BI Dorong Bank Himbara Jadi Bank Kliring Renminbi, Ini Tujuannya

- BI mendorong satu bank Himbara menjadi bank kliring renminbi kedua di Indonesia, mendampingi Bank of China, dengan target operasional paling lambat kuartal IV 2026.
- Kebijakan berlandaskan PADG Nomor 24 Tahun 2026 ini ditujukan memastikan likuiditas renminbi dan memperlancar penyelesaian transaksi langsung rupiah-renminbi di tengah perdagangan serta investasi Indonesia-China.
- Permintaan renminbi domestik mencapai setara 38,9 miliar dolar AS hingga Juli 2026, hampir menyamai proyeksi tahunan 40 miliar dolar AS, sehingga BI memperkuat pendalaman pasar valas dan LCT.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mengambil langkah strategis memperdalam pasar valuta asing domestik. Bank sentral mendorong salah satu bank BUMN anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi Renminbi Clearing Bank di Indonesia.
Kehadiran bank pelat merah ini bakal mendampingi Bank of China yang lebih dulu beroperasi. Langkah ini dirancang untuk memperkuat fondasi transaksi langsung antara mata uang renminbi (yuan) China dan rupiah.
1. Target operasional kuartal IV 2026

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat) Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono, menjelaskan People’s Bank of China (PBoC) sebelumnya telah menunjuk Bank of China sebagai bank kliring renminbi pertama di tanah air. Kini, giliran bank nasional dari kelompok Himbara yang sedang merampungkan proses administratif.
"BI mendorong bank nasional dari Himbara. Saat ini sedang melalui proses administrasi, sehingga nantinya akan ada dua Renminbi Clearing Bank di Indonesia," kata Thomas dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Thomas menargetkan operasional bank kliring renminbi dari kelompok Himbara tersebut dapat meluncur paling lambat pada kuartal IV 2026.
2. Urgensi bank kliring nasional dan regulasi baru

Thomas Djiwandono jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (IDN Times/Vadhia Lidyana) Penunjukan ini berlandaskan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) Nomor 24 Tahun 2026 yang dirilis BI pada 14 Agustus 2026 terkait rekomendasi bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).
Keberadaan bank kliring nasional sangat vital untuk menjamin ketersediaan likuiditas renminbi di pasar keuangan domestik. Kebutuhan ini melonjak seiring pesatnya aktivitas perdagangan dan investasi bilateral Indonesia-China.
"Fungsi Clearing Bank adalah memastikan ketersediaan likuiditas renminbi dan mendorong penyelesaian transaksi rupiah dengan renminbi secara langsung," ujar Thomas.
3. Permintaan renminbi melonjak tembus 38,9 miliar US Dollar

Ilustrasi perempuan memegang kartu kredit dan uang tunai dolar AS. (Freepik / benzoix) Thomas mengungkapkan, permintaan renminbi di pasar domestik telah mencapai 38,9 miliar dolar AS hingga Juli 2026. Angka tersebut sudah mendekati proyeksi BI untuk kebutuhan renminbi sepanjang tahun yang mencapai 40 miliar dolar AS.
“Juli aktual permintaan renminbi di pasar domestik setara 38,9 miliar dolar AS. Proyeksi kami secara internal di BI per tahun 40 miliar dolar AS. Jadi, per Juli saja sudah hampir 100 persen, sementara masih ada sekitar lima bulan lagi,” ungkap Thomas.
BI menilai tingginya permintaan tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap infrastruktur pasar renminbi yang semakin besar di dalam negeri.
Dengan masuknya bank Himbara ke dalam skema Renminbi Clearing Bank, BI berharap struktur pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) nasional semakin dalam. Kebijakan tersebut juga diharapkan memperkuat implementasi transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
“Ini suatu kebijakan untuk pendalaman pasar uang dan valas. Kebijakan ini juga untuk mendorong pendalaman tersebut, tetapi juga untuk mendukung stabilitas nilai tukar,” kata Thomas.





![[QUIZ] Dari MBTI, Ini Ide Bisnis yang Cocok untuk Kepribadian Introvert](https://image.idntimes.com/post/20240320/clay-banks-ox6sw103ktm-unsplash-474ffad107d58aa54aa53e1b1d562a46.jpg)












