang beragam dan tersebar di seluruh Indonesia. Dengan basis data dan pengalaman panjang di segmen UMKM, BRI terus meningkatkan kemampuan dalam memahami karakteristik dan profil risiko nasabah secara lebih granular.

Sebagai informasi, perbaikan kualitas aset BRI tersebut tercermin dari rasio NPL yang membaik secara Quarter on Quarter (qoq) dari posisi akhir Desember 2025 sebesar 3,07% menjadi 3,01% pada Maret 2026. Selain itu, salah satu indikator risiko kredit yang lebih forward-looking, yaitu rasio Loan at Risk (LaR) juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Rasio LaR turun dari 11,13% pada Maret 2025 menjadi 9,67% di Maret 2026, atau turun 145 basis poin.

3. Memastikan fundamental perseroan tetap kuat

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga momentum pertumbuhan kredit dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko yang disiplin. (Dok. BRI)

BRI juga secara konsisten menjaga kecukupan pencadangan dan permodalan sebagai bagian dari mitigasi risiko serta bantalan untuk menghadapi berbagai potensi tekanan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan fundamental perseroan tetap kuat dalam mendukung ekspansi bisnis ke depan.

Hal ini tecermin dari rasio NPL Coverage yang terjaga pada 179,45% dan rasio LaR Coverage pada 55,75%. Konsistensi tren yang stabil untuk dua rasio tersebut menggambarkan kedisiplinan dalam menjaga tingkat pencadangan risiko sebagai bagian dari implementasi manajemen risiko yang pruden. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article