China Tawarkan Teknologi untuk Pengolahan Logam Tanah Jarang Malaysia

- Malaysia memiliki cadangan logam tanah jarang sebesar 16,1 juta ton metrik dengan nilai sekitar 175 miliar dolar AS.
- Dengan fasilitas pengolahan yang sudah mapan, terutama melalui Lynas Malaysia, negara ini kini menyumbang sekitar 11 persen dari pasokan logam tanah jarang dunia.
Jakarta, IDN Times – China menyatakan siap membantu Malaysia dengan dukungan teknis dan teknologi dalam pengolahan logam tanah jarang (REE), tetapi kerja sama itu hanya boleh melibatkan perusahaan milik pemerintah. Komitmen tersebut disampaikan Presiden China, Xi Jinping, saat kunjungan kenegaraan ke Kuala Lumpur pada 15–17 April 2025 lalu yang membahas rencana penguatan industri mineral penting.
Dorongan ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan global akan mineral strategis untuk elektronik, kendaraan listrik, hingga peralatan pertahanan. Diskusi ini masih pada tahap awal dan belum ada nota kesepahaman atau kesepakatan resmi yang ditandatangani antara Malaysia dan China.
Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Alam Sekitar Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, menyinggung langsung permintaan Xi.
“Mengingat pentingnya perlindungan teknologi bagi Tiongkok, beliau (Xi) meminta agar kerja sama hanya melibatkan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan pemerintah,” ucapnya, dikutip dari CNA.
Ia menambahkan, peluang tersebut membuka jalan baru bagi Malaysia untuk memperkuat posisi industri logam tanah jarang di kawasan.
Jika rencana ini berjalan, Malaysia berpotensi menjadi satu-satunya negara di luar China yang memiliki fasilitas pengolahan berbasis teknologi China. Negara itu juga akan menjadi unik karena mengoperasikan dua jalur berbeda, yakni pabrik China dan non-China, termasuk fasilitas Lynas Malaysia di Pahang yang merupakan milik Lynas Rare Earths asal Australia. Pabrik Lynas selama ini dikenal sebagai pengolahan logam tanah jarang terbesar di dunia di luar China.
1. Malaysia tetapkan strategi ketat dalam pengelolaan sumber daya

Dilansir dari The Star, Departemen Mineral dan Geosains Malaysia (JMG) pada 2019 memperkirakan cadangan logam tanah jarang nasional mencapai 16,1 juta ton metrik dengan nilai sekitar 175 miliar dolar AS (setara Rp2,86 kuadriliun). Namun, angka ini masih memerlukan eksplorasi tambahan untuk menentukan volume yang benar-benar bisa ditambang. Demi menjaga ekosistem, pemerintah melarang keras aktivitas tambang di hutan permanen, kawasan sensitif, maupun area konservasi.
Selain itu, Malaysia telah menetapkan larangan ekspor logam tanah jarang mentah dan hanya memperbolehkan bahan yang sudah diproses untuk dikirim ke luar negeri. Kebijakan ini ditujukan untuk melindungi sumber daya sekaligus mendorong tumbuhnya industri dalam negeri.
Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Tengku Zafrul Abdul Aziz, dalam wawancaranya dengan Malay Mail menyebut langkah itu diharapkan mampu menarik investor, membuka lapangan kerja, dan mempercepat transfer teknologi.
Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Alam Sekitar juga memprioritaskan penambangan ion-adsorption clay rare earth elements. Jenis mineral ini relatif lebih mudah diolah dan mengandung elemen berat berharga seperti disprosium dan terbium yang penting untuk turbin angin serta kendaraan listrik. Analis ISIS Kuala Lumpur, Qarrem Kassim, menilai kebijakan ini mencerminkan sikap tegas negara.
“Menerapkan larangan eksport ini secara sama rata kepada semua pihak adalah isyarat bahawa Malaysia bersedia untuk melaksanakan agensi geoeconominya untuk mengutamakan keperluan pembangunannya sendiri,” katanya, dikutip dari SCMP.
2. Malaysia perkuat posisi dalam rantai pasok global

Dengan fasilitas pengolahan yang sudah mapan, terutama melalui Lynas Malaysia, negara ini kini menyumbang sekitar 11 persen dari pasokan logam tanah jarang dunia. Kapasitas tersebut memberi peluang bagi Malaysia untuk terus memperbesar kontribusinya di rantai pasok global. Posisi ini juga membuat Malaysia kian strategis bagi Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Jepang yang tengah mencari pemasok alternatif di tengah konflik dagang AS–China.
CEO Asia-Pacific Economics, Rajiv Biswas, menyoroti peran penting fasilitas Lynas. Ia menjelaskan bahwa pada 2025 pabrik tersebut semakin krusial bagi negara Barat dan perusahaan internasional. Menurutnya, hal ini sejalan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan China sekaligus memastikan ketersediaan mineral penting secara lebih aman.
3. China hadapi tantangan dominasi teknologi dan ekspor

China saat ini menguasai lebih dari 60 persen produksi tambang logam tanah jarang global dan 90 persen pengolahannya. Namun, pada April lalu, Beijing menerapkan pembatasan ekspor terhadap tujuh jenis logam tanah jarang dan magnet permanen sebagai respons atas tarif dari AS. Setelah pertemuan dengan pejabat AS di London pada Juni, Kementerian Perdagangan China berjanji mempercepat persetujuan izin ekspor, yang akhirnya mendorong ekspor magnet permanen mencapai puncaknya dalam enam bulan terakhir pada Juli.
Walau terbuka menanamkan modal di sektor hilir Malaysia, larangan ekspor teknologi pemurnian dari China tetap membatasi ruang kerja sama. Malaysia membutuhkan teknologi canggih dalam pemurnian, sentrifugasi, hingga transportasi untuk bisa membangun industri logam tanah jarang dalam kurun dua hingga empat tahun. Profesor keuangan di Universitas Fudan Shanghai, Charles Chang, menilai hal ini sebagai kendala yang harus segera diatasi.
Pemerintah Malaysia kini mempercepat pembangunan rantai pasok dalam negeri dengan mengumumkan rencana dua pabrik pengolahan baru. Kepala penasihat teknologi di Applied Research and Development Centre Malaysia, Nordin Ramli, mempublikasikan kabar tersebut melalui LinkedIn pada bulan ini. Langkah itu dipandang sebagai upaya konkret untuk mengejar ketertinggalan teknologi dan memperkuat kapasitas domestik.