CEK FAKTA: RI Bakal Impor KRL Bekas dari Jepang Lagi?

KAI menyatakan akan mengimpor KRL bekas dari Jepang sebagai solusi sementara kekurangan armada Commuter Line Jabodetabek, yang diproyeksikan mencapai sekitar 35 rangkaian pada 2026.
KAI telah meminta dispensasi impor barang bukan baru kepada Kemenperin, Kemendag, dan Kemenhub; Komisi VI DPR RI menyetujui pengajuan impor tersebut dalam rapat dengar pendapat.
Pengadaan KRL baru dari PT INKA belum memenuhi kebutuhan: dari 16 rangkaian pesanan sejak 2023, tujuh sempat ditarik dan sembilan belum selesai, sementara penggantian 87 rangkaian dibutuhkan hingga 2031.
Jakarta, IDN Times - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyatakan saat ini masih kekurangan armada kereta rel listrik (KRL) untuk mengangkut pengguna Commuter Line Jabodetabek.
KAI menyatakan, KAI Commuter atau KCI akan kekurangan sekitar 35 rangkaian kereta tahun ini. Sampai 2029, KCI harus melakukan penggantian 87 rangkaian kereta.
Untuk mengatasi sebagian kekurangan itu, KAI melakukan pengadaan KRL baru dari PT INKA (Persero). Namun, benarkah KAI akan kembali mengimpor KRL bekas dari Jepang? Berikut faktanya.
1. KAI butuh solusi cepat atasi kekurangan armada

Rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Rabu (23/9/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana) Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin meminta persetujuan Komisi VI DPR RI untuk melakukan impor KRL bekas dari Jepang sebagai solusi sementara pemenuhan kebutuhan armada kereta untuk melayani pengguna Commuter Line.
"Sebagai solusi bridging-nya, untuk pemenuhan sarana pada hari ini, yang akan kita utilisasi paling maksimum itu 10 tahun ke depan, itu dengan melakukan impor kereta bukan baru dari Jepang," kata Bobby dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Rabu, (23/9/2026).
Dia mengatakan, impor KRL bekas dari Jepang perlu dilakukan, mengingat sistem perkeretaapian Indonesia memakai sistem perkeretaapian yang sama dengan Jepang, baik dari sistem rel, lebar jalur, maupun sistem kelistrikan dan Listrik Aliran Atas (LAA).
"Sistem perkeretaapian kita di sini itu cocok dengan sistem perkeretaapian yang ada di Jepang. Kita tidak bisa impor dari tempat yang lain karena memang sistemnya berbeda," tutur Bobby.
Dengan demikian, informasi KAI mau melakukan impor KRL bekas dari Jepang lagi adalah fakta.
2. Minta dispensasi impor dari kementerian

Ilustrasi KRL Jabodetabek. (Dok. KAI Commuter) Untuk mewujudkan impor itu, KAI sudah meminta kelonggaran impor alat transportasi bukan baru alias bekas.
"Impor bukan baru, engagement dan audiensi dengan Kemenperin, Kemendag, Kemenhub sudah kami lakukan, untuk penerbitan dispensasi impor barang bukan baru," tutur Bobby.
Komisi VI DPR RI pun menyetujui pengajuan impor KRL bekas oleh KAI dalam RDP tersebut.
3. Kapasitas produksi PT INKA belum memadai

KRL buatan PT INKA (Persero). (dok. KAI Commuter) Bobby mengatakan, pihaknya sudah memesan 16 rangkaian KRL baru dari PT INKA sejak 2023. Namun, baru tujuh rangkaian yang diselesaikan. Sayangnya, tujuh rangkaian itu sempat ditarik akibat adanya temuan masalah, dan harus melalui perawatan intensif.
Pengoperasian kembali rangkaian yang ditarik itu pun dilakukan secara bertahap sejak Sabtu, (19/9) kemarin menunggu pemeriksaan selesai.
Sementara, sembilan rangkaian lainnya belum selesai dibuat PT INKA, dan sudah melewati tenggat waktu lebih dari satu tahun.
Bobby mengatakan, hingga saat ini PT INKA baru bisa memproduksi tiga rangkaian KRL per tahun. Sementara, kekurangan armada KRL bertambah setiap tahunnya.
“Di 2027 minus 3, 2028 minus 7, paling tinggi itu 2029 ketika trainset-trainset kita sudah berumur, 45 ini kita harus ganti, spare part sudah tidak ada, dia sudah mulai fatigue, maka 2029 dari 92 trainset, 45 kita harus ganti. Sehingga sampai tahun 2031, kita harus mengganti 87 trainset,” kata Bobby.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















