Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang bertahan di atas 90 dolar AS per barel. Ibrahim mengatakan kondisi tersebut dapat berdampak terhadap perekonomian Indonesia.
"Dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal," tuturnya.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel. Namun, harga ICP pada Juli 2026 sudah mencapai 81,68 dolar AS per barel.
Menurut Ibrahim, harga ICP di kisaran 80-90 dolar AS per barel masih dapat dikelola jika kenaikannya hanya berlangsung sementara. Namun, tekanan terhadap APBN berpotensi semakin besar apabila harga ICP bertahan di kisaran 90-100 dolar AS per barel atau lebih selama beberapa bulan.
"Harga minyak dunia yang bertahan di atas 90 dolar AS per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia," ujar dia.