Dadan Pamer BGN Salah Satu Badan dengan Realisasi Anggaran Terbesar

- Realisasi anggaran program makan bergizi gratis (MBG) mencapai Rp17,398 triliun hingga 19 Januari 2026.
- 70% dana untuk pembelian bahan baku, 20% untuk biaya operasional, dan 10% untuk insentif mitra program MBG.
- Program MBG telah menyasar 55,8 juta penerima manfaat dan mengalami perkembangan signifikan sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025.
- Jumlah SPPG meningkat menjadi 21,102 unit dari awal pembentukannya yang hanya 570 ribu penerima manfaat.
- Menteri Koordinator Bidang Pangan meyakini program MBG bisa menggerakan ekonomi rakyat dengan menampung produk UMKM.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengungkapkan, realisasi anggaran program makan bergizi gratis (MBG) sudah mencapai Rp17,398 triliun hingga Senin (19/1/2026). Adapun dana operasional harian telah mencapai Rp855 miliar yang mengalir dari kas negara ke seluruh satuan pelayanan pemenuhan gizi nasional (SPPG) yang tersebar di hampir semua provinsi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Dadan Hindayana dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Ia pun meyakini, BGN menjadi salah satu badan setara kementerian yang berhasil merealisasikan angaran sebesar itu.
"Dana operasional harian, hari ini itu sudah mencapai 855 miliar dan realisasi anggaran sampai hari ini sudah mendekati 18 triliun. Jadi 17,398 triliun itu per 19 Januari per pagi ini sudah mendekati 18 triliun. Jadi ini mungkin salah satu badan setara kementerian yang sudah merealisasikan anggaran sebesar itu," kata Dadan dalam rapat tersebut.
1. Pembangunan infrastruktur SPPG dibiayai mitra

Dadan menambahkan, anggaran triliunan rupiah ini turun langsung dari kas negara ke SPPG. Adapun, dari jumlah dana tersebut, sekitar 70 persen akan digelontorkan untuk pembelian bahan baku program MBG, 20 persen untuk biaya operasional, dan 10 persen lainnya untuk insentif bagi seluruh mitra yang bergabung dalam program MBG.
Kendati, Dadan memastikan tidak ada satu rupiah pun anggaran BGN yang digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur SPPG. Karena 100 persen infrastruktur SPPG dibiayai mitra.
"Perlu saya sampaikan bahwa 21.102 SPPG yang sudah berdiri dan operasional 100 persen dibiayai mitra. Jadi belum ada uang negara di dalam pembangunan infrastruktur BGN untuk SPPG," kata Dadan.
2. Perjalanan MBG sejak awal pembentukan tahun lalu

Lebih jauh, Dadan melaporkan perjalanan program MBG sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025. Ia mengatakan, program MBG terus mengalami perkembangan yang signifikan.
Dadan menjelaskan, hari ini, program MBG telah menyasar 55,8 juta penerima manfaat, naik signifikan dari awal pembentukannya yang hanya menyasar 570 ribu penerima manfaat. Selanjutnya, jumlah SPPG juga mengalami kenaikan yang signifikan sebanyak 19,188 ribu dari awal pembentukannya, sebesar 21,102 unit.
"Program pada tahun 2026 sudah kita mulai dan kita lakukan launching untuk tahun 2026 pada 8 Januari dengan total SPPG 19.188 dan perlu ibu bapak ketahui hari ini jumlah SPPG kita per tanggal 19 Januari malam itu kurang lebih 21.102 SPPG dan sudah bisa menjangkau 88,3 juta penerima manfaat," kata dia.
3. Zulhas meyakini MBG gerakkan ekonomi rakyat

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) meyakini, program MBG bisa menggerakan ekonomi rakyat. Apalagi dengan target penerima MBG sebesar 82,9 juta maka diharapkan bisa mendorong permintaan kebutuhan pangan.
"Bayangkan kalau ada 82,9 juta penerima manfaat, kalau kita butuh telur satu hari satu, maka kita membutuhkan 82,9 juta butir telur, bayangkan dampaknya. Kalau kita perlu ikan satu potong satu hari berarti kita perlu 82,9 juta potong ikan, bayangkan dampaknya ke tambak-tambak rakyat," kata Menteri yang juga ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
"Pendek kata ini akan menggerakan ekonomi rakyat," imbuhnya.
Ia mengatakan, di dalam aturan tata kelola MBG, SPPG harus menampung produk hasil UMKM, koperasi dan Badan Usaha Desa. Dengan begitu, MBG diharapkan bisa menggerakan ekonomi pedesaan secara berkelanjutan.

















