Jakarta, IDN Times - CEO dan Co-Founder Paper.id, Yosia Sugialam mengatakan, dalam membangun kepercayaan bisnis sebuah perusahaan teknologi, harus mampu meyakinkan pengguna, bahwa layanan yang mereka tawarkan dapat dipercaya.
Menurut Yosia, tidak mungkin bagi pemilik aplikasi tidak bisa melihat data yang ada di dalamnya. Sehingga pemilik juga harus bertanggung jawab terhadap data yang berada di dalam sistemnya.
“Jadi, sebenarnya sebagai yang bikin aplikasi sendiri, saya dan Marshall pasti juga harus meyakinkan yang pake kita, bahwa kita ini bisa dipercaya,” kata Yosia dalam acara sesi Leap Lab pada acara Indonesia Summit 2026 by IDNTimes di Tribrata, Jakarta Selatan, Rabu (17/06/2026).
Yosia menjelaskan perusahaan tetap harus memiliki kemampuan untuk memulihkan data dan menyelesaikan persoalan ketika terjadi kendala pada sistem. Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan pengguna.
“Walaupun kita encrypt siapa segala macam dan sebagainya, tapi kalau ada apa-apa kita harus bisa recover,” lanjut dia.
Yosia mengakui perjalanan membangun kepercayaan terhadap Paper.id tidak berlangsung mudah. Pada masa awal berdiri, bahkan masih banyak orang yang mengira perusahaan tersebut menjual kertas.
"Karena awalnya kita aja udah dipikir jualan kertas gitu ya. Ada orang beneran nanya ke kita, karena saya pegang CS-nya Paper empat tahun pertama lima tahun pertama. Nomor WhatsApp saya tuh sering ditanya, Pak, ini ada A4, A5, atau A4 gitu,” kata dia.
Namun, Yosia meyakini kepercayaan hanya bisa diperoleh melalui konsistensi dan kepatuhan terhadap aturan. Menurutnya, perusahaan harus menjalankan bisnis secara resmi dan bekerja sama dengan lembaga yang kredibel.
“Tapi akhirnya saya selalu percaya, ngebangun trust itu satu, kitanya nggak aneh-aneh. Kita juga comply dan oke semua, kerja sama sama bank, Peruri, dan semua resmi semua,” ujar dia.
Yosia pun mengingatkan bahwa kepercayaan tidak dapat dibangun secara instan, terutama ketika perusahaan menghadirkan inovasi baru yang belum familiar di masyarakat.
"Jangan berharap trust itu akan terjadi instant. Nggak mungkin sih. Apalagi kalau kita pushing boundary, sebagai sesuatu yang baru," ujarnya.
Lebih lanjut, Yosia menegaskan, kepercayaan pelanggan harus menjadi prioritas utama perusahaan. Sebab, dukungan investor maupun mitra akan datang setelah pelanggan percaya terhadap produk yang ditawarkan.
"Saya kan selalu bilang ke teman-teman, dapetin dulu trust-nya customer, tetap nomor satu. Nggak ada customer, nggak ada investor kita. Nggak ada customer, nggak ada bank mau join sama kita," tutur Yosia.
