Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Daya Tarik Patakbanteng, Desa Bakti BCA Baru di Lereng Gunung Prau
Patakbanteng, permata Dieng yang jadi Desa Bakti BCA terbaru (dok. BCA)
  • Desa Patakbanteng di lereng Gunung Prau resmi menjadi desa wisata binaan Bakti BCA, menawarkan panorama alam pegunungan dan budaya lokal yang masih terjaga.
  • Patakbanteng dikenal dengan tradisi Baritan Terang Bulan dan Tari Patak Lengger yang terus dilestarikan, menambah daya tarik wisata budaya bagi pengunjung.
  • UMKM lokal seperti olahan carica, purwoceng, dan kentang Dieng menjadi penggerak ekonomi desa, didukung program Bakti BCA untuk peningkatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Dataran Tinggi Dieng kembali menghadirkan destinasi wisata yang menarik perhatian. Kali ini, Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, resmi diperkenalkan sebagai desa wisata binaan terbaru Bakti BCA.

Terletak di lereng Gunung Prau, desa ini menawarkan perpaduan panorama alam pegunungan, budaya lokal yang masih terjaga, hingga geliat ekonomi masyarakat yang berkembang melalui sektor pariwisata. Tak heran jika Patakbanteng masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dan meraih Juara 1 kategori Resiliensi.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn menilai desa tersebut memiliki prospek besar untuk berkembang.

“BCA berkomitmen untuk meningkatkan daya tarik wisata dan mengakselerasi perekonomian lokal secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kami senantiasa mendorong setiap Desa Bakti BCA untuk menonjolkan karakteristik uniknya. Melalui strategi pendampingan menyeluruh, mulai dari pembinaan, peningkatan kapasitas SDM, hingga perluasan akses pasar, kami ingin memastikan seluruh desa binaan dapat naik kelas menjadi komunitas yang unggul dan berdaya,” tutur Hera, dikutip Senin (15/6/2026).

Berikut sejumlah hal yang membuat Patakbanteng layak disebut sebagai permata baru Desa Bakti BCA.

1. Jalur favorit pendaki dengan panorama sunrise ikonik

Sunrise di Desa Patakbanteng, Dieng, Wonosobo (dok. BCA)

Berlokasi di kaki Gunung Prau pada ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut, Patakbanteng menjadi salah satu pintu masuk favorit bagi para pendaki. Desa ini dikelilingi panorama Gunung Pakuwaja, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan kawasan Dieng yang membuat udaranya sejuk sepanjang tahun.

Akses yang relatif mudah serta pemandangan golden sunrise menjadi daya tarik utama. Saat musim liburan panjang, jumlah wisatawan yang datang bisa mencapai lebih dari 25 ribu orang. Sepanjang 2025, desa ini bahkan mencatat lebih dari 122 ribu kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Untuk mendukung aktivitas wisata, masyarakat setempat menyediakan berbagai fasilitas seperti homestay, cabin, penyewaan perlengkapan outdoor, hingga pusat kuliner dan toko oleh-oleh.

2. Punya tradisi budaya yang masih hidup

Patakbanteng, permata Dieng yang jadi Desa Bakti BCA terbaru (dok. BCA)

Tidak hanya mengandalkan wisata alam, Patakbanteng juga dikenal karena kekayaan budaya yang terus dijaga oleh masyarakatnya.

Salah satu tradisi yang masih rutin digelar adalah Baritan Terang Bulan, upacara adat yang dilaksanakan setiap bulan Suro sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.

Selain itu, terdapat Tari Patak Lengger, tarian tradisional yang menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Tarian ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat maupun festival budaya sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Keberadaan budaya yang tetap lestari menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman autentik saat berkunjung ke Dieng.

3. UMKM lokal menjadi penggerak ekonomi desa

Patakbanteng, permata Dieng yang jadi Desa Bakti BCA terbaru (dok. BCA)

Patakbanteng juga memiliki sejumlah produk unggulan yang menjadi sumber penghasilan masyarakat. Salah satunya adalah olahan buah carica, komoditas khas Dieng yang diolah menjadi manisan dan oleh-oleh favorit wisatawan. Selain itu, masyarakat juga mengembangkan minuman herbal berbahan purwoceng yang dikenal sebagai "Ginseng Jawa".

Produk lain yang tidak kalah populer adalah aneka olahan kentang Dieng. Kentang berkualitas tinggi dari kawasan ini diolah menjadi berbagai camilan seperti keripik, kentang mustofa, hingga perkedel yang menjadi daya tarik kuliner lokal.

Ke depan, pengembangan Patakbanteng sebagai Desa Bakti BCA tidak hanya berfokus pada sektor wisata, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat. Bahkan pada 2026, desa ini terpilih menjadi lokasi pelaksanaan program Genera-Z Berbakti, yang melibatkan mahasiswa untuk mengembangkan berbagai inovasi sosial guna mendukung kemajuan desa.

Dengan kombinasi keindahan alam, kekayaan budaya, dan potensi ekonomi masyarakat, Patakbanteng kini bersiap menjadi salah satu destinasi unggulan baru di kawasan Dieng sekaligus contoh pengembangan desa wisata yang berkelanjutan.

Editorial Team

Related Article