Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
China Ancam Balas Rencana Pembatasan Dagang Baru Uni Eropa
Bendera China (unsplash.com/runningchild)
  • China menegaskan siap merespons tegas rencana pembatasan dagang baru Uni Eropa, yang dinilai proteksionis dan berpotensi mengganggu stabilitas pasar serta negosiasi bilateral.

  • Usulan pengetatan aturan terhadap produk China berasal dari Jerman dan Prancis, yang mendesak Komisi Eropa mempercepat mekanisme pembatasan baru mirip sistem pemeriksaan dagang Amerika Serikat.

  • Beijing menyiapkan pemeriksaan perlakuan tidak adil, evaluasi keamanan rantai pasok, dan penyelidikan aliran dana asing sebagai opsi balasan atas potensi pembatasan Eropa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China pada Rabu (30/9/2026), secara resmi menegaskan kesiapannya untuk merespons tegas setiap rencana pembatasan dagang baru dari Uni Eropa. Peringatan diplomatik ini muncul seiring meningkatnya ketegangan kebijakan perdagangan antara Beijing dan Brussels.

Perselisihan terbaru ini dipicu oleh dorongan sejumlah negara anggota Uni Eropa yang ingin mengesahkan aturan dagang yang lebih ketat. Jika tidak segera diselesaikan melalui negosiasi, konflik kebijakan tersebut berisiko melemahkan prospek kerja sama ekonomi kedua kawasan.

1. Kecaman China atas ancaman stabilitas pasar bilateral

Ilustrasi kapal kargo yang melintasi jalur perdagangan laut internasional (pexels.com/Reco Alleyne)

Kementerian Perdagangan China secara terbuka mengecam laporan penyusunan aturan baru negara-negara Eropa yang khusus membidik produk dari Beijing. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk proteksionisme sepihak yang berisiko mengganggu stabilitas pasar kedua wilayah.

Pemerintah China menganggap peningkatan tekanan dari Brussels dapat merusak suasana diplomasi ekonomi di tengah proses negosiasi yang sedang berjalan. Tekanan kebijakan dagang ini dinilai mencederai rasa saling percaya dan mengacaukan keseluruhan agenda pembicaraan kedua pihak.

Petinggi otoritas perdagangan China juga menyoroti bahaya perpecahan ekonomi global akibat kebijakan ini.

"China tidak ingin melihat Uni Eropa membatasi pasarnya, karena hal itu pada akhirnya akan memicu aksi saling menutup pasar di seluruh dunia," kata Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, dilansir AOL.

2. Rencana aturan sepihak dari Jerman dan Prancis

ilustrasi perdagangan internasional (pexels.com/Julius Silver)

Wacana pengetatan aturan dagang terhadap produk China bermula dari dokumen usulan Jerman dan Prancis. Kedua negara utama Uni Eropa tersebut tengah menyelesaikan draf yang mendesak Komisi Eropa agar mempercepat pembentukan aturan pembatasan barang yang baru.

Kebijakan baru yang dirancang tersebut dilaporkan meniru sistem pemeriksaan dagang Amerika Serikat untuk membatasi persaingan di pasar internasional. Rencana penerapan mekanisme sepihak ini langsung memicu kritik tajam dari kalangan pakar hukum internasional. Mereka menilai langkah blok negara Eropa tersebut bertolak belakang dengan sikap mereka selama ini.

"Uni Eropa pernah menjadi korban aturan pembatasan Amerika Serikat dan kerap mengkritiknya, namun kini mereka justru menirunya untuk menekan negara lain," ujar Direktur Pusat Penelitian Hukum WTO, Shi Xiaoli.

3. Persiapan balasan dan ancaman bagi rantai pasok industri

ilustrasi perdagangan internasional (unsplash.com/william wiliiam)

Menghadapi potensi pembatasan dari pihak Eropa, Pemerintah China telah menyiapkan berbagai instrumen balasan guna melindungi kepentingan industri dalam negerinya. Pilihan balasan tersebut mencakup pemeriksaan perlakuan tidak adil, evaluasi keamanan rantai pasok, hingga penyelidikan dampak aliran dana asing.

Para pakar mengingatkan bahwa langkah sepihak ini berisiko memicu kerugian ekonomi nyata bagi kedua kawasan. Hal ini tidak terlepas dari tingginya ketergantungan rantai pasok barang industri yang mengikat China dan Eropa saat ini. Oleh karena itu, Brussels dituntut lebih bijak dalam merumuskan kebijakan ekonominya agar kerugian besar dapat dihindari.

"Hubungan ekonomi dan perdagangan China-Uni Eropa saat ini lebih membutuhkan upaya untuk menyelesaikan perbedaan, bukan malah menciptakan masalah baru," tegas Peneliti Senior Chinese Academy of International Trade and Economic Cooperation, Zhou MI.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article