Rupiah Melemah, BI Ungkap Tiga Tekanan Utama

- Rupiah melemah 85 poin atau 0,48 persen ke Rp17.843 per dolar AS pada 21 September 2026, dipicu tensi Timur Tengah, minyak di atas 100 dolar AS, kebutuhan valas importir, dan arus modal keluar.
- Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui pengelolaan suku bunga pasar uang, penguatan operasi moneter, transaksi swap lindung nilai, serta intervensi NDF offshore, spot, dan DNDF domestik.
- BI juga membeli SBN di pasar sekunder, mendorong modal asing dan diversifikasi valas melalui LCT. Cadangan devisa akhir Agustus mencapai 146,5 miliar dolar AS, sementara rupiah QTD menguat 0,37 persen.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang menekan nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (21/9/2026). Hingga pukul 14.47 WIB, rupiah berada di level Rp17.843 per dolar AS atau melemah 85 poin atau 0,48 persen.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak kemudian meningkatkan risiko inflasi global dan memberikan tekanan terhadap outlook fiskal.
" Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel," kata Erwin dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
1. BI hadir di pasar untuk pastikan mekanisme pasar berjalan baik

Ilustrasi Bank indonesia (bi.go.id) Selain faktor geopolitik dan harga minyak, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir serta arus keluar dana dari aset portofolio domestik. Meski demikan, Erwin menegaskan BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik serta memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.
" BI melakukan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market, serta memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif," tegasnya.
2. Optimalkan transaksi DNDF -NDF

Logo Bank Indonesia Sementara itu, di pasar valas, BI akan terus melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan.
BI juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar. Langkah tersebut dilakukan antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan.
3. Secara year to date, rupiah menguat 0,37 persen

Ilustrasi Rupiah Melemah ke USD (Foto: ANTARA) Di sisi lain, BI mendorong diversifikasi kebutuhan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Meski rupiah masih menghadapi tekanan, BI mencatat pergerakannya secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.
"Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat menguat 0,37 persen," ucapnya.
Posisi cadangan devisa Indonesia juga masih meningkat. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat mencapai 146,5 miliar dolar AS.
Dengan demikian, BI menegaskan, akan terus melakukan stabilisasi secara konsisten dan berkesinambungan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















