Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Data Ekonomi AS dan Minyak Mentah Tekan Rupiah ke Rp17.978
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah 0,42 persen ke Rp17.978 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin.

  • Pasar mencermati data PCE, ISM Manufacturing PMI, dan NFP dari Amerika Serikat.

  • Kenaikan harga minyak di atas 90 dolar AS per barel menambah tekanan terhadap rupiah dan APBN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2026

Dalam APBN 2026, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebesar 70 dolar AS per barel.

Juli 2026

Harga ICP mencapai 81,68 dolar AS per barel.

Senin (28/9/2026)

Rupiah melemah ke level Rp17.978 per dolar AS pada penutupan perdagangan.

Rabu

Data Personal Consumption Expenditures dijadwalkan dirilis dan menjadi salah satu perhatian pasar.

Kamis

Pasar menunggu data ISM Manufacturing PMI yang menggambarkan kondisi sektor manufaktur AS.

Jumat

Perhatian pasar beralih ke Nonfarm Payrolls yang menunjukkan perubahan jumlah tenaga kerja baru di AS di luar sektor pertanian.

Selasa (29/9/2026)

Rupiah diperkirakan bergerak naik-turun di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nilai tukar rupiah melemah 75 poin atau 0,42 persen menjadi Rp17.978 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
  • Who?
    Rupiah dan pelaku pasar menjadi perhatian, sementara pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memberikan perkiraan dan penjelasan.
  • Where?
    Perdagangan rupiah terhadap dolar AS berlangsung di pasar valuta asing Indonesia.
  • When?
    Penutupan perdagangan terjadi pada Senin (28/9/2026), dengan perkiraan perdagangan berikutnya pada Selasa (29/9/2026).
  • Why?
    Tekanan datang dari perhatian pasar terhadap data ekonomi AS dan kenaikan harga minyak dunia di atas 90 dolar AS per barel.
  • How?
    Rupiah dibuka di Rp17.948, bergerak pada Rp17.936 hingga Rp18.005, lalu ditutup di Rp17.978 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rupiah melemah saat ditukar dengan dolar Amerika. Pada Senin, nilainya menjadi Rp17.978 per dolar. Ibrahim Assuaibi bilang orang-orang pasar sedang menunggu data ekonomi Amerika dan melihat harga minyak yang lebih dari 90 dolar. Untuk Selasa, rupiah diperkirakan bergerak naik-turun di sekitar Rp17.900 sampai Rp17.950.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pergerakan rupiah masih disertai pemantauan terhadap sejumlah indikator penting, seperti PCE, ISM Manufacturing PMI, dan NFP. Informasi tersebut memberi pelaku pasar bahan untuk membentuk ekspektasi menjelang pertemuan The Fed. Di sisi lain, harga ICP pada kisaran 80-90 dolar AS per barel masih dinilai dapat dikelola jika kenaikannya sementara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026). Rupiah melemah ke level Rp17.978 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 75 poin atau 0,42 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya Rp17.903 per dolar AS. Rupiah sempat dibuka di Rp17.948 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak ke Rp17.936 hingga Rp18.005 per dolar AS.

1. Data ekonomi AS jadi perhatian pasar

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari AS yang dirilis pekan ini.

Salah satunya adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada Rabu. PCE merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perubahan harga barang dan jasa yang dibeli masyarakat.

Setelah itu, pasar akan menunggu data ISM Manufacturing PMI pada Kamis. Data tersebut menggambarkan kondisi sektor manufaktur AS. Pada Jumat, perhatian pasar beralih ke Nonfarm Payrolls (NFP) yang menunjukkan perubahan jumlah tenaga kerja baru di AS di luar sektor pertanian.

"Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan," kata dia.

2. Harga minyak di atas 90 dolar AS beri tekanan ke APBN

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang bertahan di atas 90 dolar AS per barel. Ibrahim mengatakan kondisi tersebut dapat berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

"Dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal," tuturnya.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel. Namun, harga ICP pada Juli 2026 sudah mencapai 81,68 dolar AS per barel.

Menurut Ibrahim, harga ICP di kisaran 80-90 dolar AS per barel masih dapat dikelola jika kenaikannya hanya berlangsung sementara. Namun, tekanan terhadap APBN berpotensi semakin besar apabila harga ICP bertahan di kisaran 90-100 dolar AS per barel atau lebih selama beberapa bulan.

"Harga minyak dunia yang bertahan di atas 90 dolar AS per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia," ujar dia.

3. Rupiah diperkirakan bergerak melemah pada Selasa

Untuk perdagangan Selasa (29/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak naik-turun. Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Curated For You

Editorial Team

Related Article